Bukan Sekadar Ibadah, Begini Uniknya Cara Orang Indonesia Merayakan Isra’ Mi’raj
Refa - Thursday, 15 January 2026 | 12:30 PM


Indonesia, dengan keragaman etnis dan budayanya, memiliki cara yang istimewa dalam menyambut peringatan Isra’ Mi’raj. Berbeda dengan negara-negara Timur Tengah yang mungkin merayakannya dengan fokus murni pada ibadah ritual, masyarakat Indonesia memadukan nilai-nilai spiritual peristiwa ini dengan kearifan lokal (akulturasi).
Perayaan ini tidak hanya menjadi momentum untuk mengingat perjalanan suci Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menjadi sarana mempererat tali silaturahmi antarwarga melalui tradisi makan bersama, arak-arakan, hingga ritual adat yang sarat makna simbolis.
Simbolisasi Melalui Yasa Peksi Burak di Yogyakarta
Di lingkungan Keraton Yogyakarta, peringatan Isra’ Mi’raj dirayakan dengan tradisi unik bernama Yasa Peksi Burak. Dalam tradisi ini, para abdi dalem keraton membuat gunungan atau replika burung Buraq yang terbuat dari rangkaian buah-buahan lokal (seperti jeruk bali) dan kulit jeruk yang dibentuk sedemikian rupa.
Replika ini kemudian diarak dari keraton menuju Masjid Gedhe Kauman. Tradisi ini merupakan simbolisasi kendaraan Nabi saat Mi'raj, yang dimaknai sebagai ajakan agar manusia senantiasa meningkatkan derajat spiritualnya menuju kesempurnaan, layaknya perjalanan Nabi naik ke langit.
Pembacaan Babad dan Rajaban di Cirebon
Masyarakat Cirebon, khususnya di lingkungan Keraton Kasepuhan, menggelar tradisi yang dikenal dengan istilah Rajaban. Puncak acara ini biasanya diisi dengan pembacaan Babad Isra’ Mi’raj atau riwayat perjalanan Nabi yang dibacakan oleh kaum atau penghulu keraton. Selain itu, masyarakat setempat juga melakukan ziarah ke makam Sunan Gunung Jati.
Uniknya, setelah prosesi doa selesai, warga akan membagikan nasi bogana, yaitu nasi kuning lengkap dengan lauk pauk kepada warga sekitar keraton dan para peziarah sebagai bentuk sedekah dan rasa syukur.
Ambengan di Jawa Tengah dan Jawa Timur
Di banyak desa di Jawa Tengah dan Jawa Timur, Isra’ Mi’raj diperingati dengan tradisi Ambengan atau Bancakan. Setelah melaksanakan sholat berjamaah dan mendengarkan pengajian di masjid atau mushola, warga akan menggelar makan bersama. Nasi dan lauk pauk diletakkan di atas nampan besar atau daun pisang yang memanjang, lalu disantap bersama-sama oleh beberapa orang sekaligus dalam satu wadah. Tradisi ini mengajarkan filosofi kesetaraan bahwa di hadapan Allah dan dalam majelis ilmu, tidak ada perbedaan pangkat atau status sosial, semua duduk sama rendah menikmati rezeki yang sama.
Tradisi Nganggung di Bangka Belitung
Di Bangka Belitung, semangat gotong royong sangat terasa melalui tradisi Nganggung. Pada hari peringatan Isra’ Mi’raj, setiap keluarga akan membawa dulang (nampan besar dari kuningan atau seng) yang berisi makanan lengkap menuju masjid desa. Dulang tersebut biasanya ditutup dengan tudung saji bermotif khas berwarna merah atau hijau.
Setelah doa bersama dan ceramah agama selesai, tudung saji dibuka dan semua warga makan bersama dengan saling menukar isi dulang. Tradisi ini bukan sekadar pesta makan, melainkan simbol kuat persatuan warga kampung dalam memuliakan hari besar Islam.
Next News

Mengapa Isra’ Mi’raj Terjadi Setelah Tahun Kesedihan? Ini Jawabannya
in 7 hours

Salat Masih Terasa Hampa? Coba Renungi Makna Al-Fatihah Ayat per Ayat
in 6 hours

Sholat Sering Melamun? Coba 6 Teknik Ini agar Lebih Khusyuk
in 5 hours

Bukan Beban, Ini Alasan Sholat Disebut Hadiah Langsung dari Allah
in 5 hours

Bagaimana Danur Mengubah Takdir Karier Prilly Latuconsina Selamanya
in 6 hours

Kupas Tuntas Penyebab Kebocoran Halus pada Ban Tubeless yang Sering Luput dari Pandangan
in 5 hours

Ini Cara Tepat Membersihkan Motor Setelah Terabas Hujan Agar Awet
in 5 hours

Bagaimana Gelombang Alfa Menentukan Batas Antara 'Aku' dan Dunia Luar
in 4 hours

Sekali Coba Pasti Ketagihan! Ini Resep Nasi Bogana Lengkap ala Tradisi
in 4 hours

Menguak Misteri Genetik Mengapa Manusia Kehilangan Ekor
in 3 hours






