Ceritra
Ceritra Warga

Mengenal Silent Flexing, Tren Baru yang Diam-Diam Mengubah Media Sosial

Shannon - Monday, 08 June 2026 | 12:22 PM

Background
Mengenal Silent Flexing, Tren Baru yang Diam-Diam Mengubah Media Sosial
(Topcareer.id/)

"Aku Nggak Pamer Kok": Mengenal Silent Flexing, Tren Baru yang Diam-Diam Mengubah Media Sosial

Coba perhatikan media sosialmu selama lima menit.

Mungkin kamu akan menemukan seseorang yang mengunggah foto secangkir kopi di sebuah kafe minimalis dengan caption, *"Monday morning."* Ada yang membagikan foto pemandangan dari jendela pesawat tanpa menyebut tujuan perjalanan. Ada yang mengunggah meja kerja rapi dengan laptop terbaru, headphone premium, dan segelas matcha yang harganya mungkin setara makan siang seminggu.

Tidak ada tulisan "aku sukses", tidak ada tulisan "aku kaya", tidak ada tulisan "lihat hidupku lebih keren daripada hidupmu", tapi anehnya, pesan itu tetap sampai.


Fenomena inilah yang belakangan dikenal sebagai *silent flexing*, sebuah cara menunjukkan status, pencapaian, atau gaya hidup tanpa terlihat sedang memamerkannya secara langsung. Jika era media sosial tahun 2010-an dipenuhi foto tumpukan uang, mobil mewah, dan logo merek yang sengaja diperlihatkan ke kamera, maka era sekarang jauh lebih halus. Bahkan terkadang begitu halus sampai orang yang melakukannya sendiri bisa berkata, "Aku kan cuma posting biasa."


Dari Flexing ke Silent Flexing: Ketika Pamer Ikut Berevolusi

Menariknya, kebutuhan manusia untuk menunjukkan status sebenarnya bukan hal baru.

Jauh sebelum ada Instagram, TikTok, atau Threads, manusia sudah menggunakan pakaian, perhiasan, kendaraan, hingga tempat tinggal sebagai simbol status sosial.

Sosiolog Amerika, Thorstein Veblen, bahkan sudah membahas konsep *conspicuous consumption* atau konsumsi mencolok sejak akhir abad ke-19. Intinya sederhana: manusia sering membeli atau menunjukkan sesuatu bukan hanya karena fungsi barang tersebut, tetapi juga karena makna sosial yang melekat padanya. Bedanya, cara menunjukkan status kini ikut beradaptasi dengan budaya internet.


Dulu, semakin jelas seseorang menunjukkan kemewahan, semakin kuat pesan yang disampaikan. Sekarang justru sebaliknya. Flexing yang terlalu terang-terangan sering dianggap norak, haus validasi, atau tidak memiliki *class*. Akibatnya, lahirlah bentuk baru yang lebih subtil.


Alih-alih memamerkan jam tangan mewah secara langsung, seseorang cukup memperlihatkan tangannya saat memegang kopi. Alih-alih menunjukkan kamar hotel bintang lima secara penuh, cukup mengunggah foto sarapan dengan latar laut yang samar-samar terlihat. Semua orang tahu apa yang sedang ditunjukkan, tetapi tidak ada yang bisa secara pasti menuduhnya sedang pamer.


Mengapa Generasi Sekarang Lebih Menyukai Cara yang Halus?

Jawabannya berkaitan dengan perubahan budaya digital. Dalam beberapa tahun terakhir, media sosial mulai bergerak menuju tren yang disebut *authenticity culture* atau budaya autentisitas. Pengguna internet semakin menghargai konten yang terlihat natural, tidak dibuat-buat, dan terasa lebih manusiawi.


Masalahnya, keinginan untuk terlihat autentik tidak menghilangkan keinginan untuk terlihat sukses. Dua kebutuhan itu akhirnya bertemu dalam satu titik bernama silent flexing. Orang tetap ingin menunjukkan pencapaian, tetapi dengan cara yang terlihat santai dan tidak berusaha terlalu keras. Karena itu, caption seperti *"Just another day"* atau *"Weekend reset"* sering kali menyembunyikan lebih banyak informasi dibandingkan yang dituliskan. 

Pesan yang ingin disampaikan bukan lagi melalui kata-kata, melainkan melalui detail kecil yang sengaja ditempatkan di dalam foto. Yaitu, lokasi, gadget, merek pakaian.Interior ruangan, jenis kopi, destinasi perjalanan, bahkan buku yang sedang dibaca. Semuanya menjadi bahasa baru dalam media sosial.


Ketika Algoritma Ikut Bermain

Silent flexing juga tidak bisa dilepaskan dari cara algoritma media sosial bekerja. Konten yang menampilkan gaya hidup aspiratif cenderung menarik perhatian pengguna lebih lama. Orang mungkin tidak akan membeli tas yang sama atau mengunjungi tempat yang sama, tetapi mereka tetap tertarik melihatnya. Semakin lama seseorang melihat sebuah unggahan, semakin besar kemungkinan algoritma menyebarkannya ke lebih banyak orang. Akibatnya, media sosial perlahan dipenuhi konten yang menampilkan kehidupan yang tampak ideal. Bukan karena semua orang hidup sempurna. Melainkan karena kehidupan yang tampak sempurna lebih sering mendapatkan perhatian. Dan perhatian adalah mata uang utama internet.


Masalah yang Jarang Dibicarakan

Sekilas, silent flexing terlihat lebih sopan dibandingkan flexing biasa. Namun beberapa peneliti komunikasi digital menilai dampaknya justru bisa lebih rumit. Jika flexing terang-terangan mudah dikenali, silent flexing sering kali bekerja di bawah sadar. Kita mungkin sadar saat seseorang memamerkan mobil sport secara langsung. Namun kita belum tentu sadar saat mulai membandingkan hidup kita dengan foto "pagi santai" seseorang yang sebenarnya sedang menginap di hotel mewah. Akibatnya, perasaan tertinggal atau *fear of missing out* (FOMO) dapat muncul tanpa kita sadari. Kita tidak iri pada barangnya, namun kita iri pada gambaran kehidupan yang tampak begitu sempurna. Padahal yang kita lihat hanyalah beberapa detik terbaik dari 24 jam kehidupan seseorang.


Jadi, Apakah Silent Flexing Salah?

Belum tentu. Tidak semua unggahan estetik adalah bentuk pamer. Tidak semua foto liburan berarti seseorang sedang mencari validasi. Tidak semua pencapaian yang dibagikan di media sosial memiliki niat tersembunyi.

Masalahnya bukan terletak pada unggahannya, melainkan pada bagaimana kita memaknainya. Media sosial pada akhirnya adalah panggung tempat setiap orang memilih bagian cerita mana yang ingin ditampilkan kepada publik. Dan seperti panggung pada umumnya, yang terlihat dari kursi penonton sering kali hanyalah adegan terbaik.


Karena itu, saat melihat foto seseorang dengan kopi spesialti, laptop premium, tiket pesawat, atau pemandangan matahari terbenam dari balkon hotel, mungkin tidak perlu buru-buru merasa tertinggal. Bisa jadi itu memang silent flexing. Tapi bisa juga itu hanya satu momen kecil yang dipilih dari ratusan momen biasa yang tidak pernah masuk ke kamera.

Dan mungkin, justru di situlah kekuatan terbesar media sosial saat ini: bukan membuat orang percaya pada kebohongan, melainkan membuat potongan-potongan kecil kehidupan terlihat seperti keseluruhan cerita.

Logo Radio
🔴 Radio Live