Ceritra
Ceritra Cinta

Tidur Nggak Berkualitas Bisa Bikin Hubungan Retak, Ini Faktanya

Refa - Wednesday, 18 February 2026 | 10:00 PM

Background
Tidur Nggak Berkualitas Bisa Bikin Hubungan Retak, Ini Faktanya
Ilustrasi perempuan sedang tidur (pexels.com/Craig Adderley)

Tidur Nyenyak, Rumah Tangga Jinak: Kenapa Kualitas Tidur Pasangan Adalah Kunci Kebahagiaan Hakiki

Pernah nggak sih kamu bangun pagi, matahari bersinar cerah, burung berkicau, tapi rasanya pengen banget ngelempar bantal ke muka pasangan? Padahal semalam nggak ada berantem, nggak ada masalah cicilan, dan nggak ada drama mertua. Tapi kok, lihat muka si dia pas bangun tidur rasanya "sumbu pendek" banget? Kalau pernah, selamat, kamu nggak sendirian. Masalahnya mungkin bukan di sifat pasanganmu yang tiba-tiba berubah jadi menyebalkan, tapi sesederhana kalian berdua kurang tidur atau tidurnya nggak berkualitas.

Di dunia yang serba buru-buru ini, kita sering banget menomorduakan tidur. Kita rela begadang demi marathon series, ngejar deadline kerjaan, atau cuma sekadar scrolling TikTok sampai jempol kapalan. Padahal, kualitas tidur itu pengaruhnya gede banget ke harmoni rumah tangga. Bisa dibilang, kasur adalah medan tempur pertama sebelum kalian menghadapi dunia luar yang kejam itu.

Sindrom "Senggol Bacok" Akibat Kurang Tidur

Jujur aja, pas kita kurang tidur, otak bagian prefrontal cortex—yang tugasnya mikir logis dan ngerem emosi—itu kayak lagi cuti tanpa tanggungan. Hasilnya? Kita jadi lebih reaktif. Hal sepele kayak handuk basah di atas kasur atau odol yang nggak dipencet dari bawah bisa jadi pemicu Perang Dunia Ketiga di dalam kamar. Bayangin kalau salah satu dari kalian tidurnya kayak habis ikut lari maraton, tapi yang satunya lagi terjaga semalaman gara-gara suara ngorok pasangannya yang mirip mesin genset rusak. Besok paginya, dipastikan suasana rumah bakal lebih tegang daripada nunggu pengumuman hasil ujian.

Kualitas tidur yang buruk bikin kita susah empati. Kita jadi nggak sabaran sama pasangan. Harusnya bisa ketawa pas lihat dia ceroboh, eh malah jadi pengen ngomel panjang lebar. Riset juga bilang kalau orang yang kurang tidur cenderung sulit buat nyelesain konflik dengan kepala dingin. Yang ada malah saling menyalahkan, ego naik ke ubun-ubun, dan akhirnya tidur munggungi satu sama lain. Kan boncos kalau kayak gitu terus setiap hari.

Fenomena Sleep Divorce, Emang Boleh Se-ekstrem Itu?

Sekarang lagi rame istilah "Sleep Divorce" atau cerai tidur. Tenang, ini bukan berarti hubungan kalian berakhir di pengadilan agama. Sleep divorce itu istilah buat pasangan yang milih tidur di kasur atau kamar terpisah demi mengejar kualitas tidur yang hakiki. Kedengarannya mungkin kurang romantis ya? Kayak hubungan yang lagi renggang. Tapi faktanya, banyak pasangan yang justru makin harmonis setelah berani ambil langkah ini.

Kenapa? Karena pas bangun pagi, keduanya sama-sama segar. Nggak ada lagi dendam terselubung gara-gara kaki pasangan nendang perut pas lagi mimpi indah, atau rebutan selimut di tengah malam yang dinginnya minta ampun. Kadang-kadang, mencintai pasangan itu artinya memberi mereka ruang buat tidur dengan tenang tanpa gangguan suara dengkuran kita yang merdu itu. Kalau tidur cukup, pas ketemu di meja makan buat sarapan, aura yang keluar itu positif, bukan aura pengen ngajak baku hantam.

Pillow Talk yang Berubah Jadi Pillow Fight

Kita semua tahu kalau "pillow talk" itu salah satu bumbu paling sedap dalam pernikahan. Momen deep talk sebelum tidur, bahas masa depan, atau sekadar gibahin tetangga itu penting banget buat bonding. Tapi, kalau salah satu udah ngantuk berat sementara yang lain pengen ngobrol, yang ada malah pillow fight secara mental. Satu orang curhat panjang lebar, yang satu lagi cuma jawab "he-eh" sambil mata merem-melek. Akhirnya yang curhat ngerasa nggak dihargai, yang ngantuk ngerasa ditekan.

Kualitas tidur yang sinkron itu penting. Kalau pasanganmu tipe yang deep sleeper sedangkan kamu light sleeper yang gampang kebangun sama suara sekecil apa pun, komunikasi soal ini harus beres. Jangan sampai ada silent treatment gara-gara kamu merasa terganggu tapi nggak enak mau ngomong. Ingat, rumah tangga itu maraton, bukan sprint. Dan maraton butuh istirahat yang cukup biar nggak pingsan di tengah jalan.

Investasi di Kasur Lebih Penting Daripada Investasi Saham Gorengan

Seringkali kita rela keluar duit jutaan buat modif motor atau beli tas branded, tapi pelit banget pas mau beli kasur yang enak atau bantal yang ergonomis. Padahal, sepertiga hidup kita itu dihabiskan di atas kasur. Investasi di perlengkapan tidur yang berkualitas itu secara nggak langsung adalah investasi buat kesehatan mental pernikahan kalian.

Coba deh cek, mungkin kasur kalian udah ambles di tengah, atau sprei yang bahannya bikin gerah dan gatal. Hal-hal fisik kayak gini sering luput dari perhatian, padahal dampaknya nyata. Kamar tidur harus jadi "sanctuary", tempat paling aman dan nyaman. Matikan lampu, jauhkan gadget minimal 30 menit sebelum tidur, dan pastikan suhu ruangan pas. Percayalah, mood pasanganmu yang tadinya kayak singa lapar bisa berubah jadi kucing manis cuma karena dia dapet tidur 8 jam yang nyenyak tanpa gangguan.

Kesimpulan: Tidur Itu Ibadah, Apalagi Kalau Bareng Pasangan

Pada akhirnya, keharmonisan rumah tangga itu nggak cuma dibangun lewat makan malam mewah atau liburan ke luar negeri. Hal-hal receh kayak memastikan pasangan kita bisa tidur nyenyak itu bentuk kasih sayang yang paling murni. Dengan tidur yang cukup, kita jadi punya stok sabar yang lebih banyak, energi buat dengerin cerita mereka, dan mood yang lebih stabil buat menghadapi segala drama kehidupan.

Jadi, kalau malam ini pasanganmu ngoroknya agak kencang atau dia mutusin buat tidur lebih awal, jangan baper dulu. Mungkin dia cuma butuh recharge biar besok pagi bisa jadi partner hidup yang lebih asik. Yuk, mulai hargai waktu tidur masing-masing. Karena rumah tangga yang bahagia itu dimulai dari bantal yang nyaman dan mimpi yang indah.

Logo Radio
🔴 Radio Live