Waspadai Nyeri Leher yang Bisa Jadi Sinyal Senyap Serangan Jantung
Nisrina - Thursday, 15 January 2026 | 10:15 AM


Sakit leher sering kali dianggap sebagai keluhan remeh yang biasa dialami oleh siapa saja. Kebanyakan orang akan langsung menyimpulkannya sebagai akibat dari posisi tidur yang salah, terlalu lama menatap layar komputer, atau sekadar ketegangan otot biasa karena stres. Solusi yang diambil pun biasanya sederhana, mulai dari menempelkan koyo, meminta pijatan ringan, hingga mengonsumsi obat pereda nyeri yang dijual bebas. Namun, kewaspadaan perlu ditingkatkan karena tidak semua nyeri leher itu tidak berbahaya. Dalam dunia medis, nyeri pada area leher ternyata bisa menjadi indikator atau gejala awal dari kondisi yang jauh lebih serius dan mematikan, yaitu serangan jantung.
Fakta medis ini sering kali luput dari perhatian masyarakat awam yang masih terpaku pada gejala klasik serangan jantung seperti nyeri dada sebelah kiri yang menjalar ke lengan. Padahal, serangan jantung memiliki spektrum gejala yang luas dan sering kali menipu. Hubungan antara nyeri leher dan jantung ini terjadi karena mekanisme tubuh yang disebut sebagai "nyeri alih" atau referred pain. Jantung tidak memiliki reseptor rasa sakit yang spesifik seperti kulit kita. Ketika otot jantung kekurangan oksigen atau mengalami kerusakan, sinyal rasa sakit dikirim melalui sistem saraf yang jalurnya bersinggungan dengan saraf yang berasal dari leher, rahang, bahu, dan lengan. Akibatnya, otak bisa salah menerjemahkan sinyal tersebut dan mempersepsikan rasa sakit itu datang dari leher, bukan dari dada.
Fenomena Nyeri Alih dan Kelompok Rentan
Mekanisme saraf yang rumit ini menjelaskan mengapa seseorang bisa mengalami serangan jantung tanpa merasakan sakit dada sama sekali, namun justru merasakan sensasi tercekik atau nyeri tumpul di leher bagian belakang hingga ke rahang. Kondisi ini sering disebut sebagai silent heart attack atau serangan jantung senyap. Gejala atipikal atau tidak khas ini lebih sering ditemukan pada kelompok tertentu, khususnya wanita dan lansia. Wanita memiliki ambang batas nyeri dan presentasi gejala jantung yang berbeda dibandingkan pria. Jika pria lebih sering mengeluhkan dada seperti ditindih gajah, wanita lebih sering melaporkan rasa tidak nyaman yang menyebar ke leher, punggung, disertai rasa mual yang ekstrem dan kelelahan mendadak.
Kurangnya pemahaman mengenai gejala ini sering kali berakibat fatal. Pasien mungkin menunda mencari pertolongan medis karena mengira mereka hanya masuk angin atau salah urat. Penundaan penanganan pada kasus serangan jantung sangatlah berbahaya karena prinsip utama penyelamatan otot jantung adalah "waktu adalah otot". Semakin lama aliran darah terhambat, semakin luas kerusakan permanen yang terjadi pada jantung. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengubah persepsi bahwa sakit jantung melulu soal sakit dada.
Membedakan Nyeri Otot Biasa dengan Gejala Jantung
Lantas, bagaimana cara membedakan nyeri leher akibat otot tegang dengan nyeri akibat jantung? Meskipun sulit dipastikan tanpa pemeriksaan medis, ada beberapa karakteristik yang bisa menjadi petunjuk. Nyeri leher akibat masalah otot atau mekanis biasanya akan terasa semakin sakit jika leher digerakkan, diputar, atau ditekan pada titik tertentu. Rasa sakitnya terlokalisasi dan biasanya membaik dengan istirahat atau kompres hangat.
Sebaliknya, nyeri leher yang berkaitan dengan jantung memiliki sifat yang berbeda. Rasa sakitnya tidak dipengaruhi oleh gerakan leher. Anda bisa memutar kepala ke kiri dan ke kanan tanpa perubahan intensitas nyeri. Nyeri yang berasal dari jantung biasanya muncul secara tiba-tiba, terasa seperti tekanan yang menyebar, dan sering kali disertai dengan gejala sistemik lainnya. Gejala penyerta ini bisa berupa keringat dingin yang mengucur deras tanpa aktivitas fisik, napas yang terasa pendek atau sesak, rasa mual atau ingin muntah, serta perasaan cemas atau gelisah yang tidak beralasan.
Jika nyeri leher muncul setelah Anda melakukan aktivitas fisik berat atau saat sedang emosi tinggi, dan tidak mereda dengan istirahat atau perubahan posisi, ini adalah lampu merah. Segera cari pertolongan medis ke instalasi gawat darurat terdekat. Jangan membuang waktu dengan mencoba memijatnya atau menunggu rasa sakit itu hilang dengan sendirinya. Dalam konteks kesehatan kardiovaskular, bersikap sedikit paranoid dan memeriksakan diri jauh lebih baik daripada mengabaikan sinyal tubuh yang ternyata fatal. Artikel ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk lebih peka mendengarkan tubuh, karena sering kali tubuh memberikan peringatan dini dengan cara yang tidak kita duga sebelumnya.
Next News

Sholat Sering Melamun? Coba 6 Teknik Ini agar Lebih Khusyuk
in 7 hours

Bukan Beban, Ini Alasan Sholat Disebut Hadiah Langsung dari Allah
in 6 hours

Kupas Tuntas Penyebab Kebocoran Halus pada Ban Tubeless yang Sering Luput dari Pandangan
in 7 hours

Ini Cara Tepat Membersihkan Motor Setelah Terabas Hujan Agar Awet
in 6 hours

Bagaimana Gelombang Alfa Menentukan Batas Antara 'Aku' dan Dunia Luar
in 5 hours

Sekali Coba Pasti Ketagihan! Ini Resep Nasi Bogana Lengkap ala Tradisi
in 6 hours

Bukan Sekadar Ibadah, Begini Uniknya Cara Orang Indonesia Merayakan Isra’ Mi’raj
in 5 hours

Menguak Misteri Genetik Mengapa Manusia Kehilangan Ekor
in 4 hours

Ngeri! Ini Siksaan Neraka yang Dilihat Nabi Muhammad SAW Saat Isra’ Mi’raj
in 5 hours

Bukan Langsung 5 Waktu, Begini Kisah Panjang Perintah Sholat Saat Isra Mi’raj
in 4 hours






