Bukan Lagi Soal Gengsi, Thrifting Kini Jadi Aksi Peduli Bumi
Shannon - Tuesday, 02 June 2026 | 11:00 AM


Seni Berburu Harta Karun di Balik Wangi Apek: Mengapa Thrifting Masih Jadi Juara di Hati Anak Muda
Dulu, kalau kita ketahuan pakai baju bekas orang lain, rasanya mungkin agak tengsin. Ada stigma yang nempel kalau baju "second" itu identik sama ekonomi sulit atau nggak mampu beli baju baru di mall. Ibu-ibu kita dulu sering wanti-wanti, "Jangan beli baju di karung, nanti gatal-gatal!" Tapi coba lihat sekarang. Keadaan berbalik 180 derajat. Thrifting bukan lagi soal keterpaksaan ekonomi, melainkan sebuah gaya hidup, pernyataan politik terhadap industri fast fashion, dan tentu saja: ajang pamer "hidden gem" dengan harga miring.
Dunia thrifting atau berburu barang preloved ini memang punya daya tarik yang magis. Bayangkan saja, kamu masuk ke pasar yang pengap, bau keringat bercampur aroma parfum laundry yang khas (dan jujur saja, agak aneh), lalu tanganmu sibuk mengacak-acak tumpukan kain setinggi gunung. Di tengah keputusasaan itu, tiba-tiba jari kamu menyentuh bahan denim yang kokoh atau label brand Jepang yang masih mulus. Boom! Rasanya seperti menang lotre. Dopamin langsung membanjiri otak. Itu bukan sekadar belanja, itu adalah kemenangan.
Dari Pasar Senen hingga Kurasi Estetik Instagram
Kalau kita bicara soal thrifting di Indonesia, kita nggak bisa lepas dari nama-nama legendaris seperti Pasar Senen di Jakarta, Gedebage di Bandung, atau Pasar Turi di Surabaya. Tempat-tempat ini adalah "tanah suci" bagi para pencari harta karun. Di sini, kesabaran adalah koentji. Kamu harus siap berkeringat, siap adu tawar dengan pedagang yang lebih galak dari dosen pembimbing, dan siap dengan mata yang jeli melihat mana noda yang bisa hilang dan mana yang permanen.
Namun, seiring berjalannya waktu, wajah thrifting mengalami pergeseran. Muncul istilah "curated thrift shop" di Instagram atau TikTok. Barang-barangnya sudah dicuci wangi, difoto dengan model yang estetik, dan diberi deskripsi yang sangat menggoda. Harganya? Ya jelas beda jauh sama harga tumpukan karung. Di sini muncul perdebatan menarik: apakah ini masih disebut thrifting atau sekadar bisnis baju bekas yang digentrifikasi? Banyak yang protes karena harga baju preloved di toko kurasi kadang nggak masuk akal, bahkan lebih mahal dari harga baju baru di toko retail fast fashion saat diskon. Tapi ya, itulah nilai dari sebuah kurasi dan kenyamanan. Nggak semua orang punya waktu dan tenaga buat "nyakar" di pasar selama berjam-jam, kan?
Lebih dari Sekadar Gaya, Ini Soal Ideologi
Kenapa sih anak muda sekarang sebegitu cintanya sama barang preloved? Selain karena alasan dompet yang sering tipis di akhir bulan, ada kesadaran lingkungan yang mulai tumbuh. Kita semua tahu kalau industri fashion adalah salah satu penyumbang polusi terbesar di dunia. Tren yang ganti setiap minggu bikin orang terus-terusan beli baju murah yang kualitasnya cuma bertahan lima kali cuci. Dengan thrifting, kita secara nggak langsung memperpanjang usia pakai sebuah pakaian. Kita menyelamatkan satu jaket vintage dari tempat pembuangan sampah.
Selain itu, ada faktor eksklusivitas. Pakai baju dari brand mall sejuta umat itu risikonya besar: kamu bisa saja berpapasan dengan orang yang pakai baju persis sama di lampu merah atau di kondangan mantan. Horor, kan? Dengan thrifting, kemungkinan kamu nemu baju yang sama persis itu hampir nol. Kamu bisa tampil beda dengan gaya yang benar-benar personal. Mau gaya ala skena 90-an, vintage 70-an, atau gaya "bapak-bapak mau mancing" yang lagi ngetren itu? Semuanya ada kalau kamu cukup telaten mencarinya.
