Ceritra
Ceritra Kota

Sidoarjo Pride! Melipir Sejenak dari Macetnya Gedangan Demi Surga Kuliner yang Gak Ada Lawan

Nizar - Thursday, 09 April 2026 | 06:05 PM

Background
Sidoarjo Pride! Melipir Sejenak dari Macetnya Gedangan Demi Surga Kuliner yang Gak Ada Lawan
Lontong Kupang (Fimela/)

Bukan Cuma Lumpur, Sidoarjo Adalah Surga Tersembunyi Bagi Para Pemburu Rasa

Kalau kita bicara soal Sidoarjo, hal pertama yang terlintas di kepala kebanyakan orang biasanya nggak jauh-jauh dari Lumpur Lapindo atau kemacetan legendaris di perempatan Gedangan. Padahal, kalau mau sedikit melipir dan membuka kaca mobil, Sidoarjo punya aroma yang jauh lebih menggoda daripada sekadar bau aspal panas. Kota penyangga Surabaya ini sebenarnya adalah "sleeping giant" dalam peta kuliner Jawa Timur. Sidoarjo itu ibarat teman kelas yang pendiam tapi ternyata jago main gitar; nggak banyak omong, tapi sekalinya unjuk gigi, semua orang bakal terpana.

Kekuatan utama kuliner Sidoarjo terletak pada dua komoditas andalannya: udang dan bandeng. Nggak heran kalau logo kabupatennya saja memajang dua hewan air tersebut. Tapi, lebih dari sekadar bahan mentah, tangan-tangan kreatif warga Sidoarjo berhasil mengubahnya menjadi sajian yang bikin lidah nggak berhenti bergoyang. Mari kita bedah satu per satu kenapa kamu harus menyiapkan ruang ekstra di perut saat berkunjung ke sini.

Lontong Kupang: Tes Nyali yang Berujung Candu

Belum sah ke Sidoarjo kalau belum mencicipi Lontong Kupang. Bagi orang luar kota, melihat tumpukan hewan kecil-kecil berwarna cokelat pucat di atas piring mungkin akan sedikit menimbulkan rasa ragu. "Ini hewan apa, sih?" mungkin itu pertanyaan yang muncul. Kupang adalah jenis kerang putih yang ukurannya super kecil, seukuran biji beras, yang biasanya ditemukan di pinggir pantai atau daerah berlumpur.

Namun, jangan tertipu tampilannya. Begitu sesendok kuah petis yang dicampur perasan jeruk nipis, bawang putih goreng, dan cabai rawit masuk ke mulut, rasanya langsung meledak. Ada perpaduan gurih, manis, dan sedikit asam yang segar banget. Rahasianya ada di petisnya. Sidoarjo adalah produsen petis kualitas wahid, jadi jangan heran kalau rasanya sangat dalam dan nggak amis sama sekali.

Biasanya, Lontong Kupang disajikan bareng Sate Kerang yang kenyal dan manis, serta segelas Es Kelapa Muda. Konon katanya, air kelapa muda ini berfungsi sebagai "penawar" kalau-kalau kamu alergi atau merasa pusing setelah makan kupang. Tapi jujur saja, sensasi slurping kuah kupang di tengah cuaca Sidoarjo yang panasnya minta ampun itu adalah sebuah kemewahan yang nggak bisa dibeli di mal-mal mewah Jakarta.

Ote-Ote Porong: Raksasa yang Bikin Kenyang

Bergeser sedikit ke arah selatan, ada sebuah kudapan yang namanya sudah melegenda seantero negeri: Ote-Ote Porong. Kalau di tempat lain ote-ote (atau bakwan sayur) ukurannya standar saja, di Porong, makanan ini mengalami evolusi menjadi ukuran raksasa. Tekstur luarnya sangat renyah, tapi bagian dalamnya tetap lembut dan padat.

Yang bikin Ote-Ote Porong (terutama yang legendaris seperti merk Wei-Tjoe) berbeda adalah isiannya. Isinya bukan cuma wortel atau kecambah layu, melainkan rumput laut, tiram, hingga potongan daging yang melimpah. Memakannya selagi hangat sambil menggigit cabai hijau adalah sebuah ritual wajib. Meski daerah Porong sempat terdampak musibah lumpur, para pedagang ote-ote ini tetap bertahan, membuktikan bahwa rasa yang otentik nggak akan pernah bisa ditenggelamkan oleh bencana apa pun.

Bandeng Asap: Buah Tangan yang Berkelas

Kalau kamu bingung mau bawa pulang oleh-oleh apa, Bandeng Asap adalah jawaban paling logis. Berbeda dengan bandeng presto Semarang yang durinya lunak, Bandeng Asap Sidoarjo menonjolkan aroma smoky yang sangat kuat karena proses pengasapan tradisional. Dagingnya padat namun tetap juicy.

Biasanya, bandeng ini dinikmati dengan cocolan sambal kecap yang pedas-manis. Menariknya, bandeng-bandeng yang digunakan di sini diambil langsung dari tambak-tambak lokal yang airnya payau, sehingga rasa dagingnya punya tingkat kegurihan yang beda dari bandeng laut atau air tawar biasa. Ini adalah tipe makanan yang bikin kamu bakal nambah nasi berkali-kali tanpa sadar.

Rawon Gajah dan Sisi Gelap Kuliner Malam

Sidoarjo juga punya jagoan di lini "makanan berat" lainnya, yaitu Rawon. Ada beberapa spot rawon yang punya potongan daging sebesar jempol kaki gajah (itulah kenapa disebut Rawon Gajah). Kuah hitam pekat yang kaya akan kluwek, ditambah tauge pendek yang masih renyah, dan telur asin yang masir, adalah kombinasi maut untuk menutup hari.

Menjelajah Sidoarjo saat malam hari juga punya keseruan tersendiri. Kamu bisa menemukan deretan penjual nasi bebek yang sambalnya bisa bikin kamu istighfar karena pedasnya, atau sekadar nongkrong di Alun-alun sambil menikmati tahu tek yang bumbunya kental banget. Vibes-nya sangat membumi, tanpa pretensi, dan yang paling penting: harganya ramah banget di kantong mahasiswa atau pekerja yang baru gajian.


Logo Radio
🔴 Radio Live