Ceritra
Ceritra Update

Jangan Kaget! 122 Program Studi Resmi Dihapus Tahun Ini

Shannon - Thursday, 04 June 2026 | 03:00 PM

Background
Jangan Kaget! 122 Program Studi Resmi Dihapus Tahun Ini
(ChatGPT/)

122 Prodi Pamit Undur Diri: Ketika Ijazah Bukan Lagi Jaminan dan Kampus Mulai Berbenah

Bayangkan kamu sudah capek-capek begadang buat ngerjain revisi skripsi, eh tiba-tiba denger kabar kalau jurusan yang kamu bangga-banggakan itu masuk daftar "almarhum". Rasanya pasti campur aduk, antara pengen nangis atau pengen ketawa getir. Nah, fenomena ini bukan sekadar horor di siang bolong, tapi kenyataan pahit yang lagi terjadi di dunia pendidikan tinggi kita. Baru-baru ini, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendikti Saintek), Brian Yuliarto, ngebuka data yang cukup bikin dahi berkerut: ada total 122 program studi (prodi) yang resmi ditutup sepanjang tahun 2024 menuju 2026 ini.

Angka 122 itu nggak sedikit, lho. Kalau dikumpulin, itu sudah bisa buat bikin satu universitas raksasa sendiri. Tapi ya mau gimana lagi, dunia berubah secepat tren TikTok. Apa yang dulu dianggap "aman" buat masa depan, sekarang bisa jadi nggak relevan lagi. Pak Brian Yuliarto sendiri menegaskan kalau langkah ini diambil bukan buat nakut-nakutin mahasiswa, tapi demi efisiensi dan memastikan kalau lulusan kampus itu beneran punya skill yang dibutuhin pasar kerja, bukan cuma sekadar punya gelar buat dipajang di undangan nikahan.

Kenapa Sih Harus Ditutup?

Sebelum kita masuk ke daftar 8 prodi yang paling banyak kena "kapak merah", kita perlu tahu dulu alasannya. Biasanya, prodi ditutup karena tiga hal klasik: sepi peminat (kayak hati yang lagi jomblo), nggak lulus akreditasi, atau kurikulumnya yang sudah dianggap kuno banget. Selain itu, kebijakan pemerintah sekarang lagi gencar-gencarnya soal link and match. Intinya, kalau kampus cuma nyetak pengangguran baru, ya mending jurusannya dipensiunkan saja.

Oke, mari kita bedah 8 kategori prodi yang paling banyak "pamit" dari peredaran berdasarkan data terbaru yang beredar di lingkungan kementerian:

1. Manajemen dan Akuntansi (Versi Jenuh)

Lho, bukannya ini prodi sejuta umat? Justru itu masalahnya. Karena saking banyaknya kampus yang buka jurusan ini, pasar kerja jadi luber. Supply lebih besar dari demand. Akibatnya, banyak prodi Manajemen atau Akuntansi di kampus-kampus kecil yang akhirnya harus rela ditutup atau digabung (merger) karena nggak sanggup bersaing secara kualitas.

2. Sastra Daerah

Ini agak sedih, sih. Sastra daerah punya nilai budaya yang tinggi, tapi sayangnya peminatnya makin menipis dari tahun ke tahun. Gen Z kayaknya lebih tertarik belajar bahasa Korea atau Inggris biar bisa nonton drakor tanpa subtitle. Efeknya? Kelas-kelas di jurusan Sastra Daerah makin sepi, dan akhirnya pihak kampus milih buat menutup prodi ini daripada rugi operasional.

3. Pendidikan (FKIP) Tertentu

Jurusan kependidikan, terutama untuk mata pelajaran yang gurunya sudah terlalu banyak (seperti Pendidikan Ekonomi atau Pendidikan Kewarganegaraan), mulai dikurangi. Pemerintah pengen fokus ke guru-guru di bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) yang memang lagi kritis ketersediaannya.

