Ceritra
Ceritra Warga

Bagaimana Gelombang Alfa Menentukan Batas Antara 'Aku' dan Dunia Luar

Nisrina - Thursday, 15 January 2026 | 12:45 PM

Background
Bagaimana Gelombang Alfa Menentukan Batas Antara 'Aku' dan Dunia Luar
Ilustrasi otak manusia. (Freepik/)

Pernahkah Anda berhenti sejenak untuk merenungkan sebuah fakta sederhana namun fundamental, yaitu bagaimana Anda bisa begitu yakin bahwa tangan yang sedang memegang ponsel saat ini adalah tangan Anda sendiri? Pertanyaan ini mungkin terdengar filosofis atau bahkan konyol bagi orang awam karena rasanya kita tidak perlu berpikir dua kali untuk mengenali anggota tubuh kita. Namun bagi para ahli neurosains, kepastian ini adalah sebuah keajaiban biologis yang rumit. Perasaan memiliki tubuh atau yang disebut sebagai sense of body ownership bukanlah sesuatu yang terberi begitu saja sejak lahir. Itu adalah konstruksi aktif yang terus-menerus dibangun oleh otak. Sebuah penelitian terbaru membuka tabir misteri ini dan menunjuk pada satu tersangka utama di dalam kepala kita, yakni gelombang otak alfa.

Gelombang alfa adalah osilasi elektrik di otak yang bergetar pada frekuensi sekitar 8 hingga 12 Hertz. Selama bertahun-tahun, gelombang ini sering disalahartikan hanya sebagai tanda bahwa seseorang sedang melamun atau beristirahat. Namun, pandangan modern dalam neurosains kognitif menempatkan gelombang alfa pada posisi yang jauh lebih strategis. Gelombang ini bertindak sebagai penjaga gerbang atau filter informasi. Ketika aktivitas gelombang alfa tinggi di suatu area otak, itu artinya area tersebut sedang "ditekan" atau diistirahatkan agar tidak memproses informasi yang tidak relevan. Sebaliknya, ketika gelombang alfa menurun atau mengalami desinkronisasi, itu adalah tanda bahwa otak sedang membuka pintu lebar-lebar untuk memproses informasi sensorik yang masuk.

Dalam konteks kepemilikan tubuh, para ilmuwan menggunakan eksperimen klasik yang dikenal sebagai Ilusi Tangan Karet atau Rubber Hand Illusion untuk memancing respons otak. Dalam eksperimen ini, tangan asli partisipan disembunyikan dari pandangan, sementara sebuah tangan karet palsu diletakkan di depan mereka. Peneliti kemudian membelai tangan asli dan tangan karet secara bersamaan dengan ritme yang sama. Hasilnya sungguh mengejutkan. Otak partisipan mulai tertipu dan mengadopsi tangan karet tersebut sebagai bagian dari tubuh mereka sendiri. Saat ilusi ini terjadi, rekaman aktivitas otak menunjukkan adanya penurunan drastis pada kekuatan gelombang alfa di area korteks parietal, yaitu bagian otak yang memproses sentuhan dan posisi tubuh.

Penurunan gelombang alfa ini menandakan bahwa otak sedang dalam keadaan hight alert atau sangat reseptif. Dengan melemahnya "penjagaan" dari gelombang alfa, otak menjadi lebih mudah menerima masukan visual (melihat tangan karet dibelai) dan menggabungkannya dengan sensasi taktil (merasakan tangan asli dibelai). Integrasi multisensor inilah yang menciptakan perasaan magis bahwa tangan palsu itu adalah milik mereka. Sebaliknya, ketika gelombang alfa tinggi, otak cenderung lebih skeptis dan memblokir informasi yang tidak sesuai, sehingga ilusi kepemilikan tubuh terhadap benda asing tidak akan terjadi. Temuan ini menegaskan bahwa rasa kepemilikan kita terhadap tubuh fisik ini sangat bergantung pada bagaimana otak mengatur lalu lintas informasi sensorik melalui naik turunnya gelombang alfa.

Implikasi dari penemuan ini meluas jauh melampaui sekadar eksperimen laboratorium yang unik. Pemahaman mendalam tentang peran gelombang alfa bisa menjadi kunci revolusioner dalam pengembangan teknologi prostetik atau kaki-tangan buatan. Salah satu tantangan terbesar bagi pengguna anggota tubuh bionik adalah perasaan asing terhadap alat tersebut, di mana mereka menganggapnya hanya sebagai alat bantu mekanis, bukan bagian dari diri mereka. Dengan merekayasa cara otak memproses sinyal melalui stimulasi gelombang alfa, ilmuwan berharap dapat membantu pasien amputasi untuk benar-benar merasa bahwa tangan robotik mereka adalah perpanjangan alami dari tubuh biologis mereka.

Selain itu, wawasan ini juga memberikan harapan baru bagi pemahaman gangguan kejiwaan seperti skizofrenia atau gangguan disosiatif, di mana pasien sering merasa terasing dari tubuh mereka sendiri atau merasa dikendalikan oleh kekuatan luar. Ketidakseimbangan dalam ritme gelombang alfa mungkin menjadi salah satu penyebab mengapa batasan antara diri sendiri dan dunia luar menjadi kabur pada pasien-pasien tersebut. Pada akhirnya, studi ini mengajarkan kita untuk lebih menghargai kerja keras otak. Keyakinan sederhana bahwa "ini adalah tubuhku" ternyata merupakan hasil dari orkestrasi rumit sinyal elektrik yang bekerja tanpa henti untuk menjaga integritas identitas fisik kita di dunia nyata.

Tags

Logo Radio
🔴 Radio Live