Ceritra
Ceritra Warga

Lensa Realitas: Mengapa Dunia yang Kita Lihat di Layar Bukanlah Kenyataan Seutuhnya

Refa - Friday, 02 January 2026 | 12:00 PM

Background
Lensa Realitas: Mengapa Dunia yang Kita Lihat di Layar Bukanlah Kenyataan Seutuhnya
Ilustrasi Melihat Dunia Secara Langsung (Pinterest/)

Sering kali, media dianggap sebagai cermin yang memantulkan realitas sosial apa adanya. Masyarakat merasa bahwa apa yang mereka baca di portal berita atau tonton di televisi adalah gambaran utuh dari kejadian di lapangan. Namun, analogi yang lebih tepat bagi media sebenarnya bukanlah cermin, melainkan lensa atau prisma. Apa yang tersaji di layar kaca maupun gawai bukanlah rekaman murni dari kehidupan, melainkan hasil konstruksi yang telah melalui proses seleksi, pemotongan, dan pembingkaian ulang. Tanpa disadari, persepsi manusia terhadap dunia sangat ditentukan oleh narasi yang dikonsumsi setiap hari.

Distorsi realitas ini bermula dari ruang redaksi melalui mekanisme yang dikenal sebagai framing atau pembingkaian. Sebuah peristiwa tunggal dapat memiliki makna yang bertolak belakang tergantung pada sudut pandang pemberitaan yang dipilih. Aksi massa di jalanan, misalnya, bisa dinarasikan sebagai perjuangan heroik menuntut keadilan, atau sebaliknya, digambarkan sebagai gangguan ketertiban umum yang merugikan ekonomi. Melalui pemilihan kata, gambar, dan narasumber, media mengarahkan khalayak untuk menafsirkan peristiwa hanya dari satu sisi, menentukan siapa protagonis dan antagonis dalam sebuah cerita.

Selain membentuk opini, media juga memiliki kekuatan besar dalam menentukan prioritas publik melalui teori agenda setting. Media mungkin tidak selalu berhasil mendikte apa yang harus dipikirkan masyarakat, namun sangat sukses menentukan apa yang harus dipikirkan. Jika seluruh saluran berita membahas isu inflasi selama sepekan penuh, publik akan menganggap ekonomi sebagai masalah paling mendesak, sementara isu lain seperti krisis iklim atau kesehatan yang mungkin sama gentingnya—namun luput dari pemberitaan—seolah-olah lenyap dari kesadaran kolektif. Apa yang tidak diliput media sering kali dianggap "tidak ada" oleh masyarakat luas.

Di era digital, kompleksitas ini bertambah dengan hadirnya algoritma media sosial yang menggantikan peran editor manusia. Platform digital dirancang untuk menyajikan konten yang selaras dengan riwayat dan preferensi pengguna, menciptakan fenomena ruang gema atau echo chamber. Mekanisme ini memperkuat bias konfirmasi, di mana seseorang hanya terpapar pada informasi yang membenarkan keyakinan lamanya. Akibatnya, realitas terlihat terkotak-kotak. Dunia yang tampil di beranda media sosial satu orang bisa sangat berbeda dengan orang lain, memicu polarisasi karena hilangnya jembatan pemahaman antar kelompok yang berbeda pandangan.

Dampak psikologis dari paparan media jangka panjang juga tidak bisa diabaikan. Teori kultivasi menyebutkan bahwa "dunia media" perlahan menanamkan persepsi yang keliru tentang dunia nyata. Contoh paling nyata adalah Mean World Syndrome atau Sindrom Dunia Kejam. Individu yang terlalu banyak mengonsumsi berita kriminal cenderung memandang dunia jauh lebih berbahaya dan penuh ancaman daripada statistik sebenarnya. Di sisi lain, standar kecantikan dan kesuksesan yang tidak realistis di media sosial turut mendistorsi cara seseorang menilai diri sendiri, sering kali berujung pada ketidakpuasan hidup.

Pada akhirnya, media adalah arsitek utama realitas sosial di zaman modern. Informasi yang diterima publik bukan sekadar data mentah, melainkan narasi yang telah dikonstruksi. Menyadari adanya celah lebar antara "realitas media" dan "realitas sesungguhnya" merupakan fondasi dari literasi media. Kemampuan untuk mempertanyakan sumber, mengenali bias, dan mencari perspektif pembanding adalah tameng terbaik agar tidak terjebak dalam ilusi yang diciptakan oleh layar.

Logo Radio
🔴 Radio Live