4. Ilmu Sosial dan Politik

Mirip sama Manajemen, prodi di rumpun Sospol ini juga mengalami saturasi. Kalau kualitas kampusnya nggak benar-benar bagus atau nggak punya jaringan yang kuat, lulusannya sering kali bingung mau kerja apa. Akhirnya, banyak prodi Sospol di universitas swasta yang kecil terpaksa gulung tikar.

5. Agribisnis dan Pertanian Konvensional

Ironis memang di negara agraris, tapi minat anak muda ke sektor pertanian tradisional itu rendah banget. Prodi pertanian yang masih pakai kurikulum lama, yang nggak nyentuh teknologi 4.0 atau smart farming, biasanya bakal ditinggalin calon mahasiswa dan berakhir di daftar penutupan.

6. Teknik Tertentu yang Outdated

Teknik itu nggak selamanya aman. Beberapa cabang teknik yang sudah mulai digantikan oleh otomasi atau yang industrinya mulai redup di Indonesia juga kena imbas. Kalau kurikulumnya nggak segera di-update ke arah digital, ya wassalam.

7. Kesehatan (Non-Dokter/Perawat Spesialis)

Beberapa sekolah tinggi kesehatan yang cuma punya prodi tingkat diploma dengan fasilitas seadanya juga banyak yang ditutup. Standar kesehatan sekarang tinggi banget, nggak bisa cuma modal ruang kelas dan tensimeter doang.

8. Sains Dasar (Murni)

Matematika murni atau Fisika murni di kampus-kampus tertentu sering kali jadi korban. Masalah utamanya tetap sama: peminat yang dikit banget. Banyak orang tua yang masih mikir "Nanti kalau lulus mau jadi apa kalau bukan dosen?" Pola pikir ini yang bikin prodi sains murni sering kali nggak terpenuhi kuotanya.

Bukan Kiamat, Tapi Transformasi

Jangan langsung panik dan mau pindah jurusan kalau prodi kamu ada di daftar atas. Penutupan ini sebenarnya adalah bagian dari proses "bersih-bersih" nasional. Brian Yuliarto dan timnya di Kemendikti Saintek pengen memastikan kalau setiap rupiah yang dikeluarin orang tua buat bayar UKT itu ada hasilnya. Nggak ada gunanya kuliah 4 tahun kalau ilmunya sudah basi sebelum wisuda.

Fenomena ini sebenarnya ngasih pesan tersirat buat kita semua: adapt or die. Kampus dituntut buat lebih kreatif. Misalnya, daripada buka prodi Manajemen konvensional, kenapa nggak bikin Digital Bisnis? Daripada Sastra doang, kenapa nggak Creative Writing yang fokus ke industri konten? Dunia lagi butuh orang-orang yang bisa navigasi di tengah gempuran AI dan ketidakpastian ekonomi.

Buat kamu yang masih sekolah atau lagi mau daftar kuliah, pesan dari para pakar cuma satu: riset! Jangan cuma ikut-ikutan teman atau milih jurusan karena namanya keren. Lihat akreditasinya, cek gimana nasib alumninya, dan yang paling penting, tanya ke diri sendiri: apakah skill dari jurusan ini masih bakal kepake 10 tahun lagi? Karena di tahun 2026 nanti, gelar sarjana mungkin cuma selembar kertas kalau nggak dibarengi dengan critical thinking dan kemampuan adaptasi yang gila-gilaan.

Jadi, kalau ada 122 prodi yang tutup, mungkin bakal ada 122 peluang baru di bidang teknologi hijau, kecerdasan buatan, atau ekonomi kreatif yang bakal muncul. Tugas kita bukan buat meratapi yang hilang, tapi buat siap-siap loncat ke gerbong masa depan yang lebih menjanjikan. Semangat kuliahnya, ya! Jangan lupa tetap waras di tengah gempuran berita penutupan prodi ini.

Logo Radio
🔴 Radio Live