Ceritra
Ceritra Cinta

“Cintai Diri Sendiri Sebelum Orang Lain”, Ini Makna yang Sering Disalahpahami

Refa - Sunday, 11 January 2026 | 07:30 PM

Background
“Cintai Diri Sendiri Sebelum Orang Lain”, Ini Makna yang Sering Disalahpahami
Ilustrasi perempuan memeluk dirinya sendiri (Pinterest/minhavida)

Kalimat "Cintai diri sendiri sebelum mencintai orang lain" sangat sering muncul di media sosial, buku pengembangan diri, hingga lirik lagu. Bagi sebagian orang, nasihat ini terdengar seperti klise yang membosankan atau sekadar kalimat motivasi kosong.

Namun, dari kacamata psikologi, pernyataan tersebut memiliki dasar ilmiah yang kuat. Hubungan antara penerimaan diri (self-acceptance) dan kualitas hubungan romantis saling berkaitan erat.

Berikut adalah penjelasan logis mengapa seseorang perlu memiliki hubungan yang baik dengan dirinya sendiri sebelum menjalin komitmen dengan orang lain.

1. Mencegah Ketergantungan Emosional

Fungsi utama self-love adalah menciptakan rasa "cukup" pada diri sendiri. Seseorang yang tidak mencintai dirinya sendiri sering kali memiliki kekosongan emosional yang besar.

Akibatnya, saat menjalin hubungan, individu tersebut cenderung menjadikan pasangannya sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan dan validasi diri. Kondisi ini menciptakan ketergantungan emosional yang berat sebelah. Pasangan akan merasa terbebani karena harus terus-menerus memberikan konfirmasi rasa aman, sementara individu tersebut akan selalu merasa cemas dan takut ditinggalkan.

2. Menetapkan Standar Perlakuan

Terdapat sebuah prinsip psikologi yang menyebutkan bahwa manusia menerima cinta yang menurut mereka pantas mereka dapatkan.

Seseorang yang memiliki tingkat self-love rendah cenderung merasa dirinya tidak berharga. Hal ini membuat mereka rentan terjebak dalam hubungan yang tidak sehat (toxic relationship). Mereka cenderung mentoleransi perlakuan buruk, kekerasan verbal, atau pengabaian dari pasangan karena merasa tidak pantas mendapatkan perlakuan yang lebih baik.

Sebaliknya, orang yang menghargai dirinya sendiri memiliki batasan (boundaries) yang tegas. Mereka tahu kapan harus berhenti dan meninggalkan hubungan jika perlakuan pasangan sudah melanggar nilai-nilai penghormatan diri.

3. Fokus Memberi, Bukan Meminta

Cinta yang dewasa adalah tentang memberi dan berbagi. Namun, untuk bisa memberi perhatian dan dukungan emosional kepada orang lain, seseorang harus memiliki ketersediaan energi emosional terlebih dahulu.

Orang yang belum selesai dengan insekuritas (rasa tidak aman) dirinya sendiri akan menghabiskan energi untuk mengurusi kecemasan pribadinya. Fokusnya dalam hubungan akan selalu tertuju pada "apa yang bisa saya dapatkan" bukan "apa yang bisa saya berikan". Hal ini menghambat terbentuknya hubungan timbal balik yang sehat.

4. Menghindari Proyeksi Masalah

Ketidakpuasan terhadap diri sendiri sering kali diproyeksikan kepada pasangan. Seseorang yang membenci kekurangan fisiknya sendiri, misalnya, mungkin akan menjadi sangat cemburu atau curigaan terhadap pasangan tanpa alasan yang jelas.

Kecurigaan ini muncul bukan karena kesalahan pasangan, melainkan karena rasa rendah diri (inferiority complex) yang dimiliki individu tersebut. Dengan mencintai diri sendiri, seseorang dapat memisahkan antara fakta dan ketakutan pribadi, sehingga konflik dalam hubungan dapat diminimalkan.

Logo Radio
🔴 Radio Live