Sisi Gelap dan Etika yang Perlu Diperhatikan
Tapi, jangan salah sangka. Thrifting juga punya sisi gelap yang sering jadi bahan obrolan hangat di media sosial. Salah satunya adalah soal kenaikan harga yang bikin masyarakat kelas bawah—yang memang benar-benar butuh baju murah buat kebutuhan pokok—jadi tersisih. Ketika orang-orang berduit mulai memborong barang di pasar loak buat dijual lagi dengan harga selangit, esensi thrifting sebagai solusi pakaian murah jadi bergeser. Ini yang sering disebut sebagai gentrifikasi thrifting.
Belum lagi soal regulasi pemerintah yang kadang melarang impor baju bekas dengan alasan kesehatan dan perlindungan industri tekstil dalam negeri. Ini dilema yang cukup pelik. Di satu sisi, kita ingin mendukung ekonomi lokal, tapi di sisi lain, limbah tekstil dari luar negeri ini sudah telanjur menjadi pasar yang menghidupi banyak orang kecil di daerah-daerah. Sebagai konsumen, kita dituntut untuk lebih bijak. Jangan sampai semangat "go green" kita cuma jadi kedok buat perilaku konsumtif yang sama saja parahnya.
Tips Biar Nggak Zonk Saat Berburu
Buat kamu yang baru mau terjun ke dunia persilatan baju bekas ini, ada beberapa tips biar pengalamanmu nggak berakhir tragis:
- Cek Kondisi Detail: Perhatikan bagian ketiak (apakah kuning?), kerah, dan bagian bawah celana. Jangan sampai menyesal karena ada lubang kecil yang terlewat.
- Jangan Malu Menawar: Di pasar offline, menawar adalah sebuah kewajiban seni. Tapi ingat, nawarnya pakai perasaan, jangan sadis-sadis amat sama pedagang kecil.
- Wajib Cuci Bersih: Begitu sampai rumah, langsung rendam pakai air panas dan deterjen anti-bakteri. Kita nggak pernah tahu baju itu sudah lewat mana saja sebelum sampai di tangan kita.
- Kenali Ukuran Tubuh: Ukuran baju vintage seringkali berbeda dengan ukuran standar zaman sekarang. Ukuran L tahun 80-an bisa jadi setara XL sekarang. Jadi, kalau nggak bisa coba, pastikan kamu tahu lingkar dada atau panjang bajunya.
Pada akhirnya, thrifting adalah tentang perjalanan. Tentang bagaimana kita menghargai sebuah benda dari masa lalu dan memberikannya nyawa baru. Entah kamu mencarinya di tumpukan baju pasar yang panas atau lewat sekali klik di layar smartphone, thrifting mengajarkan kita bahwa gaya itu nggak harus selalu baru dan nggak harus selalu mahal. Yang penting adalah bagaimana kita percaya diri membawakannya. Jadi, sudah siap "nyakar" lagi akhir pekan ini?
Next News

Usulan Bahasa Prancis di Sekolah: Ambisi Diplomasi atau Beban Baru Pendidikan?
4 hours ago

Hati-Hati Jebakan Autodebet: Kenapa Gaji Cepat Habis Tiap Bulan?
4 days ago

Rahasia Sukses Pilih Kampus: Luar Negeri atau Dalam Negeri?
8 days ago

Stevia: Pemanis Alami Terbaik untuk Gaya Hidup Sehat Anak Muda
7 days ago

Tensi Timur Tengah Memanas: Dompet Dunia Mulai Terasa Berat
7 days ago

Hobi Seblak dan Boba? Kenali Risiko PCOS pada Wanita Muda
8 days ago

Rekor Gila Drake di 2026: Dominasi Total Top 10 ARIA Charts
8 days ago

Unik! Kolaborasi Pikachu dan Penyanyi Dangdut Guncang Jakarta 2026
8 days ago

Mengapa Baju Murah Justru Bikin Kita Boros? Berikut Penjelasannya
8 days ago

Mengenal "Sugar Level/Sweetness Level" pada Minuman: Mana yang Benar-Benar Rendah Gula?
8 days ago





