Cara Membangun Komitmen Berbasis Kesepakatan, Bukan Norma Sosial
Refa - Saturday, 21 February 2026 | 07:00 PM


Mengenal Relationship Anarchy: Saat 'Aturan Main' Cinta Nggak Lagi Harus Seragam
Pernah nggak sih kamu merasa kalau urusan asmara itu punya Standard Operating Procedure (SOP) yang kaku banget? Biasanya polanya begini: kenalan, pdkt, jadian, pamer foto di Instagram, tunangan, nikah, lalu punya anak. Di masyarakat kita, pola ini sering disebut sebagai relationship escalator atau eskalator hubungan. Begitu kamu menginjakkan kaki di anak tangga pertama, kamu seolah dipaksa untuk terus naik sampai ke puncak. Kalau berhenti di tengah jalan atau malah turun, orang-orang bakal nanya, "Kapan nih lanjutnya?" atau "Kok hubungannya nggak ada progres?"
Tapi, bayangkan kalau ada sekelompok orang yang memutuskan buat melompat keluar dari eskalator itu. Mereka nggak mau didikte oleh label, nggak mau memprioritaskan pasangan di atas segalanya, dan nggak peduli pada hirarki cinta yang diciptakan lingkungan sosial. Fenomena inilah yang kita kenal sebagai Relationship Anarchy (RA). Kedengarannya mungkin ekstrem, mirip-mirip gerakan politik yang hobi demo di jalanan, tapi dalam konteks asmara, Relationship Anarchy sebenarnya jauh lebih personal dan penuh refleksi.
Apa Itu Relationship Anarchy?
Relationship Anarchy bukan berarti hubungan yang kacau balau atau hobi gonta-ganti pasangan tanpa aturan. Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh Andie Nordgren lewat manifesto yang ia tulis. Intinya sederhana: setiap individu berhak menentukan sendiri aturan dalam hubungannya tanpa harus mengikuti norma atau ekspektasi masyarakat. Di sini, nggak ada aturan baku yang bilang kalau pacar harus lebih diprioritaskan daripada sahabat, atau kalau cinta romantis itu kastanya lebih tinggi daripada cinta platonik.
Coba deh pikirkan, kenapa kita sering merasa "berdosa" kalau lebih memilih nonton konser bareng teman daripada nemenin pacar kondangan? Atau kenapa kita merasa gagal kalau sudah umur 30 tapi belum menikah? Relationship Anarchy mencoba mendobrak pola pikir itu. Para penganutnya percaya bahwa setiap komitmen harus dibangun berdasarkan kesepakatan bersama yang unik, bukan karena "kata orang harus begitu".
Prinsip Utama: Cinta Bukan Sumber Daya yang Terbatas
Salah satu fondasi terkuat dalam Relationship Anarchy adalah pandangan bahwa cinta itu bukan kayak bensin yang bisa habis kalau dibagi-bagi. Dalam hubungan tradisional (monogami), kita sering diminta untuk fokus hanya pada satu orang. Semua energi, curhat, dan kasih sayang harus ditumpahkan ke pasangan. Kalau kita terlalu akrab dengan orang lain, wah, langsung dituduh selingkuh atau nggak setia.
Bagi seorang Relationship Anarchist, cinta itu berlimpah. Mereka nggak mengenal konsep hirarki. Baginya, hubungan dengan sahabat karib yang sudah menemani selama 10 tahun bisa jadi sama pentingnya atau bahkan lebih penting daripada hubungan dengan orang yang baru dipacari selama beberapa bulan. Mereka nggak mau membeda-bedakan jenis kasih sayang berdasarkan label romantis atau tidak. Jadi, jangan kaget kalau ada orang yang nggak mau disebut "pacaran" tapi mereka punya komitmen yang sangat dalam satu sama lain.
Berikut adalah beberapa pilar yang biasanya dipegang teguh oleh mereka yang menjalani gaya hidup ini:
- Otonomi Penuh: Kamu adalah pemilik dirimu sendiri. Kamu nggak punya hak untuk mengatur hidup orang lain, dan orang lain pun nggak punya hak untuk mengekangmu, meskipun dia adalah pasanganmu.
- Komunikasi yang Brutal dan Jujur: Karena nggak ada aturan standar, semua hal harus dibicarakan. Dari soal batasan fisik, ekspektasi waktu, sampai masalah perasaan. Nggak ada yang namanya "kode-kodean" yang bikin pusing kepala.
