Deja Vu, Ketika Otak Kita Terjebak dalam Ilusi Pengulangan Waktu
Nisrina - Monday, 22 December 2025 | 12:13 AM


Pernahkah Anda sedang asyik mengobrol dengan teman di sebuah tempat yang baru pertama kali dikunjungi, lalu tiba-tiba terdiam sejenak karena disergap perasaan aneh? Ada keyakinan kuat yang muncul tiba-tiba bahwa momen tersebut, percakapan itu, hingga posisi duduk Anda saat ini sudah pernah terjadi sebelumnya di masa lalu. Padahal logika Anda bersikeras mengatakan bahwa hal itu tidak mungkin karena ini adalah pengalaman pertama. Sensasi membingungkan namun familiar inilah yang dikenal oleh dunia dengan sebutan déjà vu. Istilah yang diambil dari bahasa Prancis ini secara harfiah memiliki arti "sudah pernah melihat" dan dialami oleh hampir 70 persen populasi manusia setidaknya sekali dalam hidup mereka.
Meskipun fenomena ini sering dikaitkan dengan hal-hal berbau mistis, kehidupan masa lalu, atau bahkan dianggap sebagai firasat masa depan, sains sebenarnya memiliki penjelasan yang jauh lebih logis dan manusiawi. Para ilmuwan memandang déjà vu bukan sebagai pesan supranatural, melainkan sebuah "korsleting" kecil atau gangguan teknis sesaat yang terjadi di dalam sirkuit memori otak kita. Untuk memahaminya, kita perlu melihat otak manusia sebagai sebuah komputer biologis super canggih yang tidak pernah berhenti memproses informasi, namun terkadang bisa juga mengalami kesalahan input data.
Teori yang paling kuat dipegang oleh para peneliti saraf berkaitan dengan cara kita memproses ingatan di bagian otak yang bernama hipokampus. Dalam kondisi normal, pengalaman yang kita alami saat ini akan diproses terlebih dahulu dalam memori jangka pendek sebelum akhirnya disimpan sebagai kenangan di memori jangka panjang. Namun saat déjà vu terjadi, diduga ada kesalahan pengiriman sinyal di mana informasi yang baru saja diterima "bocor" atau masuk terlalu cepat ke sistem memori jangka panjang tanpa melalui antrean yang seharusnya. Akibatnya otak menjadi bingung karena kita merasa sedang "mengingat" sebuah kejadian lama, padahal sebenarnya kita sedang "mengalami" kejadian yang baru saja terjadi sepersekian detik yang lalu. Ini hanyalah ilusi waktu yang diciptakan oleh keterlambatan atau percepatan pemrosesan data di kepala kita sendiri.
Selain teori memori, penjelasan menarik lainnya datang dari konsep persepsi terbelah. Teori ini mengumpamakan déjà vu sebagai akibat dari ketidakkompakan kedua mata kita dalam mengirimkan sinyal visual ke otak. Bayangkan mata kiri dan kanan sebagai dua kamera yang merekam satu objek yang sama. Idealnya sinyal dari kedua mata sampai ke otak secara bersamaan sehingga kita melihat satu gambar utuh. Namun jika salah satu sinyal datang sedikit lebih lambat karena kelelahan atau gangguan fokus, otak akan memproses sinyal pertama sebagai memori dan sinyal kedua yang datang terlambat sebagai kejadian saat ini. Karena kedua gambar itu identik, timbullah perasaan kuat bahwa kita sudah pernah melihat pemandangan tersebut sebelumnya.
Fakta yang cukup menarik adalah frekuensi kejadian ini ternyata berkaitan erat dengan usia dan kondisi fisik seseorang. Déjà vu paling sering dilaporkan terjadi pada kelompok usia muda dalam rentang 15 hingga 25 tahun, dan intensitasnya akan menurun seiring bertambahnya usia serta matangnya sistem saraf otak. Selain itu, faktor gaya hidup juga berpengaruh besar di mana orang yang kurang tidur, sedang dalam kondisi stres tinggi, atau kelelahan fisik yang ekstrem cenderung lebih mudah mengalami sensasi ini. Hal ini sangat masuk akal karena otak yang lelah lebih rentan mengalami kesalahan koordinasi sinyal saraf dibandingkan otak yang bugar.
Pada akhirnya, déjà vu adalah fenomena yang sangat wajar dan umumnya tidak berbahaya bagi kesehatan. Ia bukanlah tanda gangguan jiwa ataupun bukti adanya kehidupan paralel yang sedang bersinggungan. Sensasi unik ini hanyalah sebuah pengingat kecil bagi kita bahwa otak manusia adalah organ yang sangat kompleks dan penuh misteri. Jadi jika suatu saat Anda kembali merasakan sensasi "pernah ada di sini" yang membingungkan itu, nikmati saja momennya sebagai tanda bahwa otak Anda sedang bekerja keras memproses realitas di sekeliling Anda, meskipun kadang ia sedikit tersandung dalam langkahnya.
Next News

Malam Paling Agung di Masjidil Aqsa Saat Nabi Muhammad SAW Menjadi Imam Seluruh Nabi
10 hours ago

4 Lokasi Bersejarah yang Disinggahi dan Menjadi Tempat Sholat Rasulullah Saat Isra' Mi'raj
10 hours ago

Bukan Sekadar Perjalanan, Ini Protokol Langit Saat Nabi Muhammad SAW Naik Buraq
10 hours ago

Langkahnya Sejauh Pandangan Mata, Keajaiban Buraq dalam Peristiwa Isra’ Mi’raj
11 hours ago

Kenapa Rajaban Selalu Dinanti? Tradisi Jawa Rayakan Isra’ Mi’raj dengan Cara Berbeda
11 hours ago

Mengapa Isra’ Mi’raj Terjadi Setelah Tahun Kesedihan? Ini Jawabannya
12 hours ago

Salat Masih Terasa Hampa? Coba Renungi Makna Al-Fatihah Ayat per Ayat
12 hours ago

Bukan Sihir! Penyakit Aneh Ini Bisa Bikin Kamu Mabuk Berat Cuma Gara-gara Sepotong Roti
11 hours ago

Sholat Sering Melamun? Coba 6 Teknik Ini agar Lebih Khusyuk
13 hours ago

Bukan Beban, Ini Alasan Sholat Disebut Hadiah Langsung dari Allah
14 hours ago






