Ceritra
Ceritra Cinta

Fenomena Loveflation Bikin Anak Muda Terjerat Utang Demi Cinta

Nisrina - Wednesday, 18 February 2026 | 05:15 PM

Background
Fenomena Loveflation Bikin Anak Muda Terjerat Utang Demi Cinta
Ilustrasi (Pexels/Katerina Holmes)

Mencari pasangan hidup atau sekadar menjalin hubungan romantis di era modern ternyata tidak hanya membutuhkan kesiapan hati tetapi juga kesiapan dompet yang sangat tebal. Biaya untuk sekadar makan malam nonton bioskop atau memberikan hadiah kecil kini telah melonjak drastis dibandingkan beberapa tahun lalu. Kenaikan harga barang dan jasa yang berimbas langsung pada biaya kencan ini melahirkan sebuah istilah ekonomi baru yang populer di kalangan Generasi Z dan Milenial yaitu Loveflation.

Istilah Loveflation merupakan gabungan dari kata love atau cinta dan inflation atau inflasi. Fenomena ini menggambarkan situasi di mana biaya untuk menjalin hubungan asmara meningkat tajam akibat inflasi ekonomi secara umum. Namun masalah utamanya bukan hanya pada naiknya harga bunga atau tiket konser melainkan pada respons perilaku anak muda menghadapi situasi ini.

Merujuk pada laporan keuangan yang dilansir oleh Kompas Money banyak anak muda kini tidak ragu untuk berutang atau menggunakan layanan PayLater demi membiayai gaya hidup kencan mereka. Tekanan sosial untuk terlihat mapan dan romantis sering kali mengalahkan logika finansial yang sehat. Artikel ini akan membedah secara tuntas mengapa fenomena ini terjadi dampak buruknya bagi masa depan keuangan anak muda serta tips cerdas untuk tetap romantis tanpa harus bangkrut.

Tekanan Media Sosial dan Standar Kencan yang Tinggi

Salah satu pendorong utama mengapa Loveflation begitu mencekik anak muda adalah pergeseran standar kencan yang dipengaruhi oleh media sosial. Jika dahulu kencan cukup dengan makan bakso di pinggir jalan atau duduk di taman kota kini standar tersebut telah bergeser jauh.

Media sosial seperti TikTok dan Instagram membanjiri lini masa dengan konten kencan yang mewah atau fancy date. Makan malam di restoran fine dining dengan pemandangan gedung pencakar langit memberikan hadiah barang bermerek hingga liburan singkat atau staycation di hotel berbintang seolah menjadi standar baru untuk membuktikan rasa cinta.

Anak muda yang terpapar konten ini setiap hari akan merasa tertinggal atau Fear of Missing Out (FOMO) jika tidak bisa memberikan pengalaman serupa kepada pasangannya. Akibatnya mereka memaksakan diri untuk memenuhi standar visual tersebut meskipun kondisi keuangan mereka sebenarnya tidak sanggup. Mereka rela mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk satu kali kencan hanya demi sebuah konten berdurasi lima belas detik di media sosial.

Jebakan Utang Digital Demi Impresi Sesaat

Kemudahan akses terhadap layanan keuangan digital menjadi pedang bermata dua dalam fenomena Loveflation ini. Fitur Buy Now Pay Later (BNPL) atau kartu kredit kini sangat mudah diakses hanya melalui aplikasi ponsel. Merujuk data yang diulas Kompas banyak anak muda yang memanfaatkan fasilitas utang ini untuk menutupi biaya kencan yang membengkak.

Mentalitas "beli sekarang bayar nanti" membuat mereka terlena. Saat sedang jatuh cinta logika sering kali tumpul. Mereka berpikir bahwa utang satu atau dua juta rupiah untuk mentraktir pasangan adalah hal yang wajar dan bisa dilunasi saat gajian. Namun tanpa disadari utang utang kecil tersebut menumpuk menjadi gunung beban finansial.

