Kamu Kecewa Sama Dia… atau Sama Versi Dia di Kepalamu Sendiri?
Refa - Tuesday, 13 January 2026 | 06:00 PM


Pernah tidak kamu merasa kecewa berat karena pasanganmu melakukan sesuatu yang sebenarnya sepele? Misalnya, dia lupa mengucapkan selamat pagi, atau dia tidak peka saat kamu kode minta ditemani.
Rasa kecewanya bukan sekadar kesal, tapi rasanya seperti dikhianati. Kamu membatin, "Dia harusnya nggak kayak gini. Dia harusnya ngerti aku."
Hati-hati, perasaan kecewa yang berlebihan itu seringkali jadi tanda bahaya. Bisa jadi, selama ini kamu tidak benar-benar mencintai sosok dia yang nyata. Kamu sedang jatuh cinta pada "versi imajinasi" atau skenario ideal yang kamu ciptakan sendiri di kepalamu. Saat dia yang asli bertindak di luar skenario itu, kamu marah.
Ini jebakan yang paling sering bikin hubungan hancur. Yuk, kita bedah tandanya apakah kamu mencintai orangnya, atau mencintai fantasimu tentang dia.
1. Hobi Mengisi Titik-Titik yang Kosong
Saat masa pendekatan (PDKT), kita biasanya belum tahu banyak soal sifat asli gebetan. Di sinilah otak kita sering berulah. Kita cenderung mengisi ketidaktahuan itu dengan asumsi-asumsi positif kita sendiri.
Contohnya, kamu melihat dia orangnya pendiam. Otakmu langsung menyimpulkan: "Wah, dia pasti misterius, bijaksana, dan pendengar yang baik." Padahal, aslinya mungkin dia pendiam karena dia memang pasif, malas ngobrol, atau tidak punya opini. Kamu jatuh cinta pada label "bijaksana" yang kamu tempelkan sendiri. Begitu tahu aslinya dia cuma malas mikir, kamu merasa ilfeel. Padahal dia tidak berubah, imajinasimu saja yang terlalu jauh.
2. Mencintai Potensi, Bukan Realita
Ini penyakit kronis dalam percintaan. Kamu berpacaran dengan seseorang bukan karena siapa dia hari ini, tapi karena siapa dia "nanti" di masa depan (menurut bayanganmu).
Kamu tahu dia sekarang kasar dan pelit, tapi kamu bertahan dengan alasan: "Nanti kalau sudah nikah, dia pasti berubah jadi lembut dan dermawan berkat cintaku." Ini namanya mencintai proyek, bukan manusia. Kamu jatuh cinta pada potensi yang belum tentu terjadi. Mencintai realita artinya kamu bertanya pada diri sendiri: "Kalau sifat dia tidak akan pernah berubah sampai tua nanti, apakah aku masih mau sama dia?" Kalau jawabannya tidak, berarti kamu cuma mencintai imajinasimu.
3. Marah Saat Dia "Keluar dari Skrip"
Tanpa sadar, kita sering menjadi sutradara di kepala sendiri. Kita sudah menulis naskah tentang bagaimana pasangan harus bersikap dalam situasi tertentu.
Misalnya, kamu memberi kado ulang tahun. Di kepalamu, skripnya adalah: Dia akan terharu, matanya berkaca-kaca, lalu memelukku erat. Realitanya: Dia cuma senyum dan bilang, "Wah, makasih ya, bagus nih."
Kamu langsung bad mood dan menuduh dia tidak menghargai pemberianmu. Padahal, dia sudah berterima kasih. Dia cuma tidak berekspresi seperti aktor drama Korea yang ada di bayanganmu. Kamu marah bukan karena kesalahannya, tapi karena dia gagal memerankan tokoh fantasi yang kamu ciptakan.
4. Mengabaikan Sinyal Merah (Red Flags)
Ketika kita jatuh cinta pada versi imajinasi, kita punya kemampuan luar biasa untuk menyangkal kenyataan. Kita memakai kacamata kuda.
Pasanganmu jelas-jelas sering berbohong. Tapi karena di kepalamu dia adalah sosok "pria/wanita baik-baik yang sedang khilaf", kamu mencari seribu alasan untuk membenarkan tindakannya. "Ah, dia bohong demi kebaikan kok," atau "Dia cuma lagi stres." Kamu menolak melihat fakta buruk karena itu akan merusak gambar ideal yang sudah kamu lukis di pikiranmu. Semakin lama kamu menyangkal, semakin sakit jatuhnya nanti saat topeng itu benar-benar terbuka.
Next News

Pacar Baru Kok Mirip Mantan? Ternyata Ini Ulah Otak Bawah Sadarmu
a day ago

Menikah Itu Komitmen Seumur Hidup, Tapi Kenapa Banyak yang Terburu-buru?
a day ago

Alasan di Balik Sulitnya Menyampaikan Isi Hati yang Sebenarnya
a day ago

5 Love Languages Tak Lagi Soal Fisik, Ini Adaptasinya di Dunia Digital
3 days ago

“Cintai Diri Sendiri Sebelum Orang Lain”, Ini Makna yang Sering Disalahpahami
3 days ago

Jangan Salah Kirim, Ini Arti Sebenarnya di Balik Warna-warni Emoji Hati
3 days ago

Menghidupkan Kembali Romansa di Tengah Rutinitas dengan Kalimat Jenaka
4 days ago

People Pleaser Syndrome: Berhenti Bilang 'Iya' Saat Hatimu Berteriak 'Tidak', Ini Cara Menolak Tanpa Rasa Bersalah
10 days ago

Tanda-tanda Kamu Sering Memanipulasi Diri Sendiri Demi Menjaga Perasaan Orang Lain
10 days ago

Healing Inner Child: Mengapa Kita Sering Jatuh Cinta pada Orang yang Sifatnya Mirip Ayah atau Ibu?
10 days ago






