Ceritra
Ceritra Warga

Menguak Misteri Genetik Mengapa Manusia Kehilangan Ekor

Nisrina - Thursday, 15 January 2026 | 11:45 AM

Background
Menguak Misteri Genetik Mengapa Manusia Kehilangan Ekor
Ilustrasi teori evolusi manusia. (National Geographic/)

Salah satu perbedaan fisik yang paling mencolok antara manusia dan kerabat primata kita seperti monyet adalah ketiadaan ekor. Jika kita perhatikan sepupu jauh kita di kebun binatang, ekor berfungsi vital sebagai alat keseimbangan saat melompat dari satu dahan ke dahan lain, atau bahkan sebagai "tangan kelima" untuk memegang benda. Namun, manusia dan kera besar atau hominoid lainnya seperti simpanse, gorila, dan orangutan, justru berevolusi tanpa pelengkap tersebut. Selama bertahun-tahun, pertanyaan mengenai kapan dan bagaimana kita kehilangan ekor menjadi teka-teki evolusi yang rumit. Jawaban dari misteri ini akhirnya mulai terkuak bukan melalui fosil tulang belulang, melainkan melalui kode-kode mikroskopis di dalam tubuh kita, yaitu genetika.

Penelitian terbaru yang mendalam telah mengidentifikasi sebuah perubahan spesifik pada gen yang disebut TBXT sebagai biang keladi hilangnya ekor pada nenek moyang manusia. Sekitar 25 juta tahun yang lalu, sebuah mutasi genetik terjadi secara acak pada leluhur kera dan manusia. Mutasi ini bukanlah penghapusan gen yang sederhana, melainkan penyisipan potongan DNA asing yang dikenal sebagai elemen Alu. Elemen ini merupakan jenis "gen pelompat" atau transposon yang dapat berpindah-pindah di dalam genom. Dalam kasus gen TBXT, elemen Alu ini menyisip ke dalam bagian gen yang mengatur pembentukan ekor, yang secara efektif mematikan instruksi biologis untuk menumbuhkan anggota tubuh tersebut. Ibarat sebuah buku manual perakitan, ada satu halaman instruksi yang terlipat atau hilang sehingga hasil akhirnya berbeda dari cetakan aslinya.

Dampak dari penyisipan elemen genetik kecil ini ternyata sangat masif. Mekanisme ini mengganggu proses penyambungan atau splicing RNA, yang merupakan langkah krusial dalam menerjemahkan kode genetik menjadi protein. Akibat gangguan ini, protein yang seharusnya bertanggung jawab untuk pembentukan ekor menjadi lebih pendek atau tidak berfungsi sama sekali. Hal ini menjelaskan mengapa perubahan fisik yang begitu drastis bisa terjadi dalam waktu yang relatif singkat dalam skala waktu geologis. Perubahan ini begitu fundamental sehingga diturunkan kepada seluruh keturunan garis evolusi kera besar, memisahkan nasib kita selamanya dari kelompok monyet dunia lama yang masih mempertahankan ekor mereka hingga hari ini.

Namun, evolusi tidak pernah bekerja tanpa alasan atau konsekuensi. Hilangnya ekor diyakini berkaitan erat dengan perubahan gaya hidup nenek moyang kita yang mulai beralih dari berjalan merangkak di atas dahan menjadi bergerak lebih tegak. Tanpa ekor, otot-otot dasar panggul dapat berevolusi menjadi bentuk seperti tempat tidur gantung atau hammock yang kuat, yang mampu menopang berat organ-organ dalam saat tubuh berada dalam posisi vertikal. Adaptasi ini menjadi fondasi penting bagi kemampuan manusia untuk berjalan dengan dua kaki atau bipedalisme. Dengan kata lain, kita harus kehilangan ekor agar bisa berdiri tegak dan berjalan menjelajahi dunia dengan cara yang kita lakukan sekarang.

Meskipun demikian, mutasi ini bukannya tanpa harga mahal yang harus dibayar. Para ilmuwan menemukan bahwa mekanisme genetik yang sama yang menghilangkan ekor kita juga meninggalkan kerentanan pada sistem saraf manusia. Mutasi pada gen TBXT ini ternyata meningkatkan risiko cacat tabung saraf pada janin, suatu kondisi yang dikenal sebagai spina bifida. Ini adalah contoh nyata bahwa evolusi adalah serangkaian kompromi atau trade-off. Keuntungan biomekanik dari tubuh tanpa ekor dan kemampuan berjalan tegak harus ditebus dengan risiko kesehatan tertentu yang masih menghantui populasi manusia hingga saat ini. Fakta ini memberikan wawasan baru bahwa kesempurnaan tubuh manusia adalah hasil dari tawar-menawar biologis yang kompleks selama jutaan tahun.

Kini, satu-satunya sisa sejarah dari masa lalu kita yang berekor hanyalah tulang ekor atau coccyx yang tersembunyi di ujung bawah tulang belakang. Tulang kecil ini tidak lagi menonjol keluar, namun tetap berfungsi sebagai titik jangkar bagi beberapa otot panggul. Penemuan tentang peran gen TBXT dan elemen Alu ini tidak hanya menjawab rasa penasaran kita tentang asal-usul fisik manusia, tetapi juga membuka pintu pemahaman lebih luas tentang bagaimana perubahan kecil pada level DNA dapat mengubah takdir sebuah spesies secara drastis. Kita adalah makhluk yang dibentuk oleh mutasi acak di masa lalu, yang kemudian bertahan karena adaptasi luar biasa terhadap lingkungan yang terus berubah.

Tags

Logo Radio
🔴 Radio Live