Ceritra
Ceritra Cinta

Ramadhan Bukan Ajang Lomba Capek: Tips Atur Waktu di Bulan Suci

Refa - Thursday, 19 February 2026 | 07:00 PM

Background
Ramadhan Bukan Ajang Lomba Capek: Tips Atur Waktu di Bulan Suci
Ilustrasi ayah dan anak membersihkan rumah (pexels.com/Gustavo Fring)

Berbagi Tugas di Bulan Puasa: Biar Nggak Ada yang Zonk Sendirian di Dapur

Ramadhan itu vibes-nya emang nggak ada lawan. Suasana sore nunggu adzan Maghrib, aroma kolak yang lewat di depan hidung, sampai keriuhan bangun sahur yang kadang bikin mata melek-merem. Tapi, di balik segala kemeriahan spiritual itu, ada satu kenyataan pahit yang sering luput dari perhatian: beban kerja domestik yang melonjak drastis. Kalau nggak hati-hati, Ramadhan yang harusnya jadi momen refleksi malah berubah jadi ajang perlombaan siapa yang paling cepat encok dan kurang tidur.

Coba deh perhatikan. Biasanya, urusan dapur, cuci piring bekas sahur, sampai nyapu sisa-sisa takjil seringnya diborong sama satu orang saja. Entah itu Ibu, istri, atau salah satu penghuni rumah yang dianggap paling rajin. Sementara yang lain? Ada yang masih asyik 'molor' setelah sahur atau malah asyik mabar game sambil nunggu buka. Pola kayak gini jelas nggak sehat. Puasa itu ibadah kolektif, jadi urusan rumah tangga pun harusnya dikerjain secara kolektif juga. Jangan sampai ada satu orang yang ngerasa jadi "martir" di tengah keluarga yang lain.

Komunikasi adalah Koentji (Bukan Cuma Klise)

Langkah pertama yang paling krusial tapi sering dianggap remeh adalah ngobrol. Sebelum puasa masuk minggu-minggu kritis, coba deh duduk bareng di meja makan. Jangan cuma bahas mau buka pakai apa besok, tapi bahas siapa ngerjain apa. Kita sering banget terjebak dalam ekspektasi bahwa "ah, dia pasti tahu lah kalau aku capek." Padahal, nggak semua orang punya radar peka setingkat agen rahasia.

Ngomong jujur itu perlu. Kalau kamu merasa berat bangun jam 3 pagi buat masak sendirian, bilang. Usulkan pembagian tugas yang adil. Misalnya, si Ayah bagian belanja bahan ke pasar atau tukang sayur, anak-anak bagian beresin meja makan, dan si Ibu fokus ke masak. Atau kalau mau lebih ekstrem, bagi jadwal masak: Senin-Rabu Ibu, Kamis-Sabtu Ayah, Minggu kita jajan di luar atau pesan antar. Dengan adanya komitmen di awal, nggak bakal ada lagi tuh drama sindir-sindiran di grup WhatsApp keluarga gara-gara tumpukan piring kotor.

Strategi Sahur dan Buka: Bagi Peran, Bukan Cuma Bagi Makanan

Waktu sahur adalah waktu yang paling rawan bikin emosi meledak. Bayangin, mata masih lengket, perut harus diisi, dan waktu mepet ke Imsak. Di sini, pembagian tugas harus taktis. Salah satu tips yang oke adalah sistem "tim persiapan" dan "tim pembersihan."

Tim persiapan bertugas menghangatkan makanan atau bikin minuman hangat saat bangun tidur. Tim pembersihan punya tugas berat setelah adzan Subuh berkumandang: cuci semua peralatan masak dan piring bekas makan. Jangan sampai pas jam kerja atau jam sekolah dimulai, wastafel masih penuh cucian. Ini bakal bikin stres tambahan pas sorenya mau nyiapin buka puasa. Intinya, jangan biarkan satu orang yang sama masak *sekaligus* cuci piring. Itu sih namanya nyiksa secara halus.

Menurunkan Standar Demi Kewarasan

Nah, ini yang sering bikin kita capek sendiri: perfeksionisme. Kadang kita ngerasa rumah harus selalu kinclong, makanan harus selalu tiga macam lauk plus takjil yang estetik ala konten TikTok. Padahal, badan kita lagi beradaptasi sama pola makan dan tidur yang berubah.

Nggak apa-apa kok kalau rumah agak berantakan dikit. Nggak apa-apa kalau lantai nggak dipel setiap hari selama Ramadhan. Fokuslah pada hal-hal esensial saja. Kalau memang energi lagi drop, menu buka puasa nggak harus selalu "wah". Goreng telur balado dan sayur bening sudah cukup mewah kalau dimakan bareng-bareng tanpa ada yang merasa tertekan. Turunkan standar kebersihan dan kerajinan kita setingkat lebih rendah demi menjaga kesehatan mental dan fisik selama sebulan penuh.

Manfaatkan Teknologi dan Jasa Pihak Ketiga

Kita hidup di zaman serba aplikasi, manfaatkanlah! Kalau memang semua orang di rumah lagi sibuk-sibuknya atau lagi beneran tepar, jangan memaksakan diri buat masak. Memesan makanan lewat ojek online bukan berarti kamu gagal jadi pengelola rumah tangga yang baik. Itu namanya manajemen energi.

Selain itu, stok makanan "frozen food" atau bumbu dasar yang sudah jadi bisa jadi penyelamat di saat kritis. Luangkan satu hari (misal hari Minggu) buat *food prep* atau nyiapin bumbu kuning, bumbu merah, dan ungkep ayam buat stok seminggu. Jadi pas hari kerja, kita tinggal cemplung-cemplung doang. Ini bakal memangkas waktu di dapur secara signifikan dan bikin beban kerja jadi lebih ringan buat siapa pun yang kebagian jadwal masak hari itu.

Melibatkan Anak-Anak (Tanpa Drama)

Buat yang sudah punya anak, Ramadhan adalah waktu yang pas buat ngajarin mereka tanggung jawab domestik. Nggak perlu tugas berat, minta mereka buat nata alat makan atau isi ulang botol minum di kulkas sudah sangat membantu. Berikan apresiasi atau pujian kecil biar mereka semangat. Dengan melibatkan anak-anak, mereka jadi paham bahwa rumah itu tanggung jawab bersama, bukan cuma tugas "ajaib" yang dilakukan Ibu atau bapak mereka secara otomatis.

Pada akhirnya, Ramadhan bukan cuma soal menahan lapar dan dahaga, tapi juga soal menahan ego. Jangan biarkan rumah kita jadi tempat di mana satu orang merasa jadi "pelayan" sementara yang lain jadi "raja". Dengan berbagi tugas secara adil, semua orang punya sisa energi yang cukup buat ibadah, tadarus, atau sekadar istirahat dengan tenang. Ingat, pahala berbagi tugas rumah tangga itu juga gede, lho. Jangan sampai kita mengejar pahala tarawih, tapi di sisi lain membiarkan orang terdekat kita kelelahan sampai hampir pingsan gara-gara urusan dapur yang nggak ada habisnya.

Logo Radio
🔴 Radio Live