Ceritra
Ceritra Warga

Bongkar Sejarah Flat Shoes: Lebih Seru dari Drakor!

Elsa - Monday, 08 December 2025 | 08:00 PM

Background
Bongkar Sejarah Flat Shoes: Lebih Seru dari Drakor!
Ilustrasi Flat Shoes (Pinterest/)

Sejarah Flat Shoes: Dari Pelindung Kaki Purba hingga Ikon Fashion Abadi

Mulai dari mana ya enaknya kalau ngomongin flat shoes? Jujur aja, sepatu jenis ini tuh udah kayak oksigen buat kaki kita sehari-hari. Nyaman, praktis, stylish, dan yang paling penting, nggak bikin jinjit setengah mati kayak pakai heels. Siapa sih yang nggak punya sepasang, atau bahkan selusin, flat shoes di lemari sepatunya? Mau ke kantor, hangout santai, kondangan dadakan, sampai jalan-jalan seharian pun, flat shoes selalu jadi andalan. Kita seolah nggak bisa hidup tanpanya. Tapi, pernah nggak sih kita mikir, "Kok bisa ya sepatu datar sesederhana ini jadi favorit banyak orang dan bertahan lintas zaman?" Nah, kalau belum, yuk kita bedah tuntas sejarahnya. Dijamin, ceritanya nggak kalah seru dari drama Korea favoritmu!

Flat Shoes: Nenek Moyang Semua Alas Kaki

Kalau kita melirik jauh ke belakang, jauh sebelum ada istilah 'fashion icon' atau 'street style', sepatu itu intinya cuma satu: pelindung kaki. Nggak ada tuh urusan tumit tinggi atau rendah, bling-bling, atau warna-warni ngejreng. Dari zaman Mesir kuno, Romawi, sampai Yunani, sebagian besar alas kaki yang mereka pakai bentuknya ya datar. Mirip sandal jepit modern atau sepatu kulit sederhana yang cuma nutupin telapak kaki. Fungsionalitas jadi raja! Para budak, pekerja, sampai tentara, semuanya pakai alas kaki yang datar biar bisa bergerak bebas dan melindungi kaki dari medan yang nggak ramah.

Heels? Boro-boro! Kalaupun ada, itu juga lebih ke arah platform untuk para aktor atau kalangan bangsawan biar kelihatan lebih gagah, bukan tumit yang bikin kaki jenjang kayak sekarang. Jadi, bisa dibilang, flat shoes itu adalah nenek moyang semua alas kaki kita. Mereka ada sebelum heels hadir dan dan menginvasi dunia fashion dengan segala kemewahannya. Kala itu, sepatu datar adalah standar, tanpa embel-embel gaya atau status. Benar-benar murni demi kenyamanan dan keselamatan. Sesimpel itu. Anti-ribet, pokoknya.

Saat Heels Menginvasi dan Flat Shoes Terpinggirkan

Terus, kok bisa-bisanya flat shoes ini sempat 'tenggelam' ya? Nah, di sinilah drama dimulai. Seiring berjalannya waktu, sekitar abad ke-16 dan ke-17 di Eropa, tumit mulai naik daun. Awalnya malah dipakai cowok-cowok bangsawan lho, biar kelihatan lebih tinggi dan jantan. Kalau di Persia, heels dipakai penunggang kuda biar kakinya nggak gampang lepas dari sanggurdi. Lama-lama, wanita bangsawan Eropa ikutan pakai heels sebagai simbol status, kemewahan, dan keanggunan. Semakin tinggi tumit, semakin tinggi pula derajat sosialnya.

