Ceritra
Ceritra Cinta

Menikah Itu Komitmen Seumur Hidup, Tapi Kenapa Banyak yang Terburu-buru?

Refa - Tuesday, 13 January 2026 | 05:00 PM

Background
Menikah Itu Komitmen Seumur Hidup, Tapi Kenapa Banyak yang Terburu-buru?
Ilustrasi pasangan menikah (Pinterest/CreativeLifestylePodcasts)

Pertanyaan horor itu pasti pernah mampir di telinga kita: "Kapan nyusul?" atau "Ingat umur, nanti keburu tua lho."

Apalagi kalau melihat teman-teman seangkatan satu per satu mulai menyebar undangan. Rasa panik seringkali muncul. Kita jadi merasa tertinggal, gagal, atau ada yang salah dengan diri kita karena masih sendiri di usia yang menurut masyarakat sudah waktunya menikah.

Dilema ini klasik tapi nyata. Apakah kita harus menikah karena umur sudah "lampu merah" atau bertahan menunggu sampai benar-benar siap mental dan finansial?

Banyak orang terjebak mengambil keputusan besar hanya karena takut pada angka usia. Padahal, menikah itu komitmen seumur hidup, bukan sekadar pencapaian untuk dipamerkan di media sosial. Berikut alasan logis kenapa kesiapan jauh lebih krusial daripada sekadar mengejar umur.

1. Menikah Bukan Solusi Masalah Hidup

Banyak orang berpikir bahwa menikah akan menyelesaikan masalah kesepian atau ketidakbahagiaan mereka saat masih lajang. Ada anggapan bahwa kalau sudah nikah, hidup akan otomatis bahagia dan tenang. Ini adalah jebakan pemikiran yang berbahaya.

Faktanya, menikah justru menambah tantangan baru. Kalau saat single kamu belum bahagia dengan dirimu sendiri, membawa orang lain masuk ke dalam hidupmu tidak akan otomatis membuatmu bahagia. Justru, ketidakstabilan emosi itu akan menjadi beban bagi pasanganmu. Menikah karena panik dikejar umur seringkali membuat kita mengabaikan fakta bahwa kita belum selesai dengan masalah diri sendiri, yang akhirnya malah memicu konflik rumah tangga di kemudian hari.

2. Risiko Mengabaikan "Red Flag"

Ketika motivasi utamanya adalah "yang penting nikah sebelum umur 30", standar kita cenderung menurun drastis. Kita jadi kurang selektif. Sifat-sifat pasangan yang sebenarnya tidak cocok atau bahkan toxic (beracun) seringkali dimaklumi atau diabaikan hanya demi status "sudah laku".

Misalnya, kamu tahu pasanganmu punya masalah temperamen atau manajemen uang yang buruk. Tapi karena kamu takut dibilang perawan tua atau bujang lapuk, kamu nekat lanjut ke pelaminan dengan harapan "nanti dia berubah setelah nikah". Padahal, sifat dasar orang dewasa sangat sulit berubah. Memaksakan menikah dengan orang yang salah hanya karena target umur jauh lebih menyakitkan dan melelahkan daripada menjadi lajang sedikit lebih lama.

3. Definisi "Siap" Itu Bukan Cuma Pesta

Banyak yang salah kaprah mengartikan "siap nikah" dengan "siap menggelar resepsi". Padahal, pesta pernikahan hanya berlangsung satu hari, sedangkan pernikahannya sendiri berlangsung (idealnya) seumur hidup.

Kesiapan yang sesungguhnya meliputi mental, emosional, dan finansial. Siap mental berarti siap menurunkan ego, siap berkompromi, dan siap menghadapi kebosanan. Siap finansial bukan berarti harus kaya raya, tapi punya kemampuan mengatur arus kas dan punya rencana masa depan. Kalau kita menikah hanya karena umur tapi nol besar dalam skill komunikasi dan manajemen konflik, rumah tangga akan sangat rapuh saat badai masalah datang.

4. Tekanan Sosial Tidak Ikut Bayar Tagihan

Ini realita yang harus kita ingat setiap kali merasa tertekan oleh komentar orang lain: Tante, tetangga, atau teman yang mendesakmu segera menikah, mereka tidak akan ikut menjalani hari-harimu nanti. Mereka tidak akan ada di sana saat kamu bertengkar dengan pasangan soal uang belanja, dan mereka tidak akan ikut membayar tagihan listrikmu.

Keputusan menikah ada di tanganmu 100% karena kamu yang akan menjalani konsekuensinya setiap hari. Menikah terburu-buru demi memuaskan ekspektasi orang lain adalah pengorbanan yang sia-sia. Lebih baik menutup telinga dari komentar miring sebentar, daripada terjebak dalam pernikahan yang tidak bahagia selamanya.

Logo Radio
🔴 Radio Live