Bahaya terbesar dari perilaku ini adalah terjebak dalam lingkaran setan utang konsumtif. Uang gaji yang seharusnya disisihkan untuk tabungan masa depan atau dana darurat justru habis terkuras hanya untuk membayar cicilan kencan bulan lalu. Ironisnya banyak hubungan asmara yang justru kandas di tengah jalan karena masalah keuangan sementara utang bekas kencan tersebut masih harus terus dicicil hingga lunas.

Dampak Psikologis dan Finansial Jangka Panjang

Membiayai cinta dengan utang tidak hanya merusak dompet tetapi juga merusak kesehatan mental dan kualitas hubungan itu sendiri. Ketika seseorang memaksakan diri untuk tampil kaya di depan pasangan mereka sebenarnya sedang membangun hubungan di atas fondasi kebohongan.

Kecemasan finansial akan selalu menghantui setiap kali tagihan datang. Stres akibat utang bisa memicu pertengkaran dalam hubungan. Pasangan yang awalnya terlihat romantis bisa berubah menjadi sumber konflik ketika realitas keuangan mulai terkuak.

Selain itu dampak jangka panjangnya sangat serius bagi masa depan generasi muda. Catatan kredit yang buruk akibat gagal bayar cicilan PayLater atau kartu kredit akan membuat mereka kesulitan di masa depan saat ingin mengajukan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) atau pinjaman produktif lainnya. Loveflation yang tidak dikelola dengan bijak bisa memiskinkan anak muda sebelum mereka sempat membangun aset.

Tips Kencan Hemat Tanpa Kehilangan Romantisme

Menghadapi Loveflation bukan berarti kita harus berhenti mencari cinta atau menjadi pelit. Kuncinya adalah kreativitas dan kejujuran finansial. Berikut adalah beberapa strategi untuk tetap romantis tanpa harus berutang.

1. Komunikasi Terbuka Soal Keuangan Jangan malu untuk mendiskusikan batasan anggaran kencan dengan pasangan. Pasangan yang baik dan dewasa pasti akan mengerti dan menghargai kejujuran Anda. Justru kejujuran ini bisa menjadi saringan untuk melihat apakah pasangan Anda menerima Anda apa adanya atau hanya melihat materi.

2. Eksplorasi Ide Kencan Kreatif dan Murah Romantis tidak harus mahal. Mengajak pasangan memasak makan malam bersama di rumah piknik di taman kota mengunjungi museum atau galeri seni yang tiketnya terjangkau atau berolahraga bersama saat Car Free Day bisa menjadi alternatif yang sangat menyenangkan. Aktivitas ini justru membangun ikatan emosional atau bonding yang lebih kuat daripada sekadar duduk diam di bioskop mahal.

3. Tetapkan Anggaran Kencan Bulanan Perlakukan biaya pacaran sebagai salah satu pos pengeluaran dalam anggaran bulanan Anda. Tetapkan batas maksimal yang boleh dikeluarkan misalnya 10 persen dari gaji bulanan. Jika anggaran bulan ini sudah habis maka tunggulah bulan depan atau beralih ke aktivitas kencan gratis.

4. Hindari Utang untuk Gaya Hidup Buatlah komitmen keras pada diri sendiri untuk tidak pernah menggunakan fitur paylater atau kartu kredit untuk biaya makan malam atau nonton bioskop. Jika uang tunai tidak cukup itu tandanya Anda harus menurunkan standar gaya hidup bukan mencari pinjaman.

Fenomena Loveflation adalah tantangan nyata bagi anak muda di tengah ketidakpastian ekonomi global. Namun cinta sejati seharusnya tidak diukur dari seberapa mahal makanan yang disantap atau seberapa mewah hadiah yang diberi. Dengan literasi keuangan yang baik dan komunikasi yang sehat kita bisa tetap menikmati indahnya jatuh cinta tanpa harus mengorbankan masa depan finansial.

Logo Radio
🔴 Radio Live