Ketika Perjalanan Pulang Menjadi Pertaruhan Nyawa bagi Perempuan
Nisrina - Wednesday, 17 December 2025 | 12:14 PM


Di bawah langit malam yang sama, dua realitas yang sangat kontras sering kali terjadi secara bersamaan di jalanan kota-kota kita. Bagi seorang laki-laki, perjalanan pulang di malam hari mungkin hanyalah sebuah jeda dari hiruk-pikuk aktivitas, sebuah momen sunyi untuk menikmati angin malam atau sekadar perpindahan fisik dari kantor menuju rumah. Jalanan yang sepi adalah teman yang menawarkan ketenangan, dan rasa aman adalah sebuah kemewahan yang sering kali tidak disadari karena sudah dianggap sebagai hal yang lumrah. Namun, narasi tersebut berubah 180 derajat ketika subjeknya adalah perempuan. Bagi perempuan, terutama di Indonesia, melangkah seorang diri di malam hari bukanlah sebuah perjalanan biasa, melainkan sebuah pertaruhan rasa aman, bahkan pertaruhan nyawa yang melelahkan.
Setiap langkah yang diambil perempuan di trotoar yang remang-remang selalu dibarengi dengan kewaspadaan tingkat tinggi yang menguras energi mental. Jika laki-laki bisa berjalan santai sambil mendengarkan musik lewat earphone dengan volume penuh, perempuan harus menajamkan pendengarannya terhadap setiap desing motor yang melambat atau derap langkah kaki yang mendekat dari belakang. Ponsel pintar di genggaman bukan digunakan untuk menggulir media sosial, melainkan sudah siap dengan fitur share live location kepada orang terdekat, atau jari yang sudah menempel pada tombol panggilan darurat. Ini adalah manifestasi dari ketakutan purba yang sayangnya masih sangat relevan di era modern: ketakutan akan menjadi objek kejahatan hanya karena gender yang dimilikinya.
Ironi ini semakin diperparah oleh konstruksi sosial yang sering kali tidak berpihak pada korban. Di Indonesia, ruang publik di malam hari seolah-olah memiliki aturan tak tertulis yang mendiskriminasi perempuan. Ketika terjadi pelecehan seksual, mulai dari catcalling hingga tindakan fisik yang lebih agresif, pertanyaan pertama yang sering muncul dari masyarakat bukanlah "siapa pelakunya?", melainkan "kenapa perempuannya pulang malam?" atau "pakai baju apa dia?". Beban ganda ini memaksa perempuan untuk berpikir berlipat ganda sebelum keluar rumah. Mereka tidak hanya harus memikirkan rute teraman dan pencahayaan jalan, tetapi juga harus memikirkan pakaian apa yang sekiranya "tidak mengundang" bahaya, sebuah konsep yang sebenarnya salah kaprah karena kejahatan terjadi karena niat pelaku, bukan pakaian korban.
Fenomena ini menunjukkan bahwa hak atas kota atau the right to the city belum terdistribusi secara adil. Ruang publik yang seharusnya netral dan inklusif, pada kenyataannya masih didominasi oleh maskulinitas yang intimidatif. Tatapan mata yang melecehkan, siulan menggoda dari sudut jalan, hingga ancaman fisik adalah teror nyata yang mengubah jalanan menjadi arena pertaruhan. Bagi perempuan, sampai di rumah dengan selamat tanpa kurang satu apa pun adalah sebuah kemenangan kecil yang patut disyukuri setiap harinya. Rasa lega saat mengunci pintu kamar adalah akhir dari episode ketegangan yang panjang.
Kita perlu menyadari bahwa rasa aman adalah hak asasi manusia yang fundamental, bukan privilese yang hanya dimiliki oleh laki-laki. Normalisasi rasa takut pada perempuan harus dihentikan. Kota yang maju bukanlah kota yang memiliki gedung pencakar langit tertinggi, melainkan kota di mana seorang perempuan bisa berjalan sendirian di tengah malam tanpa rasa takut sedikit pun, tanpa harus menggenggam kunci kendaraan di sela-sela jarinya sebagai senjata pertahanan diri. Selama perjalanan pulang masih terasa sebagai pertaruhan nasib bagi setengah populasi manusia, maka kita masih memiliki pekerjaan rumah yang sangat besar dalam membangun peradaban yang benar-benar manusiawi dan setara.
Next News

Malam Paling Agung di Masjidil Aqsa Saat Nabi Muhammad SAW Menjadi Imam Seluruh Nabi
in an hour

4 Lokasi Bersejarah yang Disinggahi dan Menjadi Tempat Sholat Rasulullah Saat Isra' Mi'raj
in an hour

Bukan Sekadar Perjalanan, Ini Protokol Langit Saat Nabi Muhammad SAW Naik Buraq
in an hour

Langkahnya Sejauh Pandangan Mata, Keajaiban Buraq dalam Peristiwa Isra’ Mi’raj
in 15 minutes

Kenapa Rajaban Selalu Dinanti? Tradisi Jawa Rayakan Isra’ Mi’raj dengan Cara Berbeda
15 minutes ago

Mengapa Isra’ Mi’raj Terjadi Setelah Tahun Kesedihan? Ini Jawabannya
an hour ago

Salat Masih Terasa Hampa? Coba Renungi Makna Al-Fatihah Ayat per Ayat
an hour ago

Bukan Sihir! Penyakit Aneh Ini Bisa Bikin Kamu Mabuk Berat Cuma Gara-gara Sepotong Roti
in 30 minutes

Sholat Sering Melamun? Coba 6 Teknik Ini agar Lebih Khusyuk
2 hours ago

Bukan Beban, Ini Alasan Sholat Disebut Hadiah Langsung dari Allah
3 hours ago