Flat shoes yang tadinya jadi standar, mendadak jadi 'kasta rendah', cuma dipakai para pekerja, petani, atau anak-anak yang dianggap belum pantas pakai heels. Seolah-olah flat shoes ini jadi penanda bahwa kamu bukan siapa-siapa, nggak punya power, dan nggak mengikuti tren. Ironis, kan? Dari penguasa jadi tertindas. Heels benar-benar mengambil alih panggung utama, dan flat shoes harus rela jadi penonton di kursi paling belakang. Tapi namanya juga roda fashion, kadang di atas, kadang di bawah. Nasib flat shoes yang "tersisih" ini tidak bertahan selamanya.

Kebangkitan Sang Idola: Era Ballet Flats

Di tengah 'diskriminasi' terhadap flat shoes ini, ada satu jenis sepatu yang diam-diam jadi benih kebangkitannya: sepatu balet. Siapa sih yang nggak gemes lihat sepatu balet yang mungil, lentur, dan super feminin itu? Sepatu ini, dengan solnya yang tipis dan bentuknya yang menawan, jadi senjata rahasia para penari balet untuk bergerak lincah dan anggun di panggung. Dan di sinilah titik baliknya yang bikin mata melek.

Tahun 1940-an di Amerika, seorang desainer visioner bernama **Claire McCardell** muncul. Dia itu semacam pahlawan mode yang berani mendobrak pakem. Di zamannya, fashion wanita masih identik dengan pakaian yang kaku, korset, dan sepatu hak tinggi yang nggak praktis. McCardell, yang dikenal dengan gaya American sportswear-nya yang kasual dan nyaman, punya ide brilian. Dia kepikiran, "Kenapa ya sepatu balet yang nyaman dan cantik itu cuma dipakai di panggung aja?" Dia pun bekerja sama dengan sebuah merek sepatu dansa terkenal, **Capezio**, untuk menciptakan sepatu balet yang bisa dipakai sehari-hari. Jadilah mereka sepatu balet dengan sol luar yang lebih kuat, siap tempur di jalanan. Ini adalah revolusi kecil yang dampaknya besar!

Tapi, kalau cuma desainer yang pakai, mungkin nggak akan se-booming ini. Flat shoes butuh 'endorsement' dari selebriti kelas kakap. Dan voila! Datanglah sang ikon kecantikan, **Audrey Hepburn**. Aktris legendaris ini adalah ratunya gaya effortless chic. Di film "Funny Face" (1957), Hepburn tampil memukau dengan celana capri, atasan sederhana, dan sepasang flat shoes. Seketika, jutaan wanita di seluruh dunia terpikat. Mereka sadar: "Ternyata tampil anggun dan stylish itu nggak harus pakai heels yang menyiksa!" Pengaruh Audrey Hepburn di dunia fashion memang nggak kaleng-kaleng!

Nggak cuma Audrey, ada juga diva Prancis yang nggak kalah mempesona, **Brigitte Bardot**. Dia bahkan secara khusus meminta Rose Repetto, pendiri merek sepatu Repetto, untuk membuatkan sepatu balet yang bisa dia pakai di luar panggung. Lahirlah sepatu ikonik "Cendrillon" (Cinderella) yang super lentur dan nyaman, bikin Bardot terlihat seksi dan chic tanpa harus berjinjit. Sejak itu, ballet flats nggak lagi cuma jadi properti panggung, tapi jadi statement fashion yang wajib punya. Dari situlah, flat shoes mulai merangkak naik lagi ke puncak popularitas, menyingkirkan pandangan bahwa sepatu datar itu kampungan.

Enam Puluhan dan Seterusnya: Kenyamanan Adalah Kunci

Masuk ke era 1960-an, dunia fashion makin liar dan berani. Gaya Mod dengan rok mini, warna-warna cerah, dan siluet yang playful lagi jadi primadona. Dan coba tebak, sepatu apa yang paling cocok buat menemani gaya ini? Tentu saja flat shoes! Mary Janes yang imut, loafers yang klasik, atau sepatu oxford yang chic, semuanya nge-blend sempurna dengan vibe kaum muda yang ingin tampil beda, bebas, dan nggak ribet. Generasi ini mulai menolak 'kekangan' fashion lama yang serba kaku. Kenyamanan dan kebebasan berekspresi jadi mantra baru.

