Kupas Tuntas Penyebab Kebocoran Halus pada Ban Tubeless yang Sering Luput dari Pandangan
Nisrina - Thursday, 15 January 2026 | 02:15 PM


Bagi pengendara kendaraan bermotor, baik roda dua maupun roda empat, tidak ada yang lebih membingungkan daripada menemukan kondisi ban yang kempes di pagi hari padahal tidak ada tanda-tanda tertusuk paku yang terlihat jelas. Fenomena ini dikenal luas sebagai bocor halus, sebuah kondisi di mana tekanan angin dalam ban berkurang secara perlahan namun pasti dalam kurun waktu tertentu. Berbeda dengan kebocoran akibat tusukan benda tajam besar yang menyebabkan ban kempes seketika, bocor halus adalah musuh dalam selimut yang sering kali tidak disadari hingga kondisi ban sudah terlalu kempis untuk dikendarai dengan aman. Banyak orang mengira bahwa jika tidak ada paku, maka ban aman-aman saja, padahal realitas mekanis dari sistem ban tubeless jauh lebih kompleks dari sekadar karet yang menggelinding di aspal.
Untuk memahami mengapa kebocoran halus terjadi, kita perlu mengerti prinsip dasar ban tubeless yang bekerja dengan memanfaatkan kerapatan antara bead atau bibir ban dengan velg untuk menahan udara. Salah satu penyebab paling umum namun sering diabaikan adalah kondisi komponen pentil ban. Karet pada leher pentil memiliki masa pakai dan dapat mengalami pengerasan atau getas akibat paparan panas matahari dan air hujan secara terus-menerus. Ketika karet ini kehilangan elastisitasnya, ia tidak lagi mampu menutup celah pada lubang velg dengan sempurna, sehingga udara merembes keluar sedikit demi sedikit. Selain itu, jarum pentil atau valve core yang longgar atau kotor juga bisa menjadi jalur keluar udara yang tidak kasat mata, terutama jika tutup pentil sering dibiarkan terbuka sehingga debu masuk dan mengganjal mekanisme pegas di dalamnya.
Faktor kedua yang sering menjadi biang kerok adalah kondisi velg itu sendiri. Banyak pengendara yang tidak menyadari bahwa benturan keras dengan lubang jalan atau polisi tidur tidak hanya berpotensi merusak suspensi, tetapi juga dapat membuat bibir velg menjadi sedikit penyok atau peyang. Celah mikroskopis yang tercipta akibat ketidakrataan bibir velg ini sudah cukup untuk membiarkan molekul udara bertekanan tinggi meloloskan diri. Masalah pada velg juga bisa disebabkan oleh korosi atau oksidasi, terutama pada area pertemuan antara ban dan logam. Karat yang menumpuk menciptakan permukaan yang kasar dan berpori, merusak segel kedap udara yang seharusnya terbentuk sempurna. Hal ini sering terjadi pada kendaraan yang jarang dicuci setelah melewati genangan air kotor atau banjir.
Selain faktor eksternal pada velg dan pentil, kondisi fisik ban yang menua juga memegang peranan penting. Karet ban adalah material organik yang akan mengalami degradasi seiring waktu. Pada ban yang sudah berusia lanjut, sering kali muncul retakan-retakan halus atau hairline cracks pada dinding samping maupun telapak ban. Retakan ini mungkin terlihat dangkal, namun pada ban berkualitas rendah atau yang sudah sangat tua, porositas karet meningkat sehingga angin bisa merembes keluar melalui pori-pori tersebut. Ditambah lagi, jika ban pernah mengalami perbaikan tambal ban model tusuk atau string plug yang kurang presisi, area bekas tambalan tersebut bisa kembali terbuka atau melonggar seiring dengan pergerakan dinamis ban saat berputar, menyebabkan kebocoran sekunder di tempat yang sama.
Penyebab lain yang cukup mengejutkan adalah keberadaan benda asing kecil seperti kerikil tajam, kawat halus, atau pecahan kaca yang tertanam di alur ban. Berbeda dengan paku besar yang langsung menyebabkan kempes, benda-benda kecil ini sering kali tertancap namun tidak menembus lapisan dalam secara total, atau menembus namun turut menyumbat lubang tersebut. Ketika ban berputar dan tertekan beban kendaraan, benda asing ini akan bergoyang dan perlahan memperlebar luka pada karet, membiarkan angin keluar dalam jumlah sangat kecil setiap kali roda berputar. Inilah sebabnya mengapa pemeriksaan visual secara teliti dengan membasahi permukaan ban menggunakan air sabun sering kali diperlukan untuk menemukan gelembung udara kecil yang menjadi penanda lokasi kebocoran.
Terakhir, pemasangan ban yang kurang sempurna juga bisa menjadi awal masalah. Saat ban baru dipasang, area bead harus bersih dari kotoran dan biasanya dilapisi dengan pelumas khusus atau bead sealer untuk memastikan karet menempel erat pada velg. Jika terdapat butiran pasir atau sisa lem lama yang mengganjal di area ini, kebocoran halus hampir pasti akan terjadi. Oleh karena itu, mengatasi bocor halus tidak bisa hanya dengan sekadar menambah angin setiap beberapa hari sekali. Mengabaikan bocor halus sama dengan mempertaruhkan keselamatan, karena tekanan angin yang kurang dapat menyebabkan ban meledak tiba-tiba akibat panas berlebih serta mengurangi daya cengkeram kendaraan secara signifikan. Perawatan rutin dan kepekaan terhadap perubahan tekanan ban adalah kunci utama untuk menghindari masalah yang menjengkelkan ini.
Next News

Mengapa Isra’ Mi’raj Terjadi Setelah Tahun Kesedihan? Ini Jawabannya
in 7 hours

Salat Masih Terasa Hampa? Coba Renungi Makna Al-Fatihah Ayat per Ayat
in 6 hours

Sholat Sering Melamun? Coba 6 Teknik Ini agar Lebih Khusyuk
in 5 hours

Bukan Beban, Ini Alasan Sholat Disebut Hadiah Langsung dari Allah
in 5 hours

Bagaimana Danur Mengubah Takdir Karier Prilly Latuconsina Selamanya
in 6 hours

Ini Cara Tepat Membersihkan Motor Setelah Terabas Hujan Agar Awet
in 5 hours

Bagaimana Gelombang Alfa Menentukan Batas Antara 'Aku' dan Dunia Luar
in 4 hours

Sekali Coba Pasti Ketagihan! Ini Resep Nasi Bogana Lengkap ala Tradisi
in 4 hours

Bukan Sekadar Ibadah, Begini Uniknya Cara Orang Indonesia Merayakan Isra’ Mi’raj
in 4 hours

Menguak Misteri Genetik Mengapa Manusia Kehilangan Ekor
in 3 hours






