"Aku Memang Turunan Pemarah": Benarkah Sifat Mudah Marah Bisa Diwariskan?
Shannon - Monday, 08 June 2026 | 01:14 PM


"Aku Memang Turunan Pemarah": Benarkah Sifat Mudah Marah Bisa Diwariskan?
Coba ingat kapan terakhir kali kamu mendengar kalimat seperti ini:
"Maklum, ayahku juga pemarah." Atau mungkin versi lainnya: "Dari kecil memang emosinya begitu, turunan keluarganya."
Kalimat semacam itu sering muncul setelah seseorang membanting pintu, menaikkan nada suara, atau meledak karena hal yang sebenarnya sepele. Seolah-olah sifat pemarah adalah sesuatu yang sudah tertulis dalam DNA dan tidak bisa diapa-apakan lagi.
Tapi benarkah demikian? Apakah kemarahan bisa diwariskan seperti warna mata atau bentuk rambut? Atau jangan-jangan selama ini kita terlalu cepat menyalahkan faktor keturunan?
Ketika Emosi Menjadi Urusan Biologi
Kalau bicara secara ilmiah, jawabannya ternyata tidak sesederhana "iya" atau "tidak". Para peneliti memang menemukan bahwa beberapa aspek kepribadian memiliki komponen genetik. Termasuk di antaranya temperamen, impulsivitas, dan sensitivitas terhadap stres. Sederhananya, ada orang yang sejak kecil terlihat lebih tenang menghadapi situasi sulit. Ada juga yang reaksinya lebih cepat, lebih intens, dan lebih mudah tersulut.
Bayangkan dua orang yang sama-sama terjebak macet. Orang pertama mungkin hanya menghela napas panjang lalu menyalakan musik favoritnya. Orang kedua sudah membunyikan klakson berkali-kali padahal lampu merah bahkan belum berubah hijau. Perbedaan seperti ini sebagian memang dipengaruhi oleh faktor biologis. Namun di sinilah banyak orang salah paham. Yang bisa diwariskan bukanlah "sifat pemarah" secara langsung, melainkan kecenderungan yang membuat seseorang lebih mudah mengalami emosi tertentu. Ibaratnya, genetik mungkin menyediakan korek api. Tetapi apakah korek itu akan menyala atau tidak, sangat bergantung pada lingkungan di sekitarnya.
Rumah Adalah Sekolah Emosi Pertama
Bayangkan seorang anak yang tumbuh dalam rumah di mana setiap masalah diselesaikan dengan teriakan.
Piring pecah, teriak. Nilai jelek, teriak. Tagihan listrik naik, teriak. Lama-kelamaan, anak tersebut belajar satu hal penting: marah adalah respons yang normal terhadap frustrasi. Bukan karena ada pelajaran khusus yang mengajarkannya, tetapi karena itulah yang ia lihat setiap hari.
Psikolog menyebut proses ini sebagai social learning atau pembelajaran sosial. Kita banyak mempelajari perilaku bukan dari nasihat, melainkan dari pengamatan.
Dengan kata lain, terkadang yang diwariskan bukan gennya, melainkan kebiasaannya.
Itulah mengapa ada keluarga yang terkenal santai menghadapi masalah, sementara keluarga lain terkenal "sumbu pendek". Pola tersebut sering kali terbentuk dari kombinasi antara faktor biologis dan lingkungan yang berlangsung selama bertahun-tahun.
Generasi yang Lebih Mudah Marah atau Lebih Mudah Stres?
Menariknya, banyak orang merasa bahwa masyarakat saat ini lebih mudah marah dibandingkan dulu.
Lihat saja media sosial. Sebuah opini sederhana bisa berubah menjadi perdebatan panjang. Kesalahan kecil bisa menjadi bahan kemarahan massal. Kolom komentar kadang terasa lebih panas daripada cuaca siang hari di Surabaya. Namun para ahli menilai yang terjadi mungkin bukan semata-mata karena orang menjadi lebih pemarah. Kita hidup di era yang dipenuhi notifikasi, informasi tanpa henti, tekanan akademik, tekanan pekerjaan, dan ekspektasi sosial yang terus meningkat. Otak manusia sebenarnya tidak dirancang untuk menerima begitu banyak rangsangan sekaligus setiap hari. Akibatnya, banyak orang hidup dalam kondisi stres yang terus-menerus tanpa menyadarinya.
Dan stres adalah salah satu bahan bakar utama kemarahan. Kadang yang terlihat sebagai "orang pemarah" sebenarnya adalah orang yang sedang kelelahan.
Kabar Baiknya: Marah Bukan Takdir
Jika sifat pemarah benar-benar ditentukan oleh genetik, mungkin dunia akan menjadi tempat yang cukup menyedihkan. Untungnya, penelitian menunjukkan hal yang berbeda. Meskipun seseorang memiliki kecenderungan biologis untuk bereaksi lebih emosional, kemampuan mengelola emosi tetap bisa dipelajari. Otak manusia memiliki kemampuan untuk beradaptasi sepanjang hidup. Cara kita merespons kemarahan hari ini tidak harus sama dengan cara kita merespons kemarahan lima tahun mendatang. Itulah sebabnya ada orang yang dulunya terkenal temperamental, tetapi menjadi jauh lebih tenang seiring bertambahnya usia dan pengalaman. Mereka tidak mengganti DNA, mereka hanya belajar mengelola apa yang sudah mereka miliki.
Jadi, Salah Gen atau Salah Lingkungan?
Mungkin jawabannya adalah keduanya. Genetik memang dapat memberikan kecenderungan tertentu. Lingkungan kemudian memperkuat, melemahkan, atau bahkan mengubah kecenderungan tersebut. Karena itu, ketika seseorang berkata, "Aku memang turunan pemarah," kalimat itu mungkin memiliki sedikit dasar ilmiah. Tetapi kalimat tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti berkembang. Sebab pada akhirnya, mewarisi kecenderungan bukan berarti mewarisi nasib. Kita mungkin tidak bisa memilih gen yang kita dapatkan sejak lahir. Namun kita masih bisa memilih bagaimana merespons emosi yang muncul setiap hari. Dan mungkin, itulah warisan terbaik yang bisa diberikan kepada generasi berikutnya: bukan temperamen yang sama, melainkan kemampuan untuk mengelolanya dengan lebih baik.
Next News

Mengenal Silent Flexing, Tren Baru yang Diam-Diam Mengubah Media Sosial
6 hours ago

Mencuri Waktu dari Tidur: Kebiasaan Scroll Malam yang Diam-Diam Menjadi Alasan "Insomnia" Kita
4 days ago

Masih Perlu Pakai Hand Sanitizer Setiap Saat? Simak Faktanya!
5 days ago

Fashion: Instrumen Politik Paling Tua yang Jarang Disadari
5 days ago

Tips Pilih Warna Baju Saat Cuaca Panas Biar Tetap Nyaman dan Adem
5 days ago

5 Tips Mengubah Nasib Apes Jadi Hari yang Tetap Produktif
6 days ago

Bukan Mood Swing Semata, Ini 4 Fase yang Dialami Wanita Setiap Bulan
6 days ago

Solusi Bebas Antre BBM: Haruskah Ganti ke Mobil Listrik/Hybrid Sekarang?
10 days ago

Mengapa Kita Malah Beres-Beres Saat Ada Tugas? Ini Jawabannya
10 days ago

Merah Cat atau Darah? Menguak Misteri Jembatan Merah Surabaya
13 days ago





