Doomscrolling economy: kebiasaan scroll berita bikin makin cemas soal masa depan
Elsa - Saturday, 18 April 2026 | 02:00 PM


Siklus Tanpa Henti: Mengenal Doomscrolling Economy yang Bikin Masa Depan Terasa Gelap
Pernah nggak sih, niatnya cuma mau ngecek jam sebelum tidur, tapi tahu-tahu jempol malah "kebablasan" geser layar ke bawah terus sampai jam dua pagi? Isinya? Berita soal layoff di perusahaan startup, prediksi resesi global yang makin suram, sampai debat kusir soal kecerdasan buatan (AI) yang katanya bakal menggantikan pekerjaan kita semua. Selamat, kamu sedang terjebak dalam lingkaran setan yang namanya doomscrolling.
Fenomena ini bukan cuma sekadar kebiasaan buruk atau kurang kerjaan. Di balik layar ponsel kita, ada sebuah mesin raksasa yang bekerja keras memanfaatkan kecemasan kita. Inilah yang sering disebut sebagai doomscrolling economy. Sebuah kondisi di mana perhatian kita, meskipun dibumbui rasa takut dan panik, adalah komoditas paling mahal bagi platform digital.
Kenapa Kita Susah Berhenti "Mencari Masalah"?
Kalau dipikir pakai logika sehat, ngapain juga kita sengaja baca berita yang bikin deg-degan pas harusnya istirahat? Ternyata, otak manusia itu punya desain kuno yang namanya negativity bias. Nenek moyang kita dulu bertahan hidup dengan cara selalu waspada terhadap ancaman. Masalahnya, ancaman zaman sekarang bukan lagi harimau di balik semak-semak, melainkan headline berita yang judulnya "Siap-siap, Ekonomi Tahun Depan Bakal Gelap Gulita".
Kita merasa kalau kita tahu banyak berita buruk, kita jadi lebih "siap" menghadapi masa depan. Padahal, yang terjadi justru sebaliknya. Bukannya makin siap, kita malah makin lumpuh karena kecemasan berlebih. Kita terjebak dalam ilusi kontrol. Kita merasa kalau sudah tahu semua skenario terburuk, kita nggak bakal kaget lagi. Kenyataannya? Ya tetap kaget, tetep cemas, cuma ditambah bonus mata panda dan kurang tidur.
Algoritma: Makelar Kecemasan yang Paling Rajin
Di sinilah sisi "ekonomi" dari doomscrolling bermain. Bagi media sosial, engagement adalah segalanya. Dan tebak konten apa yang paling cepat memicu orang untuk klik, komen, dan share? Konten yang memicu emosi kuat, terutama rasa takut dan marah. Algoritma nggak peduli apakah informasi itu bikin kamu tenang atau malah pengen nangis di pojokan. Selama kamu masih di aplikasi, mereka menang.
Setiap kali kamu berhenti sejenak di video soal harga rumah yang makin nggak masuk akal buat milenial, algoritma bakal mencatat: "Oh, orang ini suka konten horor finansial." Lalu, bum! Besoknya isi feed kamu penuh dengan berita inflasi, harga cabai naik, sampai prediksi kiamat internet. Ini adalah siklus yang sangat menguntungkan bagi pengiklan, tapi bikin dompet mental kita makin tiris. Kita bukan lagi konsumen informasi, kita adalah bahan bakar dari ekonomi perhatian ini.
Dampaknya ke Psikologis: Masa Depan yang Selalu Mendung
Efek dari doomscrolling ini nggak main-main buat kesehatan mental anak muda sekarang. Ada semacam rasa lelah yang sifatnya kolektif. Kita jadi merasa masa depan itu nggak ada harapan sama sekali. Istilah kerennya, existential dread. Kita jadi sering mikir, "Buat apa nabung kalau nanti ada krisis besar?" atau "Buat apa kerja keras kalau AI bakal menangin segalanya?"
