Tanda-tanda Kamu Sering Memanipulasi Diri Sendiri Demi Menjaga Perasaan Orang Lain
Refa - Monday, 05 January 2026 | 01:00 PM


Kita sering mendengar istilah gaslighting dalam konteks hubungan toksik, di mana seseorang memanipulasi pasangannya agar meragukan kewarasan dan ingatan mereka sendiri. Namun, ada fenomena yang jauh lebih sunyi tapi tak kalah berbahaya, yaitu ketika pelakunya adalah dirimu sendiri. Inilah yang disebut Self-Gaslighting. Ini adalah pengkhianatan emosional tingkat tertinggi, di mana kamu secara aktif menolak realitas yang kamu rasakan hanya demi menghindari konflik atau menjaga citra orang lain tetap baik di matamu.
Bayangkan skenario ini: Pasanganmu melontarkan komentar kasar tentang penampilanmu di depan teman-teman. Hatimu mencelos sakit, dan rasanya ingin marah. Namun, sepersekian detik kemudian, otakmu langsung mengambil alih dan merevisi naskah kejadian itu. Kamu mulai berbisik pada diri sendiri, "Ah, dia cuma bercanda kok. Aku saja yang terlalu sensitif hari ini. Harusnya aku enggak boleh tersinggung, nanti suasananya jadi canggung." Tanpa sadar, kamu baru saja membatalkan validitas perasaanmu sendiri demi kenyamanan orang lain.
Menjadi Pengacara bagi Orang Lain, Jaksa bagi Diri Sendiri
Ciri paling kental dari self-gaslighting adalah standar ganda yang ekstrem dalam menghakimi situasi. Kamu bertindak layaknya pengacara andal bagi orang lain yang menyakitimu, sibuk mencari seribu satu alasan untuk membenarkan perilaku buruk mereka. "Dia lagi banyak kerjaan," atau "Masa kecilnya kan keras, wajar kalau dia kasar." Sementara itu, terhadap dirimu sendiri, kamu bertindak seperti jaksa penuntut umum yang kejam. Kamu menghukum dirimu karena memiliki emosi wajar seperti marah, kecewa, atau sedih, melabeli dirimu sebagai sosok yang "drama", "lebay", atau "tidak bersyukur".
Kebiasaan ini sering kali berakar dari pola asuh masa kecil atau pengalaman masa lalu di mana emosimu sering diabaikan. Mungkin dulu kamu sering dibilang "cengeng" saat menangis, atau dibilang "pembangkang" saat menyuarakan pendapat. Akibatnya, otakmu belajar bahwa mempercayai perasaan sendiri itu berbahaya. Demi bertahan hidup dan diterima lingkungan, kamu belajar untuk menekan intuisimu dan lebih mempercayai penilaian orang lain daripada penilaianmu sendiri. Kamu melatih dirimu untuk menjadi kecil agar orang lain bisa merasa besar.
Ilusi Kontrol dalam Hubungan
Mengapa kita melakukan hal menyakitkan ini pada diri sendiri? Jawabannya sering kali karena rasa takut kehilangan. Melakukan self-gaslighting memberikan kita ilusi kontrol. Logikanya begini: jika masalahnya ada pada "perasaanku yang terlalu sensitif", maka aku bisa memperbaikinya. Aku cukup belajar untuk lebih sabar dan tidak baperan, maka hubungan ini akan baik-baik saja.
Namun, jika kita mengakui realitas bahwa orang tersebut memang jahat atau toksik, maka konsekuensinya jauh lebih menakutkan: kita harus menegur mereka, memicu pertengkaran, atau bahkan meninggalkan mereka. Bagi seseorang dengan masalah abandonment issue (takut ditinggalkan), menyalahkan diri sendiri jauh lebih "aman" daripada harus menghadapi kenyataan bahwa orang yang dicintainya tidak sebaik itu. Kita rela menganggap diri kita gila, asalkan hubungan itu tetap utuh.
Harga Mahal Sebuah Penyenangkalan
Efek jangka panjang dari memanipulasi diri sendiri sangat merusak. Lama-kelamaan, kamu akan mengalami "erosi diri". Kamu akan kehilangan kontak dengan intuisimu sendiri. Kamu tidak lagi tahu apa yang kamu suka, apa yang kamu benci, atau kapan batas toleransimu dilanggar. Kamu menjadi orang yang selalu ragu dalam mengambil keputusan, bahkan untuk hal sepele, karena kamu tidak lagi mempercayai "radar" di dalam dirimu. Kamu akan terus butuh validasi orang lain untuk memastikan apakah yang kamu rasakan itu benar atau salah.
Jalan keluar dari lingkaran setan ini dimulai dengan validasi radikal. Mulailah berlatih mengganti narasi di kepalamu. Saat rasa sakit atau kecewa itu muncul, jangan langsung diusir dengan logika "jangan baper". Izinkan rasa itu duduk sebentar. Katakan pada dirimu, "Perasaanku ini nyata. Kalau aku merasa sakit, berarti memang ada yang menyakitkan." Berhenti menjadi tameng bagi perilaku buruk orang lain. Perdamaian dalam hubungan memang penting, tapi itu tidak boleh dibayar dengan kewarasan dan harga dirimu sendiri.
Next News

Kamu Kecewa Sama Dia… atau Sama Versi Dia di Kepalamu Sendiri?
a day ago

Pacar Baru Kok Mirip Mantan? Ternyata Ini Ulah Otak Bawah Sadarmu
2 days ago

Menikah Itu Komitmen Seumur Hidup, Tapi Kenapa Banyak yang Terburu-buru?
2 days ago

Alasan di Balik Sulitnya Menyampaikan Isi Hati yang Sebenarnya
2 days ago

5 Love Languages Tak Lagi Soal Fisik, Ini Adaptasinya di Dunia Digital
3 days ago

“Cintai Diri Sendiri Sebelum Orang Lain”, Ini Makna yang Sering Disalahpahami
3 days ago

Jangan Salah Kirim, Ini Arti Sebenarnya di Balik Warna-warni Emoji Hati
3 days ago

Menghidupkan Kembali Romansa di Tengah Rutinitas dengan Kalimat Jenaka
4 days ago

People Pleaser Syndrome: Berhenti Bilang 'Iya' Saat Hatimu Berteriak 'Tidak', Ini Cara Menolak Tanpa Rasa Bersalah
10 days ago

Healing Inner Child: Mengapa Kita Sering Jatuh Cinta pada Orang yang Sifatnya Mirip Ayah atau Ibu?
10 days ago






