Asal Usul QWERTY yang Dibuat untuk Memperlambat Pengetik
Nisrina - Wednesday, 31 December 2025 | 01:12 PM


Papan ketik atau keyboard adalah antarmuka utama kita dengan dunia digital. Setiap hari jari-jari kita menari di atas susunan huruf yang tampak acak balau ini. Q, W, E, R, T, Y. Mengapa tidak disusun secara alfabetis A, B, C, D, E agar lebih logis dan mudah diingat oleh anak kecil? Tata letak QWERTY yang kita gunakan sekarang adalah warisan teknologi dari abad ke-19 yang dirancang oleh Christopher Sholes pada tahun 1870-an. Ada mitos populer yang mengatakan bahwa desain ini sengaja dibuat untuk memperlambat pengetik agar mereka tidak bekerja terlalu cepat, namun fakta sejarahnya sedikit lebih teknis dari itu.
Pada masa awal mesin ketik mekanis ditemukan, setiap huruf dicetak menggunakan batang logam panjang (typebars) yang akan mengayun dan memukul pita tinta saat tombol ditekan. Masalah besar muncul ketika seorang pengetik bekerja terlalu cepat dengan menekan tombol-tombol yang letaknya bersebelahan secara berurutan. Batang-batang logam yang mengayun dari arah berdekatan itu sering kali bertabrakan di tengah jalan dan saling menyangkut (jamming). Setiap kali mesin macet, pengetik harus berhenti bekerja untuk memisahkan batang logam tersebut secara manual dengan tangannya, yang tentu saja sangat mengganggu efisiensi dan merusak mood.
Untuk mengatasi cacat mekanis ini, Sholes melakukan analisis frekuensi terhadap pasangan huruf dalam bahasa Inggris. Ia menemukan pasangan huruf yang sering muncul bersamaan, seperti 'T' dan 'H' (dalam kata THE) atau 'S' dan 'T'. Ia kemudian mengacak susunan tombol dengan memisahkan pasangan-pasangan huruf populer ini agar letaknya berjauhan di papan ketik. Tujuannya adalah untuk memberikan jeda waktu sepersekian detik bagi batang logam pertama untuk kembali ke sarangnya sebelum batang logam kedua meluncur memukul kertas.
Jadi, QWERTY didesain bukan semata-mata untuk memperlambat gerakan jari manusia, melainkan untuk mencegah kemacetan mesin agar proses pengetikan secara keseluruhan menjadi lebih lancar dan berkesinambungan. Strategi ini berhasil membuat pengetik bisa bekerja lebih lama tanpa interupsi. Kini, lebih dari satu abad kemudian, kita tidak lagi menggunakan batang logam mekanis. Kita mengetik di layar sentuh kaca yang licin. Namun kita masih terjebak menggunakan tata letak warisan tahun 1873 tersebut karena satu alasan kuat: kebiasaan otot (muscle memory). Dunia sudah telanjur nyaman dengan QWERTY, dan mengubah kebiasaan miliaran orang jauh lebih sulit daripada sekadar mengganti teknologi mesinnya.
Next News

Fakta Keju Emmental Ikon Kartun Tom and Jerry yang Mendunia
in 6 hours

Saus Tomat Tak Mau Keluar? Simak Tips Ampuh Agar Tidak Tumpah
in 5 hours

Kenapa Donat Bolong Tengahnya? Ini Alasan Unik di Baliknya
in 4 hours

Rahasia Ruang Operasi: Kenapa Dokter Tidak Pakai Jas Putih?
in 3 hours

Perut Kembung Setelah Buka Puasa? Lakukan Ini Agar Begah Hilang
in 4 hours

Kenapa Bus Sekolah Warna Kuning? Bukan Sekadar Estetika!
in 2 hours

Kenapa Nggak Biru atau Ungu? Rahasia Warna Lampu Lalu Lintas
in an hour

Jangan Kalap! Ini Bahaya Makan Berlebihan Saat Buka Puasa
in 6 hours

Arti Warna Paspor: Dari Alasan Geopolitik hingga Standar Global
in 9 minutes

Arti di Balik Tradisi Cheers yang Sering Kamu Lakukan
an hour ago