Kecemasan ini pelan-pelan menggerogoti optimisme kita. Kita jadi kehilangan kemampuan untuk melihat peluang karena pandangan kita tertutup oleh "kabut" berita buruk. Padahal, kalau kita mau jujur, berita itu seringkali dilebih-lebihkan demi klik semata. Dunia memang nggak baik-baik saja, tapi nggak setiap hari juga dunia mau kiamat, kan?
Gimana Caranya Biar Nggak "Kena Mental"?
Berhenti total dari internet di zaman sekarang itu hampir mustahil, kecuali kamu mau hidup di tengah hutan jadi pertapa. Tapi, kita bisa kok membatasi asupan "racun" digital ini. Caranya bukan dengan sok-sokan kuat, tapi dengan bikin strategi.
- Atur Jam "Piket" Berita: Cukup baca berita di jam-jam tertentu saja, misalnya pagi hari sambil ngopi. Hindari buka portal berita atau Twitter (sekarang X) satu jam sebelum tidur. Kasihan otak kamu, butuh istirahat dari hiruk-pikuk dunia.
- Audit Akun yang Diikuti: Coba cek following kamu. Kalau ada akun yang isinya cuma marah-marah atau bikin kamu ngerasa payah soal finansial, nggak usah ragu buat unfollow atau mute. Lindungi kedamaian pikiranmu seolah-olah itu adalah aset paling berharga.
- Cari Konten Penyeimbang: Algoritma itu bisa dilatih. Mulailah cari konten hobi, resep masakan, atau video kucing lucu buat menetralisir feed kamu. Biar algoritma mikir, "Oh, dia udah tobat dari konten doomscrolling."
- Ingat Bahwa Headline Bukan Realita Seutuhnya: Berita buruk selalu lebih laku dijual daripada berita baik. Hanya karena beritanya horor, bukan berarti hidupmu bakal langsung hancur besok pagi.
Menutup Layar, Kembali ke Dunia Nyata
Dunia memang punya banyak masalah, tapi kita nggak akan bisa menyelesaikannya kalau kita sendiri sudah tumbang duluan karena stres. Doomscrolling economy bakal terus ada selama kita memberikan perhatian penuh pada ketakutan kita sendiri. Sesekali, taruhlah ponsel itu. Tarik napas dalam-dalam, lihat ke luar jendela, atau sekadar ngobrol sama teman tanpa perlu ngebahas soal resesi.
Masa depan itu memang misteri, tapi kecemasan yang kita pupuk lewat jempol di layar HP nggak akan pernah jadi solusi. Jadi, buat malam ini, mendingan matikan koneksi internet, tutup matamu, dan kasih otak kamu kesempatan buat mimpi indah—bukannya mimpi buruk soal grafik ekonomi yang lagi terjun bebas.
Next News

Soft saving vs YOLO spending: nabung pelan atau nikmatin hidup sekarang?
2 days ago

Adaptasi cepat: "survival skill" utama Gen Z di dunia yang terus berubah
2 days ago

Self-preparedness: skill penting yang jarang diajarkan di Sekolah!
3 days ago

Bukan Sekadar Tinta: Membedah Ritual Rasa Sakit dan Komitmen di Balik Seni Tato
in 5 hours

Shortcut Menuju Melarat: Membongkar Algoritma dan Manipulasi Psikologi di Balik Slot Gacor
in 5 hours

FOMO vs realita: tekanan sosial di era semua serba update
3 days ago

Climate Anxiety: Kenapa Berita Lingkungan Bikin Kita Sesak?
3 days ago

Kenapa Petinggi Korporat Sekarang Lebih Pilih Ransel daripada Pakai Koper?
4 days ago

Keren Sejak Dulu! Intip Skena Musik Indonesia Zaman Kolonial
4 days ago

Penyelamat Nasi Putih: Bagaimana Sambal Menjadi Simbol Kemewahan Paling Murah di Indonesia
3 days ago



