Ceritra
Ceritra Warga

Mengungkap Kebiasaan Remeh yang Diam-Diam Merusak Kesehatan Tenggorokan

Nisrina - Thursday, 15 January 2026 | 10:45 AM

Background
Mengungkap Kebiasaan Remeh yang Diam-Diam Merusak Kesehatan Tenggorokan
Seorang pria mengalami sakit tenggrokan. (Freepik/)

Radang tenggorokan atau dalam istilah medis dikenal sebagai faringitis sering kali dianggap sebagai penyakit musiman yang datang sepaket dengan flu atau perubahan cuaca ekstrem. Ketika rasa gatal, perih, dan nyeri saat menelan mulai menyerang, mayoritas orang akan langsung menuding virus atau bakteri yang beterbangan di udara sebagai biang keroknya. Padahal, realitas medis menunjukkan bahwa kerentanan tenggorokan tidak selalu bermula dari serangan patogen eksternal yang ganas. Justru, pertahanan alami tubuh di area leher sering kali runtuh akibat serangkaian kebiasaan kecil yang kita lakukan setiap hari tanpa sadar. Analisis dari berbagai literatur kesehatan menunjukkan bahwa gaya hidup modern yang serba cepat dan lingkungan buatan yang kita ciptakan sendiri sering kali menjadi pemicu utama iritasi kronis pada saluran pernapasan atas, bahkan sebelum virus sempat mendekat.

Salah satu kebiasaan yang paling sering dilakukan namun jarang disadari dampaknya adalah bernapas melalui mulut, terutama saat sedang tidur atau berkonsentrasi tinggi. Secara anatomis, hidung diciptakan dengan sistem filtrasi canggih yang berfungsi menyaring debu, menghangatkan suhu udara, dan yang paling penting adalah melembapkan udara sebelum masuk ke paru-paru. Ketika seseorang bernapas melalui mulut, mekanisme perlindungan ini tidak berjalan. Udara kering dan kotor langsung menghantam dinding belakang tenggorokan. Kondisi ini sering terjadi pada mereka yang memiliki masalah hidung tersumbat, mendengkur, atau sekadar kebiasaan buruk saat tidur telentang. Akibatnya, mukosa atau lapisan lendir yang berfungsi melapisi tenggorokan menjadi kering kerontang. Tanpa lapisan pelindung yang lembap ini, jaringan tenggorokan menjadi sangat rapuh, mudah iritasi, dan menjadi ladang subur bagi bakteri untuk berkembang biak saat bangun tidur.

Masalah kekeringan ini diperparah dengan kebiasaan sepele kedua, yaitu kurangnya asupan cairan di tengah paparan udara pendingin ruangan atau AC yang intens. Banyak orang merasa bahwa mereka hanya perlu minum saat merasa haus, padahal sinyal haus adalah tanda bahwa tubuh sudah mulai mengalami dehidrasi ringan. Di lingkungan kantor atau kamar tidur yang ber-AC, kelembapan udara ditarik secara drastis. Jika hal ini tidak diimbangi dengan hidrasi yang cukup, produksi air liur dan lendir di tenggorokan akan menurun signifikan. Air liur bukan sekadar air, melainkan mengandung enzim antibakteri dan protein yang berfungsi membersihkan serta melindungi jaringan lunak mulut dan tenggorokan. Mengabaikan botol minum di meja kerja sama artinya dengan melucuti senjata pertahanan tubuh kita sendiri, membiarkan tenggorokan terekspos tanpa perlindungan terhadap partikel iritan.

Selain faktor udara dan air, cara kita menggunakan suara juga menjadi kontributor utama radang tenggorokan non-infeksius. Sering kali tanpa sadar kita melakukan throat clearing atau berdeham keras untuk membersihkan rasa gatal di tenggorokan. Padahal, tindakan mekanis ini ibarat mengamplas pita suara dan dinding tenggorokan yang sedang sensitif. Berdeham menciptakan gesekan keras yang justru memperparah iritasi dan memicu produksi lendir lebih banyak sebagai reaksi radang, sehingga menciptakan lingkaran setan yang tak berujung. Ditambah lagi dengan kebiasaan berbicara dengan volume tinggi di tempat bising atau justru berbisik-bisik. Secara medis, berbisik justru memberikan ketegangan yang lebih besar pada pita suara dibandingkan berbicara normal. Ketegangan otot-otot di sekitar laring ini dapat memicu peradangan yang menyebar hingga ke faring, menyebabkan rasa nyeri yang sering disalahartikan sebagai gejala flu.

Aspek lain yang jarang dibahas namun vital adalah kebersihan benda-benda yang masuk ke mulut kita, spesifiknya sikat gigi. Sebuah studi mikrobiologi menunjukkan bahwa sikat gigi yang tidak diganti secara berkala atau disimpan di tempat lembap di kamar mandi dapat menjadi sarang koloni bakteri patogen, termasuk Streptococcus yang menjadi penyebab radang tenggorokan. Menyikat gigi dengan sikat yang terkontaminasi sama saja dengan memasukkan kembali bakteri ke dalam mulut yang mungkin sedang memiliki luka mikro. Kebiasaan malas mengganti sikat gigi atau tidak membilasnya dengan benar bisa menjadi penyebab mengapa radang tenggorokan sering kambuh meski sudah diobati.

Melihat fakta-fakta tersebut, jelas bahwa menjaga kesehatan tenggorokan bukan hanya soal minum vitamin C atau memakai masker saat keluar rumah. Hal ini menuntut kesadaran penuh terhadap mikromanajemen tubuh kita sendiri. Mulai dari melatih diri bernapas lewat hidung, memastikan hidrasi konstan tanpa menunggu haus, bijak dalam menggunakan suara, hingga memperhatikan kebersihan alat mandi. Radang tenggorokan sering kali merupakan cara tubuh memberi sinyal bahwa ada rutinitas harian yang salah dan perlu diperbaiki. Dengan mengubah kebiasaan-kebiasaan kecil ini, kita sebenarnya sedang membangun benteng pertahanan yang kokoh, sehingga virus dan bakteri tidak memiliki celah untuk masuk dan mengganggu produktivitas kita. Kesehatan jangka panjang ternyata memang sering bersembunyi di balik detail-detail remeh yang selama ini kita abaikan.

Tags

Logo Radio
🔴 Radio Live