- Kepercayaan sebagai Dasar, Bukan Pengawasan: Mereka nggak percaya sama konsep posesif. Kalau kamu percaya sama seseorang, ya sudah, kasih mereka kebebasan. Menaruh curiga tanpa alasan cuma bakal bikin hubungan jadi toxic.
- Kebahagiaan Kolektif: Hubungan ada untuk menambah kebahagiaan, bukan untuk menambah beban atau memenuhi tuntutan sosial.
Bukan Sekadar Open Relationship atau Poliamori
Sering banget orang salah kaprah dan menyamakan Relationship Anarchy dengan poliamori (punya banyak pasangan dalam satu waktu) atau sekadar hubungan bebas. Padahal, RA itu lebih ke arah mindset atau filosofi. Seseorang yang menjalani hubungan monogami pun bisa disebut penganut Relationship Anarchy asalkan mereka membangun aturannya sendiri, bukan karena terpaksa mengikuti norma masyarakat.
Misalnya begini, ada pasangan yang sudah bertahun-tahun bareng tapi memutuskan untuk nggak tinggal serumah dan nggak mau menikah. Bagi masyarakat umum, ini mungkin dianggap "aneh" atau "nggak serius". Tapi bagi mereka, itulah bentuk Relationship Anarchy. Mereka berkomitmen satu sama lain, tapi tetap menjaga privasi dan ruang masing-masing tanpa harus terikat dokumen negara atau tuntutan tetangga. Plot twist-nya, justru hubungan seperti ini seringkali jauh lebih sehat karena dibangun atas dasar keinginan murni, bukan karena tekanan "kapan kawin".
Tantangan: Nggak Semudah Teori di Media Sosial
Jujur saja, mempraktikkan Relationship Anarchy di Indonesia itu tantangannya luar biasa berat. Kita tinggal di budaya yang sangat kolektif, di mana urusan ranjang atau urusan pacaran sering jadi konsumsi publik (atau minimal konsumsi grup WhatsApp keluarga). Menjadi "anarkis" dalam hubungan berarti kamu harus siap mental dianggap aneh, egois, atau bahkan dituduh menghindari tanggung jawab.
Selain itu, RA butuh tingkat kedewasaan emosional yang tinggi. Kamu harus benar-benar kenal diri sendiri. Kamu harus tahu apa yang kamu mau dan apa yang nggak bisa kamu toleransi. Nggak bisa cuma ikut-ikutan tren karena merasa keren. Tanpa komunikasi yang jujur, konsep ini malah bisa jadi bumerang yang bikin orang-orang di sekitarmu merasa terluka atau bingung.
Penutup: Pilih Jalanmu Sendiri
Pada akhirnya, Relationship Anarchy bukan berarti mengajak semua orang untuk jadi anti-nikah atau anti-komitmen. Poin utamanya adalah tentang kesadaran. Apakah kamu menjalani hubunganmu yang sekarang karena kamu memang menginginkannya, atau karena kamu takut dicap aneh kalau nggak melakukannya?
Dunia sudah berubah. Definisi bahagia nggak lagi cuma punya satu template. Mau kamu penganut monogami garis keras, mau kamu memilih untuk nggak punya label dalam hubungan, atau mau kamu menjalani Relationship Anarchy, kuncinya cuma satu: kejujuran pada diri sendiri dan pasangan. Kalau kamu merasa eskalator hubungan tradisional terlalu sesak dan bikin sesak napas, mungkin sudah saatnya kamu mencoba turun dan mulai berjalan kaki di jalurmu sendiri. Berat memang, tapi setidaknya kamu yang memegang kemudinya.
Next News

Hanya Jalanin Aja Dulu? Kenali Tanda Kamu di Hubungan Tanpa Status
3 hours ago

Pasangan Diam Tanpa Sebab? Simak Cara Mengatasinya
a day ago

Duduk Berdua tapi Merasa Sendiri? Yuk Ciptakan Momen Bermakna
a day ago

Vibes Ramadan dan Perjuangan Pasangan di Balik Dapur
a day ago

Dari Mesra Jadi Hambar? Kenali Tanda Hubungan Perlu Diselamatkan
2 days ago

Ramadhan Bukan Ajang Lomba Capek: Tips Atur Waktu di Bulan Suci
2 days ago

Tidur Nggak Berkualitas Bisa Bikin Hubungan Retak, Ini Faktanya
3 days ago

Capek Ribut Terus sama Pasangan? Lakukan Langkah Ini
3 days ago

Fenomena Loveflation Bikin Anak Muda Terjerat Utang Demi Cinta
3 days ago

10 Pertanyaan Deep Talk yang Akan Membuatmu Lebih Dekat dengan Pasangan Malam Ini
7 days ago






