Alasan Psikologis Kenapa Orang Gampang Emosi dan Toxic di Media Sosial
Nisrina - Monday, 23 March 2026 | 06:15 PM
Pernah nggak sih lo lagi asyik scrolling Instagram atau X (yang dulu kita kenal sebagai Twitter), terus nemu satu postingan yang sebenernya biasa aja, tapi kolom komentarnya udah kayak medan perang? Isinya bukan cuma beda pendapat, tapi udah sampai level maki-maki, bawa-bawa isi kebun binatang, sampai sumpah serapah yang kalau dibaca bikin elus dada. Anehnya, pas lo liat profil si pemberi komentar, fotonya pake baju rapi, ada yang fotonya lagi gendong anak, atau bahkan pake bio yang religius banget. Kontras banget, kan?
Fenomena ini bukan hal baru, tapi tetep aja bikin kita geleng-geleng kepala. Banyak orang yang kalau ketemu langsung aslinya sopan, ngomongnya irit, bahkan cenderung pemalu. Tapi begitu pegang keyboard atau layar HP, mendadak berubah jadi "Keyboard Warrior" yang punya nyali selangit. Seolah-olah mereka punya cadangan keberanian yang nggak terbatas buat ngetik hal-hal yang mungkin nggak bakal berani mereka ucapin langsung di depan muka orangnya. Kira-kira, setan apa sih yang ngerasuki jempol kita semua?
Topeng Digital dan Efek "Nggak Kelihatan"
Secara psikologis, fenomena ini ada namanya, yaitu Online Disinhibition Effect. Istilah keren ini sebenernya sederhana: kita ngerasa "rem" dalam diri kita blong pas lagi online. Ada beberapa faktor yang bikin rem ini nggak pakem lagi. Pertama, tentu aja soal anonimitas. Meskipun lo pake nama asli dan foto asli, ada jarak fisik yang bikin lo ngerasa aman. Lo ngerasa nggak bener-bener "kelihatan" secara fisik.
Bayangin kalau lo mau marahin orang di pasar. Lo harus berdiri di depannya, liat matanya, dan siap-siap sama reaksi fisiknya, entah dia mau bales teriak atau malah ngajak berantem. Nah, di dunia maya, jarak ribuan kilometer itu jadi tameng paling ampuh. Lo bisa ngetik "Ah, lu bego banget sih!" terus langsung tutup aplikasi, masukin HP ke kantong, dan lanjut makan mi ayam dengan tenang. Nggak ada konsekuensi fisik instan yang perlu lo takutin. Inilah yang bikin nyali orang mendadak jadi seukuran gedung pencakar langit.
Hilangnya Kontak Mata dan Empati yang Menguap
Satu hal yang paling krusial dalam interaksi manusia itu adalah kontak mata. Lewat mata, kita bisa liat kalau lawan bicara kita sedih, marah, atau tersinggung. Reaksi wajah itu yang biasanya bikin kita ngerem kalau mau ngomong kasar. Kita punya empati yang secara otomatis aktif pas liat orang lain ngerasa sakit atau nggak nyaman. Sayangnya, di kolom komentar, yang kita hadapi itu cuma teks di layar. Kita nggak liat air mata mereka, kita nggak denger getar suara mereka.
Karena kita nggak liat reaksi emosionalnya secara langsung, otak kita sering kali gagal memproses kalau "lawan" bicara kita itu adalah manusia beneran yang punya perasaan. Akibatnya? Ya itu tadi, komentar pedas meluncur tanpa filter. Kita ngerasa lagi main game atau lagi ngomong sama bot, padahal di ujung sana ada orang yang mungkin lagi down banget baca ketikan kita. Miris, sih, tapi itulah realitanya sekarang.
Dopamine dari Like dan Dukungan "Kaumnya"
