Ceritra
Ceritra Warga

Bukan Sekadar Hiasan, Ini Fungsi Penting Gerigi pada Koin

Nisrina - Thursday, 19 February 2026 | 09:15 PM

Background
Bukan Sekadar Hiasan, Ini Fungsi Penting Gerigi pada Koin
Ilustrasi gerigi pada uang koin (pimbex.com/)

Kenapa Koin Ada Geriginya? Bukan Biar Estetik, Tapi Biar Nggak Dikorupsi!

Pernah nggak sih pas lagi iseng nunggu kembalian di minimarket, kamu memperhatikan koin di tanganmu? Kalau kamu raba pinggirannya, ada tekstur kasar atau gerigi kecil yang melingkar. Mungkin selama ini kamu mikirnya, Ah, paling biar nggak licin pas dipegang atau biar kelihatan keren aja. Tapi, tahukah kamu kalau gerigi kecil itu sebenarnya adalah jejak dari sejarah kriminalitas yang cukup brutal di masa lalu? Ya, gerigi itu adalah fitur keamanan tingkat tinggi yang lahir dari pusingnya pemerintah menghadapi para "pencukur uang".

Zaman Dulu, Uang Itu Benar-benar Berharga

Mari kita mundur jauh ke masa ketika uang bukan sekadar kertas dengan gambar pahlawan atau angka digital di aplikasi dompet elektronik. Dulu, nilai sebuah koin ditentukan oleh kandungan logam di dalamnya. Kalau koinnya dibilang koin emas, ya isinya benar-benar emas. Kalau koin perak, ya perak murni. Jadi, nilai intrinsik logamnya sama dengan nilai nominal yang tertulis di koin tersebut.

Nah, di sinilah otak kreatif manusia mulai bekerja ke arah yang salah. Bayangkan kamu punya seratus koin emas. Kalau kamu kikir sedikit saja pinggirannya, kamu nggak akan terlalu kelihatan kehilangan bentuk koinnya, kan? Tapi, kalau serpihan hasil kikir itu kamu kumpulkan dari seratus koin, kamu bisa meleburnya kembali menjadi satu koin emas baru. Selamat, kamu baru saja menciptakan uang dari udara kosong alias melakukan korupsi kecil-kecilan yang berdampak besar.

Praktik Coin Clipping: Kejahatan Para "Tukang Cukur"

Kejahatan ini punya nama keren: coin clipping. Para pelakunya bakal mencukur bagian tepi koin emas atau perak dengan gunting besi atau kikir. Setelah tepian koin itu jadi agak "kurus", mereka bakal membelanjakan koin itu dengan nilai penuh. Penjual biasanya nggak sadar kalau koin yang mereka terima diameternya sudah berkurang sepersekian milimeter.

Ini bukan cuma masalah pencurian kecil-kecilan, lho. Ini adalah masalah ekonomi nasional yang bikin pusing tujuh keliling. Pasalnya, semakin banyak koin yang "dicukur", semakin rendah kepercayaan masyarakat terhadap mata uang. Bayangkan inflasi meledak hanya karena orang-orang pada kreatif mengikis pinggiran recehan. Pemerintah zaman dulu, seperti di Inggris atau Romawi, benar-benar dibuat geram. Hukuman buat para clippers ini nggak main-main: bisa dihukum mati. Tapi ya namanya juga manusia, kalau sudah urusan cuan, risiko nyawa pun kadang dianggap angin lalu.

Isaac Newton: Dari Teori Gravitasi ke Urusan Recehan

Mungkin banyak yang belum tahu kalau Sir Isaac Newton, ilmuwan yang kepalanya kejatuhan apel itu, pernah punya pekerjaan sampingan sebagai "polisi uang". Pada tahun 1696, Newton diangkat menjadi Warden of the Royal Mint di Inggris. Tugasnya bukan cuma ngitung duit, tapi memberantas pemalsuan uang dan praktik coin clipping yang sudah di level meresahkan.

Newton melihat bahwa koin-koin lama yang pinggirannya halus tanpa tekstur adalah sasaran empuk. Akhirnya, diciptakanlah sebuah inovasi teknologi pada masa itu: proses penggilingan atau milling yang memberikan pola gerigi atau tulisan di bagian tepi koin. Teknik ini membuat pinggiran koin jadi punya desain yang rumit. Kalau ada orang yang berani mengikir atau mencukur koin bergerigi ini, bakal langsung ketahuan secara kasat mata. Koinnya jadi kelihatan cacat dan nggak akan laku di pasar.

Kenapa Sekarang Masih Ada Geriginya?

Sekarang mungkin kamu bertanya, "Kan koin zaman sekarang nggak pakai emas atau perak murni lagi? Kenapa masih harus ada geriginya?". Memang benar, koin 500 perak atau seribu rupiah kita sekarang isinya cuma campuran aluminium atau nikel yang kalau dilebur pun nilainya nggak seberapa. Biaya meleburnya mungkin lebih mahal daripada hasil logam yang didapat.

Ada beberapa alasan kenapa fitur antikuno ini tetap dipertahankan. Pertama, masalah aksesibilitas. Gerigi ini sangat membantu teman-teman kita yang menyandang disabilitas netra untuk membedakan nilai nominal koin hanya dengan meraba pinggirannya. Koin dengan nominal berbeda biasanya punya pola gerigi yang berbeda pula.

Kedua, soal psikologi dan estetika. Kita sudah terbiasa melihat koin sebagai benda metalik yang punya tekstur. Kalau tiba-tiba koin dibuat polos semua, rasanya seperti memegang mainan atau kancing baju. Ada nilai historis yang tetap dijaga agar mata uang kita punya karakter.

Ketiga, soal produksi. Gerigi ini ternyata juga membantu dalam proses pencetakan uang agar logamnya tetap stabil di posisinya saat ditekan dengan kekuatan berton-ton. Jadi, selain buat gaya-gayaan, ada fungsi teknisnya juga di pabrik percetakan uang.

Pelajaran dari Selembar Koin

Melihat gerigi di pinggir koin sebenarnya mengingatkan kita bahwa dari zaman dulu sampai zaman sekarang, manusia itu selalu punya celah untuk melakukan kecurangan. Dan sistem keamanan selalu berkembang untuk menutup celah tersebut. Gerigi koin adalah monumen bisu dari perang antara pemerintah dan penjahat finansial di masa lalu.

Jadi, lain kali kalau kamu nemu koin di jalan atau dapet kembalian receh, coba raba pinggirannya sebentar. Itu bukan sekadar desain biar gampang diambil dari dompet, tapi itu adalah hasil pemikiran jenius orang-orang zaman dulu buat memastikan kalau ekonomi nggak hancur cuma gara-gara orang yang terlalu kreatif pakai kikir besi.

Lucu ya, benda sekecil itu punya sejarah yang segitu ribetnya. Dari urusan nyawa taruhannya sampai melibatkan ilmuwan paling cerdas di dunia. Sekarang koin mungkin cuma dianggap "recehan" yang sering bikin berat dompet, tapi di balik itu, ada cerita tentang bagaimana sebuah gerigi kecil menyelamatkan stabilitas ekonomi sebuah bangsa. Gokil, kan?

Logo Radio
🔴 Radio Live