Bisnis Minuman Teh Kekinian ala China: Pilihan Makin Banyak Peluang Makin Cuan?
Shannon - Wednesday, 03 June 2026 | 03:00 PM


Gempuran Teh Impor: Ketika Lidah Kita Dijajah Brand Asing yang Nggak Ada Habisnya
Coba deh kamu jalan-jalan ke mall atau sekadar melipir ke ruko-ruko di pinggir jalan yang dulunya jualan pulsa atau laundry. Sekarang, pemandangannya sudah beda total. Kalau bukan Mixue yang logonya ada di mana-mana, pasti ada saingan barunya. Fenomena ini bikin kita mikir: perasaan dulu kita cuma kenal es teh manis plastik bening yang diikat karet dua, kok sekarang urusan minum teh saja pilihannya lebih banyak daripada pilihan jodoh di aplikasi kencan?
Belum selesai kita terheran-heran sama masifnya ekspansi si "Malaikat Pencari Ruko Kosong", sekarang muncul rombongan baru yang nggak kalah agresif. Ada Tianlala dengan porsi raksasanya, Shuyi yang fokus ke "tealicious" dengan topping melimpah, Tezzi yang tampilannya lebih sleek, sampai Sancha yang mulai merayap masuk ke berbagai sudut kota. Sepertinya, pasar minuman di Indonesia lagi benar-benar "digempur" dari segala sisi oleh brand-brand asal luar negeri, khususnya dari Tiongkok.
Dulu Es Teh Warteg, Sekarang "Fruit Tea" dengan Potongan Semangka Seukuran Jempol
Kalau kita ingat-ingat lagi, dulu standar kemewahan minum teh itu paling mentok adalah beli teh kemasan botol kaca yang dingin banget di warung. Atau kalau lagi agak "sultan" dikit, kita lari ke gerai teh yang ada di mall dengan logo warna ungu itu. Tapi sekarang? Trennya sudah bergeser. Kita nggak cuma beli air rasa teh, kita beli "pengalaman visual".
Coba lihat Tianlala. Mereka datang dengan konsep yang bikin dompet anak kos tersenyum tapi perut kenyang. Dengan harga yang beda tipis sama seporsi ayam geprek, kamu bisa dapat gelas seukuran galon mini yang isinya potongan buah segar. Ada semangka, jeruk nipis, sampai markisa. Minumnya berasa sehat padahal gula yang masuk juga tetap bikin panik kalau dibahas di depan dokter gizi. Tapi ya itu kuncinya, estetika dan volume adalah segalanya buat pasar Indonesia.
Lalu ada Shuyi Tealicious. Brand ini punya pendekatan yang agak beda. Kalau kamu tipe orang yang kalau minum harus ada yang dikunyah selain es batu, Shuyi adalah jawabannya. Topping grass jelly mereka itu legendaris. Rasanya kayak makan dessert tapi dalam bentuk minuman. Di sini kita bisa lihat pergeseran perilaku konsumen: kita nggak cuma haus, kita cuma pengen mulut kita sibuk aja pas lagi bengong atau ngerjain tugas.
Kenapa Brand Luar Ini Bisa Begitu Merajalela?
Mungkin ada yang tanya, "Kok bisa ya mereka secepat itu nyebar?" Jawabannya simpel: modal gede, riset matang, dan sistem franchise yang gila-gilaan. Brand seperti Tezzi atau Sancha itu datang nggak dengan tangan kosong. Mereka bawa teknologi manajemen stok yang rapi dan standar rasa yang konsisten. Mau kamu beli di Jakarta, Surabaya, atau mungkin pelosok kabupaten, rasanya bakal sama.
Selain itu, mereka pintar banget baca psikologi orang Indonesia yang hobi FOMO (Fear of Missing Out). Begitu ada satu brand buka dan viral di TikTok, semua orang merasa harus coba supaya nggak ketinggalan obrolan di tongkrongan. Belum lagi urusan packaging. Gelas plastik yang kokoh, desain yang lucu, sampai sedotan yang nggak gampang lembek itu punya nilai plus di mata konsumen yang hobi posting foto di Instagram Story.
Jangan lupakan juga soal harga. Strategi "harga miring tapi porsi bar-bar" adalah senjata maut. Di tengah kondisi ekonomi yang serba naik, bisa dapet minuman segar, enak, dan "Instagrammable" dengan harga di bawah 20 ribu itu adalah sebuah kemewahan yang terjangkau. Brand-brand ini berhasil mengisi celah antara es teh pinggir jalan yang kurang higienis (di mata sebagian orang) dan cafe mahal yang harganya bikin nangis.
Nasib Brand Lokal di Tengah Kepungan "Pasukan Teh" Asing
Melihat fenomena ini, jujur saja ada sedikit rasa miris kalau kita menengok brand lokal. Bukan berarti brand lokal kita jelek, ya. Kita punya Es Teh Solo, Es Teh Indonesia, atau brand-brand indie lainnya yang nggak kalah enak. Tapi, melawan raksasa yang punya rantai pasok global itu berat banget, kawan.
Brand luar ini punya keunggulan di efisiensi. Mereka punya kebun teh sendiri di negaranya, pabrik cup sendiri, sampai sistem logistik yang terintegrasi. Makanya mereka bisa jual murah tapi tetap untung. Sementara brand lokal kita seringkali masih harus berjuang dengan harga bahan baku yang fluktuatif. Tapi tenang, bukan berarti kita kalah total. Beberapa brand lokal mulai beradaptasi dengan cara menonjolkan kearifan lokal seperti rasa teh melati yang khas banget di lidah orang Indonesia, yang kadang nggak bisa ditiru sama teh impor yang cenderung lebih "floral" atau hambar.
Cuma Tren Sesaat atau Bakal Jadi Budaya Baru?
Pertanyaan besarnya: apakah kejayaan Tianlala, Shuyi, Tezzi, dan kawan-kawannya ini bakal bertahan lama? Atau nasibnya bakal sama kayak tren Es Kepal Milo atau Cappuccino Cincau yang sekarang entah ke mana rimba-nya? Kalau melihat pola konsumsi kita, sepertinya teh adalah minuman yang "immortal". Orang Indonesia itu nggak bisa hidup tanpa teh. Bedanya cuma di wadahnya saja.
Gempuran brand asing ini sebenarnya bagus buat kompetisi. Brand lokal jadi dipaksa buat lebih kreatif, lebih bersih, dan lebih pintar jualan. Buat kita sebagai konsumen? Ya, ini adalah surga dunia. Kita punya ribuan pilihan buat membasahi tenggorokan di tengah cuaca Indonesia yang makin hari makin berasa kayak simulasi di dalam oven.
Tapi ya tetap saja, jangan lupa kontrol asupan gula. Jangan sampai karena saking nafsunya nyobain semua menu baru dari Sancha sampai Tezzi, kita malah jadi langganan tetap di klinik kesehatan. Nikmati saja selagi tren ini masih hangat, atau dalam hal ini, selagi es-nya belum mencair. Karena di balik persaingan bisnis triliunan rupiah ini, bagi kita rakyat jelata, yang penting adalah: "Minumannya segar, harganya murah, dan porsinya gede." Itu saja sudah cukup buat bikin hari yang melelahkan jadi sedikit lebih manis.
Jadi, hari ini kamu mau antre di mana? Tianlala yang porsinya kayak ember, atau Shuyi yang topping-nya bikin kenyang sampai besok? Pilih saja, mumpung rukonya masih buka dan belum ganti jadi brand teh yang baru lagi!
Next News

