Ceritra
Ceritra Uang

Strategi Manajer Investasi Afrika Selatan Borong Aset Murah di RI

Shannon - Wednesday, 08 July 2026 | 05:00 PM

Background
Strategi Manajer Investasi Afrika Selatan Borong Aset Murah di RI
Ilustrasi (Kompas/Adryan Yoga)

Pasar Modal RI Lagi 'Kebakaran', Tapi Kok Investor Afrika Selatan Malah Girang?

Bayangkan kamu lagi jalan-jalan di mall, terus tiba-tiba toko sepatu favorit kamu ngasih diskon gede-gedean sampai 70 persen gara-gara lagi sepi pengunjung. Reaksi kamu apa? Panik karena takut tokonya bangkrut, atau malah gercep ngambil kartu kredit buat borong mumpung murah? Nah, situasi inilah yang sekarang lagi terjadi di pasar keuangan Indonesia, dan tebak siapa yang paling semangat belanja? Bukan tetangga sebelah, tapi manajer investasi raksasa asal Afrika Selatan.

Belakangan ini, layar monitor di Bursa Efek Indonesia (BEI) emang sering banget warnanya merah merona. Banyak investor lokal maupun asing yang lagi "kebakaran jenggot" dan mutusin buat keluar dulu alias selloff. Alasannya klasik: nilai tukar Rupiah yang lagi naik turun kayak roller coaster dan ketidakpastian kebijakan suku bunga di Amerika Serikat yang bikin pusing tujuh keliling. Tapi, di tengah kepanikan itu, Old Mutual Investment Group, perusahaan pengelola dana yang megang aset sekitar 29 miliar dolar AS (kalau dirupiahkan sekitar Rp450 triliun lebih, bayangin itu nolnya ada berapa!), malah melihat ini sebagai peluang emas yang nggak boleh dilewatkan.

Kenapa Harus Indonesia, Padahal Lagi Ribut?

Mungkin banyak dari kita yang mikir, "Ngapain sih jauh-jauh dari Afrika Selatan nyari masalah di sini?" Eits, jangan salah. Bagi mata profesional yang udah biasa makan asam garam pasar berkembang (emerging markets), penurunan harga aset di Indonesia itu ibarat barang branded yang lagi salah harga. Mavis Mhlanga, salah satu petinggi di Old Mutual, bilang kalau valuasi pasar Indonesia itu sekarang seksi banget buat dipinang.

Istilah teknisnya sih "undervalued". Intinya, harga saham dan obligasi kita dianggap jauh lebih murah dibanding nilai aslinya. Fenomena selloff yang terjadi belakangan ini justru bikin Indonesia jadi "gadis cantik yang lagi diskon" di mata investor global. Mereka nggak ngelihat drama jangka pendeknya, tapi mereka ngelihat fundamental ekonomi kita yang sebenarnya masih cukup tangguh. Pertumbuhan ekonomi kita masih stabil di angka 5 persenan, inflasi juga masih relatif terkendali kalau dibandingin negara-negara tetangga yang berantakan.

Politik dan Transaksi: Efek Prabowo-Gibran di Mata Asing

Kita tahu sendiri kalau masa transisi politik dari era Presiden Jokowi ke Prabowo Subianto sempat bikin sebagian investor wait and see. Ada kekhawatiran soal disiplin fiskal atau gimana cara pemerintah baru nanti ngelola utang. Tapi bagi tim Old Mutual, narasi ini justru bagian dari cerita menarik. Mereka merasa bahwa selama pondasi ekonominya nggak digoyang terlalu ekstrem, Indonesia tetap jadi tempat paling menjanjikan di Asia Tenggara.

Ada semacam optimisme kalau Indonesia bakal tetap jadi pemain kunci dalam rantai pasok global, terutama soal komoditas dan nikel. Jadi, meskipun pasar lagi gojang-ganjing gara-gara sentimen global, buat mereka itu cuma bumbu penyedap. Mereka lebih fokus ke narasi jangka panjang soal hilirisasi dan kekuatan konsumsi domestik kita yang emang nggak ada matinya. Selama orang Indonesia masih doyan belanja dan ngopi di kafe, ekonomi kita dianggap masih punya "nyawa".

Strategi "Buy the Dip" ala Sultan

Dalam dunia investasi, ada istilah populer namanya "buy the dip". Artinya sederhana: beli pas harga lagi jatoh. Kedengarannya gampang, tapi nyatanya butuh nyali segede gaban buat ngelakuin itu pas semua orang lagi lari ketakutan. Old Mutual nunjukin kelasnya sebagai manajer investasi kelas dunia dengan masuk ke pasar Indonesia justru di saat Rupiah lagi loyo-loyonya.

Kenapa berani? Karena bagi investor yang pakai mata uang Dollar, aset di Indonesia jadi terasa jauh lebih murah. Ini taktik yang cerdik banget. Mereka dapet dua keuntungan sekaligus: pertama dari potensi kenaikan harga saham/obligasi itu sendiri, dan kedua dari potensi penguatan Rupiah di masa depan. Ibarat dapet promo buy one get two.

Tentu saja, nggak semua orang setuju sama langkah berani ini. Banyak pengamat yang masih mewanti-wanti soal risiko eksternal, kayak perang di Timur Tengah yang nggak kelar-kelar atau ekonomi China yang lagi lesu. Tapi ya itulah seni berinvestasi. Kalau semua orang udah yakin harganya bakal naik, ya harganya udah mahal duluan, nggak ada lagi celah buat cari cuan maksimal.

Pelajaran Buat Kita: Jangan Gampang Panik

Melihat fenomena masuknya dana dari Afrika Selatan ini, ada pelajaran berharga buat kita para investor receh atau masyarakat awam. Seringkali kita itu terlalu emosional kalau ngelihat berita ekonomi yang serem-serem. Pas market merah, kita ikutan jual rugi (cut loss) karena takut duit abis. Padahal, pemain-pemain besar justru lagi nungguin momen itu buat nyerok keuntungan.

Indonesia itu negara besar dengan sumber daya yang luar biasa. Kalau investor dari ujung benua Afrika aja percaya sama masa depan ekonomi kita sampai berani naruh duit triliunan, masa kita yang tinggal di sini malah pesimis? Memang sih, fluktuasi itu pasti ada, dan investasi nggak pernah ada yang pasti 100 persen profit.

Tapi setidaknya, langkah Old Mutual ini ngasih kita perspektif baru: bahwa di balik setiap kepanikan, selalu ada peluang buat mereka yang punya visi jangka panjang dan mental baja. Jadi, kalau besok-besok kamu baca berita pasar modal Indonesia lagi anjlok, jangan buru-buru pengen tutup akun sekuritas. Coba tarik napas dalam-dalam, siapa tahu itu justru saatnya kamu ikutan gaya "Sultan" Afrika Selatan: belanja mumpung lagi murah!

Kesimpulannya, Indonesia tetap jadi primadona di pasar negara berkembang. Meskipun tantangannya segunung, daya tarik kita belum pudar. Masuknya dana segar dari manajer investasi global kayak Old Mutual ini adalah suntikan kepercayaan diri buat pasar lokal. Sekarang tinggal gimana pemerintah dan pelaku pasar di dalam negeri menjaga kepercayaan itu biar nggak cuma numpang lewat doang. Yuk, mari kita pantau terus apakah langkah berani dari Afrika Selatan ini bakal berbuah manis atau malah zonk!

Logo Radio
🔴 Radio Live