Seiring dengan semakin banyaknya wanita yang masuk ke dunia kerja dan memiliki gaya hidup yang lebih aktif, flat shoes jadi jawaban atas kebutuhan mereka. Mereka butuh sepatu yang nggak cuma cantik, tapi juga fungsional, tahan banting dipakai meeting ke sana kemari, dan tetap terlihat profesional. Mulai dari sepatu boat, espadrilles yang santai buat liburan musim panas, sampai mules yang praktis tinggal slup, semua jenis flat shoes ini menemukan tempatnya di hati para fashionista dan wanita karier. Bahkan, tren sneakers yang dulunya cuma buat olahraga, perlahan-lahan ikut masuk ke ranah fashion kasual, semakin mengukuhkan dominasi alas kaki datar. Ini membuktikan bahwa kenyamanan itu adalah kunci yang tak lekang oleh waktu, dan pilihan flat shoes pun makin bejibun.

Flat Shoes di Era Modern: MVP Fashion yang Tak Tergantikan

Hari ini, flat shoes sudah jadi bagian tak terpisahkan dari lemari sepatu kita. Mau gaya formal, semi-formal, kasual, bahkan sampai ke acara yang agak fancy pun, flat shoes bisa banget diandalkan. Ada ballet flats dengan pita yang manis, loafers yang memberi kesan sophisticated, mules yang effortless chic, Mary Janes yang retro, sampai espadrilles yang bikin auto-liburan. Pilihan warnanya? Nggak usah ditanya, bejibun! Dari warna-warna netral yang aman sampai warna neon yang berani, semua ada. Flat shoes telah bertransformasi menjadi salah satu MVP (Most Valuable Player) di dunia mode.

Bahkan, dunia fashion yang seringkali aneh-aneh dan penuh kejutan pun nggak bisa lepas dari pesona flat shoes. Para desainer papan atas seringkali menampilkan flat shoes di panggung runway mereka, membuktikan bahwa sepatu datar ini nggak kalah elegan dari stiletto paling mahal sekalipun. Apalagi dengan tren athleisure dan "quiet luxury" yang lagi booming, di mana kenyamanan dan kesederhanaan justru jadi standar kemewahan baru, flat shoes jelas-jelas jadi pahlawan. Kita bisa lihat bagaimana mereka bertransformasi, dari sekadar pelindung kaki di zaman purba, menjadi simbol kemerdekaan wanita, lalu berevolusi menjadi pernyataan gaya yang tak lekang oleh waktu.

Penutup: Melangkah dalam Sejarah Bersama Flat Shoes

Jadi, kalau dipikir-pikir, perjalanan flat shoes ini nggak main-main ya. Dari sekadar alas kaki fungsional di zaman baheula, kemudian sempat terpinggirkan oleh dominasi heels yang sok-sokan, lalu bangkit kembali berkat tangan dingin para desainer dan ikon fashion, hingga akhirnya jadi item wajib di setiap lemari sepatu. Flat shoes bukan cuma soal sepatu, tapi juga tentang kenyamanan, kepraktisan, dan pilihan untuk tampil stylish tanpa harus mengorbankan diri. Mereka adalah bukti nyata bahwa kadang, kesederhanaan dan fungsionalitas justru bisa jadi hal paling revolusioner di dunia fashion.

Jadi, lain kali kamu pakai flat shoes favoritmu, ingatlah bahwa kamu sedang melangkah di atas jejak sejarah panjang yang penuh gaya dan makna. Setiap langkah yang nyaman itu menyimpan cerita panjang tentang evolusi mode, pemberontakan terhadap standar, dan kemenangan kenyamanan. Hidup flat shoes! Semoga selalu nyaman dan bikin kita tetap kece, kapan pun dan di mana pun.

Logo Radio
🔴 Radio Live