Fashion: Instrumen Politik Paling Tua yang Jarang Disadari
Shannon - Wednesday, 03 June 2026 | 01:00 PM


Lebih dari Sekadar OOTD: Kenapa Fashion Itu Sebenarnya Gerakan Politik?
Pernah nggak sih lo lagi ngaca, terus mikir, "Kenapa ya hari ini gue milih pakai kaos hitam polos sama celana cargo?" Mungkin jawaban paling gampang adalah karena nyaman atau biar kelihatan skena banget. Tapi, kalau kita tarik benang merahnya lebih jauh, pilihan baju yang nempel di badan kita itu bukan cuma urusan estetik doang. Fashion itu, percaya nggak percaya, adalah salah satu instrumen politik paling tua dan paling berisik di dunia.
Jangan bayangin politik itu cuma soal debat capres di TV yang urat lehernya pada keluar. Politik dalam fashion itu lebih halus, tapi nancep. Ia soal identitas, soal siapa yang punya kuasa, dan soal gimana kita pengen dunia ngelihat posisi kita. Kalau kata orang-orang pinter di luar sana, "Fashion is the most immediate form of self-expression." Dan ekspresi diri, di ruang publik, adalah tindakan politik.
Bukan Sekadar Kain, Tapi Pernyataan Kelas
Dulu banget, di zaman kerajaan atau kolonial, fashion itu jadi pembatas yang sangat tegas. Ada yang namanya Sumptuary Laws, peraturan yang ngatur siapa boleh pakai kain jenis apa. Kalau lo bukan bangsawan tapi berani pakai sutra ungu atau motif batik tertentu yang khusus raja, wah, urusannya bisa panjang. Bisa-bisa kepala taruhannya.
Di Indonesia sendiri, ingat nggak gimana dulu para pejuang kita mulai pakai jas dan dasi buat nunjukin kalau mereka setara sama penjajah Belanda? Atau gimana Bung Karno konsisten pakai peci hitam? Peci itu bukan cuma penutup kepala biar nggak kepanasan, tapi simbol perlawanan dan identitas nasionalisme yang sengaja dipopulerkan buat nyatuin rakyat. Itu fashion, dan itu politik murni.
Subkultur: Ketika Baju Jadi "Middle Finger" buat Sistem
Masuk ke era yang lebih modern, kita kenal yang namanya Punk. Jaket kulit coret-coret, peniti di mana-mana, dan rambut mohawk bukan muncul karena mereka nggak punya sisir. Itu adalah protes terhadap kemapanan ekonomi dan sosial di Inggris tahun 70-an. Mereka pakai baju yang "rusak" buat bilang kalau sistem di sekitar mereka juga lagi rusak.
Atau lihat gimana tren "Genderless Fashion" sekarang lagi naik daun. Dulu, kalau cowok pakai rok atau baju warna pink, pasti langsung di-judge macam-macam. Sekarang, banyak anak muda yang mendobrak batas itu. Pakai baju yang dianggap "cewek" oleh masyarakat adalah cara mereka bilang kalau gender itu spektrum, bukan kotak yang kaku. Ini adalah politik tubuh. Kita lagi merebut kembali hak kita buat menentukan gimana tubuh kita ditampilkan, tanpa perlu dengerin bacotan norma usang.
Pilihan Belanja Adalah "Voting"
Nah, buat kaum mendang-mending yang sering belanja di thrifting atau malah hobi borong di toko fast fashion, sadar nggak kalau dompet kita itu kayak surat suara? Di era sekarang, isu lingkungan itu jadi isu politik yang panas banget. Pas lo milih buat nggak beli baju di brand besar yang dituduh mempekerjakan buruh dengan upah murah (sweatshops), lo lagi melakukan aksi politik.
Mendukung brand lokal yang punya prinsip sustainable atau belanja baju bekas (thrifting) adalah cara kita buat protes terhadap kapitalisme gila-gilaan yang ngerusak bumi. Jadi, pas lo bangga pamer hasil thrifting di Instagram dengan caption "harta karun 50 ribu," secara nggak langsung lo lagi bilang kalau lo nggak setuju sama budaya konsumerisme yang eksploitatif. Keren, kan?
Seragam dan Simbol Kekuasaan
Pernah perhatiin nggak kenapa para politisi kalau lagi kampanye sering pakai kemeja putih yang lengannya digulung? Atau pakai baju adat pas pidato kenegaraan? Itu bukan kebetulan, ada stylist atau konsultan citra di belakangnya. Lengan digulung itu simbol "siap kerja," sementara baju adat itu simbol "gue merakyat dan peduli budaya."
Fashion dipakai buat memanipulasi persepsi publik. Di dunia korporat pun sama. "Power suit" atau blazer bahu lebar yang dipakai perempuan di kantor bukan cuma biar kelihatan rapi, tapi buat ngebangun aura otoritas di lingkungan yang sering kali masih didominasi laki-laki. Baju itu tameng, sekaligus senjata.
Kesimpulan: Kita Semua Berpolitik Setiap Pagi
Jadi, setiap kali lo buka lemari baju di pagi hari, lo sebenarnya lagi milih narasi apa yang mau lo bawa hari ini. Apakah lo mau jadi bagian dari sistem, mau memberontak, atau mau nunjukin solidaritas terhadap isu tertentu. Fashion itu politik karena ia melibatkan keputusan-keputusan yang berdampak pada cara orang lain memperlakukan kita dan cara kita memandang dunia.
Nggak perlu jadi aktivis yang orasi di depan gedung DPR buat berpolitik. Cukup dengan sadar apa yang lo pakai, tahu asal-usulnya, dan berani tampil beda demi prinsip yang lo yakini, itu udah cukup buat bikin pernyataan. Jadi, masih mau bilang kalau fashion itu cuma urusan dangkal soal gaya-gayaan doang? Kayaknya sih, kita perlu mikir ulang sambil benerin kerah baju kita masing-masing.
Karena pada akhirnya, apa yang nempel di badan lo adalah pesan yang paling jujur yang bisa lo kasih ke dunia, tanpa perlu ngomong sepatah kata pun.
Next News

Tips Pilih Warna Baju Saat Cuaca Panas Biar Tetap Nyaman dan Adem
in 4 hours

5 Tips Mengubah Nasib Apes Jadi Hari yang Tetap Produktif
15 hours ago

Bukan Mood Swing Semata, Ini 4 Fase yang Dialami Wanita Setiap Bulan
16 hours ago

Solusi Bebas Antre BBM: Haruskah Ganti ke Mobil Listrik/Hybrid Sekarang?
5 days ago

Mengapa Kita Malah Beres-Beres Saat Ada Tugas? Ini Jawabannya
5 days ago

Merah Cat atau Darah? Menguak Misteri Jembatan Merah Surabaya
8 days ago

Team Bedong vs Team M-Shape, Mana yang Lebih Baik untuk Bayi?
8 days ago

Pilih Sepatu Olahraga Tepat Biar Kaki Stabil dan Bebas Cedera
9 days ago

Tren Dompet, Pouch dan Tas Mini: Solusi Praktis Tanpa Ransel Berat
9 days ago

Pilih Estetika Totebag atau Fungsi Ransel? Ini Panduannya!
11 days ago






