Ceritra
Ceritra Cinta

Pasangan Diam Tanpa Sebab? Simak Cara Mengatasinya

Nisrina - Friday, 20 February 2026 | 08:15 PM

Background
Pasangan Diam Tanpa Sebab? Simak Cara Mengatasinya
Ilustrasi (Freepik/tirachardz)

Seni Menyakiti Tanpa Suara: Mengapa Silent Treatment Itu Toxic dan Bukan Solusi

Bayangkan situasinya seperti ini: Kamu baru saja tidak sengaja menyinggung perasaan pasanganmu soal hal sepele—mungkin karena lupa membalas chat atau salah memesan menu makan malam. Alih-alih bilang kalau dia kesal, si dia tiba-tiba berubah jadi patung Liberty versi lokal. Dia ada di depanmu, tapi keberadaannya terasa ribuan kilometer jauhnya. Pertanyaanmu hanya dibalas dehaman, atau lebih parah lagi, hanya dibalas dengan keheningan yang mencekam. Selamat, kamu baru saja menjadi korban dari "silent treatment".

Banyak orang menganggap mendiamkan pasangan adalah jalan ninja untuk menghindari keributan. "Daripada marah-marah terus putus, mending gue diam aja sampai suasana adem," begitu dalihnya. Tapi, benarkah begitu? Dalam kacamata psikologi, silent treatment bukan sekadar upaya menenangkan diri. Sering kali, ini adalah bentuk manipulasi emosional yang jauh lebih merusak daripada adu argumen yang meledak-ledak sekalipun. Mari kita bedah pelan-pelan kenapa "diam seribu bahasa" ini sebenarnya adalah senjata yang sangat mematikan dalam hubungan.

Kenapa Diam Itu (Ternyata) Nggak Emas?

Ada pepatah bilang "diam itu emas", tapi dalam konteks konflik interpersonal, diam itu sering kali adalah racun. Secara psikologis, manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan validasi. Ketika kita sengaja diabaikan oleh orang yang paling kita sayangi, otak kita sebenarnya merespons hal tersebut dengan cara yang sangat ekstrem. Penelitian menunjukkan bahwa pengabaian sosial—termasuk didiamkan pasangan—mengaktifkan bagian otak yang sama dengan saat kita merasakan rasa sakit fisik. Jadi, rasa perih saat didiamkan itu nyata, bukan sekadar baper atau perasaan yang dibuat-buat.

Silent treatment, atau dalam istilah psikologi sering disebut stonewalling, adalah taktik untuk memegang kendali. Si pelaku sebenarnya sedang mengirim pesan tersirat: "Aku memegang kendali atas emosimu. Kamu akan merasa tenang kalau aku sudah mau bicara lagi." Ini adalah bentuk hukuman. Pelaku ingin korbannya merasa bersalah, bingung, dan akhirnya "mengemis" perhatian atau meminta maaf meski mungkin mereka tidak melakukan kesalahan yang fatal.

Silent Treatment vs. Taking Space: Apa Bedanya?

Nah, di sini letak jebakannya. Banyak orang berlindung di balik kalimat "Gue butuh ruang" padahal mereka sebenarnya sedang menghukum pasangannya. Ada garis tipis tapi sangat tegas antara taking space yang sehat dengan silent treatment yang manipulatif. Bagaimana cara membedakannya?

  • Komunikasi Awal: Orang yang butuh ruang (taking space) biasanya akan bilang, "Aku lagi kesal banget dan nggak mau ngomong sesuatu yang nanti aku sesali. Boleh nggak aku minta waktu satu jam buat tenangin diri?" Ada kejelasan. Sementara itu, pelaku silent treatment langsung menghilang atau bungkam tanpa penjelasan apa pun.
  • Tujuan: Taking space bertujuan untuk mendinginkan kepala supaya bisa diskusi lagi dengan kepala dingin. Silent treatment bertujuan untuk membuat pasangan merasa tidak berdaya dan merasa "dihukum".
  • Durasi: Menenangkan diri biasanya butuh waktu hitungan jam. Silent treatment bisa berlangsung berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, sampai si pelaku merasa "puas" melihat pasangannya menderita.

Kalau pasanganmu tiba-tiba berubah jadi "tembok" tanpa memberi tahu kapan dia bisa diajak bicara lagi, itu bukan butuh ruang. Itu adalah bentuk agresi pasif yang didesain untuk membuatmu merasa kecil.

Dampaknya ke Mental? Jangan Ditanya, Bisa Hancur Lebur

Kalau kamu pernah berada di posisi korban, kamu pasti tahu rasanya seperti berjalan di atas kulit telur. Kamu jadi ekstra hati-hati, merasa cemas setiap kali ingin bicara, dan terus-menerus melakukan refleksi diri yang berlebihan (overthinking). "Apa gue salah ngomong ya?", "Kenapa dia segitunya sama gue?", "Apa gue sebegitu nggak berharganya sampai nggak layak dijawab?".

Dampak jangka panjangnya bisa sangat ngeri. Korban silent treatment sering kali mengalami penurunan rasa percaya diri. Mereka jadi merasa tidak punya kuasa atas hidupnya sendiri karena kebahagiaannya sangat bergantung pada "izin" bicara dari pasangannya. Ini adalah bibit dari hubungan yang toxic dan kasar secara emosional. Pada akhirnya, komunikasi dalam hubungan tersebut jadi tidak sehat karena dibangun di atas rasa takut, bukan rasa saling menghargai.

Berhenti Menjadi "Silent Assassin"

Mungkin ada sebagian dari kita yang melakukan silent treatment bukan karena ingin jahat, tapi karena memang tidak tahu cara mengomunikasikan perasaan. Mungkin dulu di keluarga, kita melihat orang tua kita melakukan hal yang sama. Tapi, hei, kita hidup di zaman yang sudah jauh lebih sadar akan kesehatan mental. Menjadi dewasa berarti berani untuk tidak nyaman dalam sebuah percakapan.

Berdebat secara verbal, meskipun melelahkan, jauh lebih sehat daripada diam. Dalam perdebatan, ada pertukaran ide, ada luapan emosi yang jelas objeknya. Dari sana, solusi bisa dicari. Tapi kalau diam? Masalahnya tidak pernah selesai, cuma ditumpuk di bawah karpet sampai akhirnya menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja.

Jadi, buat kalian yang masih suka menggunakan jurus "diam seribu bahasa" buat memenangkan argumen: Berhentilah. Itu bukan tanda kamu kuat atau sabar, itu tanda kamu belum cukup dewasa untuk menghadapi konflik secara sehat. Hubungan itu tentang dua orang yang saling bicara, bukan tentang siapa yang paling kuat menahan diri untuk tidak membalas chat paling lama.

Kalau memang butuh waktu untuk sendiri, bicarakan. Kalau marah, katakan alasannya. Jangan biarkan pasanganmu menebak-nebak di dalam kegelapan. Karena pada akhirnya, komunikasi adalah oksigen dalam sebuah hubungan. Dan dengan melakukan silent treatment, kamu sebenarnya sedang mencekik hubunganmu sendiri perlahan-lahan.

Logo Radio
🔴 Radio Live