Ceritra
Ceritra Warga

Kain Tenun Mahal Kok Jadi Kusam? Hindari 5 Dosa Besar Ini Saat Merawat Kain Tradisional

Refa - Wednesday, 18 February 2026 | 03:00 PM

Background
Kain Tenun Mahal Kok Jadi Kusam? Hindari 5 Dosa Besar Ini Saat Merawat Kain Tradisional
Ilustrasi mencuci baju (pexels.com/RDNE Stock project)

Merawat Harta Karun: Biar Kain Tenun Kesayangan Nggak Berubah Jadi Keset

Pernah nggak sih, kamu merasa bangga banget pas baru aja beli selembar kain tenun? Entah itu Tenun Ikat dari Sumba, Tenun Songket dari Palembang, atau Tenun Lurik dari Jawa yang lagi hits di kalangan anak muda skena. Ada rasa bangga yang beda pas kita melilitkan kain itu di pinggang atau menjadikannya outer buat kondangan. Rasanya tuh kayak lagi bawa "harta karun" budaya yang harganya—mari jujur saja—nggak murah dan pembuatannya butuh waktu berbulan-bulan.

Tapi, masalah klasik muncul pas kain itu kena keringat atau tumpahan kopi. Tiba-tiba kita mendadak overthinking. "Duh, ini nyucinya gimana ya? Kalau dimasukin ke mesin cuci, bakal hancur nggak ya? Kalau warnanya luntur gimana?" Akhirnya, banyak dari kita yang malah membiarkan kain itu mendekam di lemari sampai bau apek karena takut salah langkah. Padahal, merawat kain tenun itu nggak seserem yang kamu bayangkan, asalkan kamu paham "bahasa" kainnya. Tenun itu benda seni, jadi perlakuannya nggak bisa disamakan dengan kaos oblong harga 50 ribuan yang biasa kamu pakai tidur.

Dosa Besar Bernama Mesin Cuci

Hal pertama yang harus kamu tanamkan dalam pikiran adalah jauhkan kain tenun dari mesin cuci. Titik. Mau mesin cucinya secanggih apa pun, dengan fitur hand wash sekalipun, risiko benang ketarik atau warna memudar itu tetap tinggi. Mesin cuci bekerja dengan cara mengocok dan memutar kain dengan keras. Bayangkan helai-helai benang yang ditenun manual dengan tangan selama berhari-hari itu dipaksa berputar-putar di dalam tabung besi. Ya, mereka bakal stres, sob!

Kain tenun, terutama yang menggunakan pewarna alam, punya karakter yang lebih sensitif. Cara terbaik adalah mencucinya secara manual dengan tangan. Nggak perlu dikucek sampai tenaga dalam keluar. Cukup dicelup-celup manja saja. Ingat, kita sedang membersihkan karya seni, bukan sedang ikut lomba cuci baju di lingkungan RT.

Lupakan Deterjen, Gunakan Lerak atau Shampo Bayi

Deterjen yang biasa kita pakai buat nyuci jeans itu sifatnya terlalu keras. Kandungan kimianya bisa dengan cepat memakan pigmen warna pada kain tenun. Kalau kamu pakai deterjen bubuk biasa, jangan kaget kalau air cucianmu berubah warna jadi pekat dan kainmu tiba-tiba terlihat kusam setelah kering. Itu namanya bencana visual.

Solusi paling OG dan teruji zaman adalah menggunakan Lerak. Buah lerak ini adalah sabun alami yang sudah dipakai nenek moyang kita buat nyuci batik dan tenun. Kalau malas nyari buahnya, sekarang sudah banyak kok lerak cair dalam botolan di marketplace. Wanginya khas dan sangat lembut di serat kain. Tapi kalau darurat dan nggak ada lerak, kamu bisa pakai shampo bayi. Kenapa shampo bayi? Karena pH-nya netral dan formulanya nggak agresif. Cukup tuangkan sedikit ke air dingin, aduk sampai berbusa tipis, baru masukkan kainnya.

Musuh Terbesar Selanjutnya: Sinar Matahari Langsung

Setelah selesai dicuci, jangan sekali-kali memeras kain tenun dengan cara diplintir kayak kamu lagi meluapkan emosi ke mantan. Memeras dengan keras bakal merusak struktur benang dan bikin bentuk kain jadi berubah alias melar nggak karuan. Cukup ditekan-tekan lembut atau digulung dengan handuk kering supaya airnya terserap.

Lalu, soal menjemur. Ini adalah tahap krusial yang sering bikin orang kecolongan. Jangan jemur kain tenun di bawah terik matahari langsung yang lagi panas-panasnya. Sinar UV itu jahat banget buat pewarna kain, apalagi yang alami. Jemurlah di tempat yang teduh, cukup diangin-anginkan saja di teras atau di bawah pohon kalau kamu tinggal di pedesaan yang asri. Biarkan angin yang bekerja. Memang butuh waktu lebih lama buat kering, tapi ini jauh lebih baik daripada kain kamu warnanya pudar dalam sekejap gara-gara "terpanggang" matahari.

Menyetrika dengan Perasaan

Kalau kain tenunmu sudah kering dan agak kusut, jangan langsung dihantam dengan setrika panas. Suhu yang terlalu tinggi bisa bikin serat kain jadi rapuh atau bahkan mengkilap nggak wajar (terbakar tipis). Triknya adalah dengan menyetrika dari bagian dalam kain. Atau, kalau kamu mau lebih aman lagi, lapisi kain tenunmu dengan selembar kain tipis di atasnya sebelum disetrika.

Tapi kalau kamu punya budget lebih, sangat disarankan pakai steamer atau setrika uap. Uap panas lebih ramah ke serat benang dan efektif bikin kain halus tanpa harus bersentuhan langsung dengan plat besi panas. Ingat, pelan-pelan saja, nikmati prosesnya. Sambil dengerin podcast atau lagu-lagu indie biar vibes-nya makin dapet.

Penyimpanan: Jangan Sampai Jamuran

Terakhir, soal penyimpanan. Kain tenun itu paling nggak suka dengan tempat yang lembap. Tempat lembap adalah surga buat jamur dan kutu kain yang hobi banget bikin lubang-lubang kecil. Jangan simpan kain tenun di dalam plastik tertutup rapat karena kain juga perlu "bernapas".

Cara terbaik adalah menggantungnya dengan hanger yang empuk (berlapis busa) atau cukup dilipat rapi dan dilapisi kertas tisu asam. Sesekali, keluarkan kain dari lemari buat diangin-anginkan. Jangan lupa taruh lada putih atau cengkeh di sudut lemari buat mengusir ngengat secara alami. Bau kamper kadang terlalu menyengat dan bisa menempel permanen di kain, jadi bahan alami selalu lebih oke.

Memang sih, merawat kain tenun itu butuh sedikit effort ekstra. Tapi kalau dipikir-pikir, itu sebanding banget dengan keindahan dan nilai sejarah yang ada di setiap helai benangnya. Dengan merawatnya secara benar, kamu nggak cuma menjaga penampilan, tapi juga menghargai jari-jemari para pengrajin di pelosok negeri yang sudah bekerja keras menciptakannya. Jadi, mulai sekarang, yuk lebih sayang sama kain tenun kita sendiri!

Logo Radio
🔴 Radio Live