Healing Inner Child: Mengapa Kita Sering Jatuh Cinta pada Orang yang Sifatnya Mirip Ayah atau Ibu?
Refa - Monday, 05 January 2026 | 12:30 PM


Pernahkah kamu mendengar temanmu curhat sambil menangis, mengeluh bahwa semua mantan kekasihnya memiliki sifat yang sama? Mungkin mereka selalu bertemu dengan pria yang emosian, atau wanita yang dingin dan tidak bisa dijangkau secara emosional. Padahal, secara fisik dan latar belakang, orang-orang yang dipacarinya berbeda jauh. Temanmu mungkin berpikir dia sedang sial atau dikutuk. Namun dalam kacamata psikologi, tidak ada yang namanya kebetulan dalam hal ketertarikan.
Jika ditelusuri lebih dalam, sering kali ditemukan benang merah yang mengejutkan. Sifat-sifat pasangan yang menyakitkan itu ternyata sangat mirip dengan sifat salah satu orang tua mereka. Fenomena ini bisa terasa membingungkan. Secara logika, jika kita tumbuh dengan ayah yang keras atau ibu yang pengkritik, seharusnya kita mencari pasangan yang lembut dan suportif, bukan? Mengapa kita justru berlari kembali ke pelukan "monster" yang sama dengan wajah yang berbeda? Jawabannya terletak jauh di dalam alam bawah sadar kita, di tempat Inner Child kita bersembunyi.
Otak Mencari Apa yang Terasa 'Familiar', Bukan yang Menyenangkan
Manusia adalah makhluk kebiasaan. Bagi otak reptil kita, sesuatu yang familier, meskipun menyakitkan, sering kali diterjemahkan sebagai rasa "aman" karena kita sudah tahu cara menghadapinya. Psikolog sering menyebut ini sebagai Imago Theory. Kita secara tidak sadar membawa cetak biru (imago) tentang apa itu "cinta" berdasarkan apa yang kita lihat dan rasakan di rumah saat kecil.
Jika masa kecilmu diwarnai dengan usaha keras untuk mendapatkan perhatian dari ayah yang sibuk dan dingin, maka otakmu merekam bahwa cinta adalah "usaha mengejar validasi". Akibatnya, saat dewasa, kamu akan merasa bosan jika bertemu dengan pasangan yang terlalu baik, tersedia, dan memberi perhatian tanpa diminta. Kamu justru akan merasa tertantang dan merasakan "chemistry" yang kuat saat bertemu seseorang yang dingin dan abai, karena itulah definisi "cinta" versi otak kecilmu. Kamu tidak sedang mencari kebahagiaan, kamu sedang mencari jalan pulang ke rumah, meskipun rumah itu sedang terbakar.
Misi Penyelamatan yang Belum Selesai
Alasan kedua yang lebih mendalam adalah keinginan bawah sadar untuk memperbaiki masa lalu atau Repetition Compulsion. Saat kecil, kita tidak berdaya. Kita tidak bisa mengubah ayah yang pemarah menjadi lembut, atau ibu yang depresi menjadi ceria. Ketidakberdayaan ini meninggalkan luka dan urusan yang belum selesai.
Saat dewasa, kita tanpa sadar mencari pasangan dengan sifat serupa sebagai "proyek perbaikan". Alam bawah sadar kita berbisik: "Dulu aku gagal membuat Ayah mencintaiku. Tapi kali ini, aku akan membuat pria dingin ini berubah menjadi hangat. Jika aku berhasil mengubahnya, maka aku akan merasa berharga dan luka masa kecilku akan sembuh." Sayangnya, ini adalah jebakan. Kita tidak bisa mengubah orang lain, dan mencoba menyembuhkan luka masa lalu lewat orang baru hanya akan membuat kita terluka berulang kali dengan cara yang sama.
Memutus Rantai Trauma
Kabar baiknya, menyadari pola ini adalah 50 persen dari kesembuhan. Langkah pertama untuk berhenti jatuh cinta pada "orang tua" kita adalah dengan berduka dan menerima kenyataan. Kita harus menerima bahwa orang tua kita mungkin memiliki kekurangan dan mereka tidak bisa memberikan cinta yang kita butuhkan saat itu. Berhentilah mencari sosok pengganti mereka dalam diri pasanganmu.
Mulailah melakukan Reparenting atau menjadi orang tua bagi diri sendiri. Berikan validasi, kasih sayang, dan rasa aman itu kepada dirimu sendiri, jangan mengemisnya dari orang lain. Ketika kamu sudah merasa utuh dan berdamai dengan masa lalu, seleramu perlahan akan berubah. Kamu tidak akan lagi tertarik pada "bad boy" atau "drama queen" yang menguras emosi. Sebaliknya, kamu akan mulai merasa nyaman dan tertarik pada hubungan yang tenang, stabil, dan membosankan dalam artian yang baik. Karena cinta yang sehat seharusnya menenangkan, bukan membuatmu terus-menerus berjuang untuk membuktikan diri.
Next News

Kamu Kecewa Sama Dia… atau Sama Versi Dia di Kepalamu Sendiri?
a day ago

Pacar Baru Kok Mirip Mantan? Ternyata Ini Ulah Otak Bawah Sadarmu
2 days ago

Menikah Itu Komitmen Seumur Hidup, Tapi Kenapa Banyak yang Terburu-buru?
2 days ago

Alasan di Balik Sulitnya Menyampaikan Isi Hati yang Sebenarnya
2 days ago

5 Love Languages Tak Lagi Soal Fisik, Ini Adaptasinya di Dunia Digital
3 days ago

“Cintai Diri Sendiri Sebelum Orang Lain”, Ini Makna yang Sering Disalahpahami
3 days ago

Jangan Salah Kirim, Ini Arti Sebenarnya di Balik Warna-warni Emoji Hati
3 days ago

Menghidupkan Kembali Romansa di Tengah Rutinitas dengan Kalimat Jenaka
4 days ago

People Pleaser Syndrome: Berhenti Bilang 'Iya' Saat Hatimu Berteriak 'Tidak', Ini Cara Menolak Tanpa Rasa Bersalah
10 days ago

Tanda-tanda Kamu Sering Memanipulasi Diri Sendiri Demi Menjaga Perasaan Orang Lain
10 days ago






