Ceritra
Ceritra Cinta

Pacar Baru Kok Mirip Mantan? Ternyata Ini Ulah Otak Bawah Sadarmu

Refa - Tuesday, 13 January 2026 | 05:30 PM

Background
Pacar Baru Kok Mirip Mantan? Ternyata Ini Ulah Otak Bawah Sadarmu
Ilustrasi pasangan romantis (Getty Images/vladans)

Pernah tidak temanmu berkomentar, "Kok pacar barumu mirip banget sifatnya sama mantanmu yang dulu?"

Kamu mungkin menyangkalnya. Tapi kalau dilihat-lihat lagi, polanya memang sama. Kamu selalu tertarik pada "Bad Boy" yang bikin makan hati atau selalu jatuh cinta pada orang yang sibuk dan emotionally unavailable (sulit dijangkau secara emosi). Meskipun sudah berkali-kali sakit hati dengan tipe seperti itu, anehnya kamu tetap saja kembali ke lubang yang sama.

Rasanya seperti kena kutukan. Padahal, ini bukan soal nasib sial atau kebetulan. Ada alasan psikologis yang kuat kenapa otak kita seolah "diprogram" untuk mencari orang dengan sifat yang itu-itu lagi, meskipun kita tahu itu tidak baik buat kita.

Berikut adalah alasan logis kenapa kita sering terjebak dalam tipe pasangan yang sama.

1. Otak Kita Suka Hal yang Familiar

Secara alamiah, otak manusia itu pemalas. Ia lebih suka hal-hal yang sudah dikenal (familiar) daripada hal baru yang tidak terprediksi. Bagi otak bawah sadar kita, "familiar" itu dianggap "aman", meskipun kenyataannya menyakitkan.

Kalau kamu tumbuh dalam lingkungan keluarga yang penuh konflik atau sering dikritik, otakmu akan merekam bahwa cinta itu identik dengan pertengkaran atau kritikan. Saat dewasa, ketika bertemu orang yang sangat baik dan tenang, kamu justru merasa asing atau bosan. Sebaliknya, saat bertemu orang yang temperamen, "alarm" di otakmu mengenali pola itu dan merasa klik. Kamu jatuh cinta pada tipe ini bukan karena mereka baik, tapi karena mereka terasa "akrab" dengan apa yang biasa kamu rasakan.

2. Misi Penyelamatan Masa Lalu

Ada teori psikologi yang menyebutkan bahwa kita cenderung mencari pasangan yang mirip dengan orang tua kita (baik sifat positif maupun negatifnya) untuk menyelesaikan masalah masa kecil yang belum tuntas. Ini sering terjadi tanpa kita sadari.

Contohnya, jika dulu kamu punya ayah atau ibu yang cuek dan jarang memuji, kamu mungkin akan terus mencari pasangan yang dingin dan sulit dipuaskan. Bawah sadarmu berharap: "Kalau kali ini aku bisa bikin orang yang dingin ini jadi sayang sama aku, berarti aku berhasil. Aku berharga." Kamu mengulang skenario masa lalu dengan harapan kali ini ending-nya berbeda. Sayangnya, realitanya jarang begitu. Kamu justru kembali terluka oleh ketidakpedulian yang sama.

3. Kita Menerima Cinta yang Kita Rasa Pantas

Pola asmara kita adalah cerminan dari seberapa besar kita menghargai diri sendiri (self-esteem). Ada pepatah mengatakan, "We accept the love we think we deserve." Kita menerima cinta yang menurut kita pantas kita dapatkan.

Jika jauh di lubuk hati kamu merasa dirimu kurang berharga, merepotkan, atau tidak pantas bahagia, kamu akan merasa aneh jika ada orang yang memperlakukanmu bak ratu atau raja. Kamu akan merasa insecure dan curiga, "Kok dia baik banget? Jangan-jangan ada maunya." Akhirnya, kamu justru menolak orang yang tulus dan kembali mengejar orang yang memperlakukanmu seenaknya. Kenapa? Karena perlakuan buruk mereka "cocok" dengan keyakinanmu bahwa kamu memang tidak berharga.

4. Salah Mengartikan Kecemasan sebagai "Chemistry"

Banyak orang salah kaprah soal chemistry. Kita sering menganggap perasaan deg-degan, gelisah menunggu balasan chat, dan rasa takut kehilangan yang berlebihan sebagai tanda cinta yang hebat atau passion.

Padahal, seringkali sensasi rollercoaster emosi itu adalah tanda ketidakstabilan, bukan cinta. Sistem sarafmu sedang bereaksi terhadap bahaya atau ketidakpastian. Orang yang sehat secara emosional biasanya memberikan rasa tenang dan aman, bukan rasa was-was. Tapi karena kamu terbiasa dengan drama, ketenangan dari hubungan yang sehat seringkali disalahartikan sebagai "membosankan" atau "nggak ada tantangannya". Akibatnya, kamu meninggalkan orang baik demi mengejar sensasi deg-degan dari orang yang salah.

Logo Radio
🔴 Radio Live