Kenapa Rupiah 17.845 per Dollar Bikin Heboh di Media Sosial?
5 days ago

Kerugian Negara: Saat Bisnis Sawit Beroperasi Seperti Warung Kopi
13 days ago

Suku Bunga BI 5,25 Persen: Dampak Langsung ke Kantong Masyarakat
13 days ago

Kurs Rupiah Anjlok, Saatnya Rem Keinginan Belanja Impulsif
15 days ago

Kurs Dolar AS Cetak Rekor Baru Tembus Rp17.660, Rupiah Terkapar Dihantam Badai Geopolitik dan Sentimen MSCI
16 days ago

IHSG Anjlok 4,64 Persen Jelang Penutupan Sesi I, Investor Dibayangi Tekanan Global
16 days ago

Rekor Kelam Sejarah Baru Ekonomi Indonesia Saat Rupiah Hari ini Terperosok Ke Angka Rp 17.600 Per Dollar AS di Tengah Guncangan Global Mei 2026
19 days ago

Lantai Bursa Berdarah Saat IHSG Terjun Bebas ke Level 6.734 Akibat Badai Rebalancing MSCI dan Rupiah yang Terkapar di Angka 17.525
21 days ago

Update Harga Emas Antam Hari Ini Meledak Hingga Tembus Rp 1.567.000 Per Gram di Tengah Guncangan Ekonomi Global 2026
21 days ago

Antara Cuan, Mimpi Jadi Sultan, dan Realita Pahit: Apa Sih Sebenarnya Crypto Itu?
22 days ago