Selain faktor jarak, ada juga faktor ego. Sadar nggak sih, kalau lo ngomen sesuatu yang pedas atau "savage" terus dapet banyak likes atau balesan yang mendukung, ada rasa puas tersendiri? Itu namanya dopamin lagi main. Kita ngerasa diakui, ngerasa pinter, dan ngerasa menang. Di dunia nyata, mungkin kita jarang dapet panggung atau apresiasi, jadi kolom komentar berubah jadi arena buat cari validasi.
Belum lagi soal fenomena echo chamber atau ruang gema. Di internet, kita cenderung kumpul sama orang-orang yang pemikirannya sama. Pas kita ngehujat seseorang yang dianggap "musuh bersama," kita bakal dapet dukungan dari kelompok kita. Ini bikin kita ngerasa tindakan kasar kita itu bener dan dibenarkan. "Lho, yang ngomong gini bukan cuma gue doang kok, tuh banyak yang setuju!" Pikiran kayak gitu yang bikin keberanian palsu kita makin menumpuk.
Meluapkan Stress di Tempat yang Salah
Jujur aja, hidup di zaman sekarang itu capek. Macet, kerjaan numpuk, tagihan banyak, belum lagi masalah personal lainnya. Banyak orang yang nggak punya penyaluran stress yang sehat. Akhirnya, kolom komentar artis atau akun berita jadi tempat sampah emosi. Mereka marah-marah di sosmed sebenernya bukan karena masalah yang lagi dibahas, tapi karena mereka lagi butuh pelampiasan aja. Sayangnya, pelampiasannya ke orang lain yang nggak tahu apa-apa.
Rasanya emang lebih gampang buat maki-maki orang asing di internet daripada harus pergi ke psikolog atau olahraga buat ngilangin penat. Efeknya instan, meskipun sebenernya nggak nyelesaiin masalah utama. Ini yang bikin budaya komentar kita jadi toxic banget. Kita jadi bangsa yang gampang tersulut, padahal mungkin kita cuma kurang istirahat atau kurang piknik.
Jadi, Masih Mau Jadi Jagoan Keyboard?
Pada akhirnya, berani di dunia maya itu bukan tanda kalau kita punya mental baja. Justru sebaliknya, sering kali itu tanda kalau kita nggak cukup berani buat ngadepin masalah dengan cara yang dewasa di dunia nyata. Berkomentar pedas itu gampang banget, tinggal gerakin jempol. Yang susah itu adalah tetep punya etika dan empati di saat nggak ada orang yang ngawasin kita secara langsung.
Kita perlu inget kalau setiap kata yang kita ketik punya jejak digital. Lebih dari itu, setiap kata itu punya dampak ke psikologis orang lain. Nggak ada salahnya kok beda pendapat, nggak ada salahnya kritis, tapi mbok ya bahasanya dijaga. Jangan sampai kita jadi singa di medsos tapi sebenernya cuma kucing penakut yang sembunyi di balik layar. Yuk, mulai pelan-pelan balikin lagi fungsi sosmed buat hal yang lebih seru daripada sekadar adu bacot yang nggak ada ujungnya. Karena di balik akun-akun yang lo serang itu, ada manusia yang sama kayak lo: pengen dihargai dan nggak pengen disakiti.
Next News

Bukan Sekadar Lomba 17-an, Egrang adalah "Life Lesson" Tentang Keseimbangan dan Ego
in 6 hours

Solusi "Punggung Jompo"! 5 Wedang Tradisional Ini Siap Jadi Penyelamat Saat Badan Mulai Pegal
7 hours ago

Pemerintah Ganti Kabinet, Dampaknya Apa Sih ke Kita Sebetulnya?
2 days ago

Makna Tersembunyi di Balik Ucapan Perempuan yang Tidak Bahagia dan Cara Menyikapinya
3 days ago

Tips-Tips Meningkatkan Attention Span
2 days ago

Peran Musik dalam Meningkatkan Konsentrasi Belajar
2 days ago

Berkenalan dengan White Noise dan Manfaatnya
3 days ago

Psikologi di Balik Tren Budaya Pop
3 days ago

Bye-Bye Mata Berat! Tips Tetap Segar Hadapi Jam Kritis di Kantor
7 days ago

Apakah Deodoran Alami Benar-benar Ampuh Menahan Bau Badan di Cuaca Terik?
7 days ago





