Fogging Bukan Solusi Ajaib, Matikan Nyamuk DBD dari Jentiknya
Refa - Monday, 15 December 2025 | 12:50 PM


Memasuki musim hujan, ancaman penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali menghantui lingkungan kita. Biasanya, pola yang terjadi di masyarakat selalu sama. Ada tetangga yang masuk rumah sakit karena DBD, warga panik, lalu beramai-ramai mendesak Pak RT/RW untuk segera melakukan fogging (pengasapan).
Setelah asap tebal menyelimuti kampung, warga merasa lega dan aman. Padahal, rasa aman itu semu. Mengandalkan fogging tanpa menjaga kebersihan lingkungan ibarat mengepel lantai di tengah atap bocor, masalahnya tidak akan pernah selesai.
Salah Kaprah Tentang Fogging
Perlu dipahami bahwa fogging bukanlah pencegahan, melainkan penanggulangan darurat. Asap kimia tersebut hanya efektif membunuh nyamuk dewasa yang sedang terbang saat penyemprotan dilakukan.
Fogging tidak bisa membunuh jentik (larva) dan telur nyamuk yang bersembunyi di genangan air. Dalam 1-2 hari setelah pengasapan, ribuan jentik itu akan menetas menjadi nyamuk dewasa baru, dan ancaman DBD pun kembali lagi. Selain itu, terlalu sering melakukan fogging justru berbahaya bagi pernapasan warga dan bisa membuat nyamuk menjadi kebal (resisten) terhadap racun serangga.
Musuh Sebenarnya Ada di Rumah Kita
Nyamuk Aedes aegypti (pembawa virus dengue) adalah nyamuk "elite". Ia tidak suka air got yang kotor dan bau. Ia justru bertelur di air yang jernih dan tenang yang ada di dalam rumah kita.
Coba periksa dispenser air minum Anda, tatakan pot bunga, tempat minum burung, atau bak mandi yang jarang dikuras. Di situlah "pabrik" nyamuk sebenarnya berada. Satu ekor nyamuk betina bisa bertelur hingga ratusan butir. Jika kita hanya membunuh induknya lewat fogging tapi membiarkan telurnya, kita sedang memelihara bom waktu.
Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik
Satu-satunya cara paling ampuh memutus mata rantai DBD adalah dengan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) 3M Plus. Ini jauh lebih murah, sehat, dan efektif daripada fogging:
- Menguras. Bersihkan bak mandi minimal seminggu sekali. Gosok dinding bak, karena telur nyamuk sering menempel di dinding yang berlendir.
- Menutup. Tutup rapat semua penampungan air (gentong, toren, ember).
- Mendaur Ulang. Singkirkan barang bekas (kaleng, ban, botol) di halaman yang berpotensi menampung air hujan.
Langkah "Plus"-nya:
- Memelihara ikan pemakan jentik (seperti ikan cupang) di kolam/bak.
- Menanam tanaman pengusir nyamuk (sereh, lavender, zodia).
- Memasang kawat kasa di ventilasi.
- Menggunakan lotion anti nyamuk.
Mari kita ubah pola pikir. Jadilah Jumantik (Juru Pemantau Jentik) bagi rumah sendiri. Luangkan waktu 10 menit setiap hari Minggu untuk "berburu" genangan air di rumah. Ingat, nyamuk DBD tidak butuh kolam besar, satu tutup botol berisi air hujan saja sudah cukup bagi mereka untuk berkembang biak dan mencelakai keluarga kita.
Next News

Kebiasaan Mepet di Lampu Merah Ternyata Simpan Bahaya Maut, Ini Jarak Amannya
in 2 hours

Stop Kebiasaan Bernapas Lewat Mulut, Risikonya Bisa Ubah Struktur Wajah Hingga Gigi Hancur!
in 2 hours

Makan Sehari Sekali Bikin Kurus? Hati-Hati, Tren OMAD Bisa Berujung Operasi Batu Empedu
in an hour

Janji Energi Instan Berujung Petaka, Bahaya Energy Drink bagi Tubuh dan Otak
in an hour

Tak Disangka, Air Putih di Botol Minum Bisa Picu Infeksi Jika Lakukan Ini
15 minutes ago

Siapa Saja yang Wajib Vaksin Dengue? Ini Rekomendasi Resmi Dokter
in 15 minutes

4 Gejala Klasik Ini Bisa Jadi Tanda Arteri Jantung Tersumbat
an hour ago

Fenomena Hilangnya Kemampuan Mengeja pada Generasi Digital dan Dampak Jangka Panjangnya
in 30 minutes

Pesona Magis Celak Mata Warisan Budaya Lintas Peradaban
in a few seconds

Menikmati Kehangatan Budaya Kopi Khas Arab Saudi di Pegunungan Sarawat
30 minutes ago






