Ceritra
Ceritra Cinta

People Pleaser Syndrome: Berhenti Bilang 'Iya' Saat Hatimu Berteriak 'Tidak', Ini Cara Menolak Tanpa Rasa Bersalah

Refa - Monday, 05 January 2026 | 01:30 PM

Background
People Pleaser Syndrome: Berhenti Bilang 'Iya' Saat Hatimu Berteriak 'Tidak', Ini Cara Menolak Tanpa Rasa Bersalah
Ilustrasi People Pleaser (Pinterest/boredpanda)

Skenario ini pasti terasa familier. Seorang teman lama tiba-tiba menghubungimu untuk meminjam uang, atau atasanmu meminta lembur di akhir pekan padahal kamu sudah punya rencana liburan. Otakmu berteriak kencang, "Tolak! Kamu capek, kamu butuh istirahat!" Namun, mulutmu justru bergerak di luar kendali dan keluarlah kalimat keramat itu: "Boleh, bisa kok. Nanti aku bantu."

Sesaat setelah menutup telepon, rasa penyesalan itu datang. Kamu merasa bodoh, lelah, dan kesal pada diri sendiri. Selamat datang di klub People Pleaser. Banyak dari kita yang tumbuh dengan keyakinan bahwa menjadi orang baik berarti harus selalu ada untuk orang lain, tidak boleh mengecewakan, dan harus mengutamakan kepentingan orang lain di atas kepentingan sendiri. Namun, dalam psikologi, ada garis tegas yang membedakan antara menjadi orang baik (kindness) dan menjadi orang yang menyenangkan (people pleasing). Kebaikan dilakukan karena kamu ingin, sedangkan people pleasing dilakukan karena kamu takut.

Kebaikan atau Ketakutan akan Penolakan?

Akar masalah dari sindrom ini bukanlah karena hatimu terlalu lembut, melainkan karena egomu yang rapuh terhadap penolakan. Seorang people pleaser sebenarnya sedang melakukan transaksi bawah sadar. Kamu memberikan bantuan, waktu, dan tenaga dengan harapan orang lain akan menyukaimu, tidak akan meninggalkanmu, dan tidak akan marah padamu. Kamu menjadikan respon orang lain sebagai tolak ukur harga dirimu.

Ini adalah mekanisme pertahanan diri yang sering kali terbentuk sejak kecil, dikenal sebagai respons trauma fawning. Jika dulu kamu harus menjadi anak manis dan penurut agar orang tua tidak marah atau agar situasi rumah tetap tenang, maka otakmu merekam pola itu hingga dewasa. Kamu belajar bahwa "berkata tidak" adalah hal yang berbahaya. Akibatnya, kamu kehilangan kemampuan untuk mendeteksi batas kemampuan diri sendiri. Kamu menganggap setiap permintaan adalah perintah yang wajib dilaksanakan, padahal sebenarnya itu adalah pilihan yang boleh ditolak.

Bom Waktu Bernama Kebencian

Bahaya terbesar dari terus-menerus berkata "iya" saat hati berkata "tidak" adalah munculnya rasa benci atau resentment. Awalnya kamu mungkin merasa seperti pahlawan yang membantu semua orang. Namun lama-kelamaan, kamu akan merasa dimanfaatkan. Kamu mulai berharap orang lain bisa membaca pikiranmu dan tahu bahwa kamu lelah, tanpa kamu harus mengatakannya.

Ketika orang lain terus meminta karena kamu selalu memberi, kamu akan meledak marah atau menarik diri secara tiba-tiba. Hubungan yang dibangun di atas pondasi people pleasing tidak akan pernah tulus, karena kamu tidak menampilkan dirimu yang asli. Kamu hanya menampilkan versi "pelayan" yang selalu siap sedia. Orang-orang di sekitarmu menyukai apa yang kamu lakukan untuk mereka, bukan menyukai dirimu apa adanya. Ini adalah resep paling ampuh untuk merasa kesepian di tengah keramaian.

Trik Menunda: Beli Waktu untuk Dirimu Sendiri

Lantas, bagaimana cara berhenti? Mengubah kebiasaan puluhan tahun tidak bisa instan. Langkah pertamanya bukan langsung belajar berkata "tidak" secara frontal—karena itu pasti sangat menakutkan bagimu—melainkan belajar untuk menunda. Musuh utama people pleaser adalah tekanan untuk menjawab saat itu juga.

Mulai sekarang, hapus kata "iya" dan "bisa" dari respons otomatis di lidahmu. Ganti dengan kalimat sakti: "Boleh aku cek jadwal dulu? Nanti aku kabari lagi, ya." Kalimat sederhana ini memberimu ruang bernapas. Gunakan jeda waktu tersebut untuk berdialog dengan dirimu sendiri secara jujur. Tanyakan, "Apakah aku punya energi untuk ini? Apakah aku melakukan ini karena ingin atau karena takut dia marah?" Jika jawabannya karena takut, maka itulah saatnya kamu berlatih keberanian.

Ingatlah mantra ini: Setiap kali kamu berkata "iya" pada permintaan orang lain yang sebenarnya tidak kamu inginkan, kamu sedang berkata "tidak" pada kesehatan mental dan kebutuhanmu sendiri. Menolak bukan berarti kamu jahat, egois, atau teman yang buruk. Menolak berarti kamu menghargai dirimu sendiri, dan dengan begitu, kamu mengajari orang lain untuk menghargai kamu juga.

Logo Radio
🔴 Radio Live