Ceritra
Ceritra Warga

Sering Goyang Kaki Pas Lagi Fokus? Simak Penjelasan Medisnya

Nisrina - Tuesday, 31 March 2026 | 10:45 AM

Background
Sering Goyang Kaki Pas Lagi Fokus? Simak Penjelasan Medisnya
Ilustrasi (Freepik/Freepik)

Misteri Goyang Kaki: Antara Kebiasaan 'Mesin Jahit' dan Sinyal Otak yang Lagi Overdrive

Pernah nggak sih, pas lo lagi asik-asiknya nunggu pesanan kopi di senja yang syahdu, atau lagi fokus-fokusnya ngerjain tugas di perpustakaan, tiba-tiba lo sadar kalau kaki lo lagi 'disko' sendirian? Itu lho, gerakan naik-turun yang ritmis banget, mirip mesin jahit bertenaga tinggi yang nggak mau berhenti. Biasanya, kita baru sadar pas ada temen yang nyeletuk, "Woi, meja goyang nih!" atau pas nyokap melotot sambil bilang kalau goyang kaki itu bisa bikin rezeki menjauh.

Tapi jujurly, kenapa sih kita secara nggak sadar sering banget melakukan itu? Apakah ini cuma sekadar kebiasaan buruk, atau ada penjelasan ilmiah yang lebih dalam daripada sekadar mitos rezeki yang 'jatuh' dari kantong gara-gara kaki yang nggak bisa diam?

Bukan Sekadar Gabut, Ini Soal Kimia Otak

Mari kita bedah sedikit dari sisi sains tanpa harus bikin pusing kayak baca jurnal medis. Secara garis besar, menggerakkan kaki saat duduk itu adalah salah satu bentuk fidgeting. Dalam dunia psikologi, ini sering dikaitkan dengan mekanisme tubuh untuk menyeimbangkan neurotransmiter di otak, terutama dopamin.

Lo tau kan dopamin? Itu tuh hormon yang bikin kita merasa senang, fokus, dan termotivasi. Nah, saat kita harus duduk diam dalam waktu lama—misalnya pas rapat yang ngebosenin atau kelas yang dosennya ngomongnya datar banget—otak kita mulai ngerasa kekurangan stimulus. Di sinilah kaki kita ambil peran. Gerakan goyang-goyang itu sebenarnya cara tubuh buat menstimulasi sistem saraf supaya kita tetap waspada dan nggak ketiduran. Jadi, kalau kaki lo mulai goyang pas lagi belajar, itu tandanya otak lo lagi berusaha keras buat tetep stay on track.

Katup Pelepas Kecemasan

Selain soal fokus, menggerakkan kaki juga sering jadi 'katup pelepas' buat rasa cemas atau stres. Coba deh perhatiin, biasanya orang bakal makin kenceng goyang kakinya pas lagi nunggu giliran interview kerja atau pas lagi nunggu hasil revisian skripsi dari dosen pembimbing.

Dalam kondisi tegang, tubuh kita memproduksi adrenalin yang berlebih. Secara alami, adrenalin itu kan fungsinya buat fight or flight (lawan atau lari). Tapi masalahnya, lo lagi duduk manis di kursi, nggak mungkin kan tiba-tiba lari keliling ruangan tanpa alasan? Akhirnya, energi yang meluap-luap itu tersalurkan lewat gerakan kaki. Rasanya kayak ada energi listrik yang harus segera dibuang supaya badan nggak 'meledak' karena grogi.

Sindrom Kaki Gelisah: Saat Kebiasaan Jadi Gangguan

Tapi, kita juga harus bisa bedain mana yang cuma sekadar kebiasaan dan mana yang sudah masuk ke ranah medis. Ada kondisi yang namanya Restless Legs Syndrome (RLS) atau Sindrom Kaki Gelisah. Bedanya apa? Kalau fidgeting biasa itu seringnya nggak sadar dan kalau disetop ya sudah berhenti tanpa masalah.

Nah, orang yang punya RLS ini ngerasa ada sensasi yang nggak nyaman banget di kaki—kayak disetrum, gatal di dalam, atau kayak ada serangga yang merayap. Satu-satunya cara buat ngilangin rasa nggak enak itu ya dengan menggerakkan kaki. Bedanya lagi, RLS ini biasanya makin parah pas malam hari atau pas mau tidur, sampai-sampai bisa bikin orang susah tidur nyenyak. Kalau lo ngerasa gerakan kaki lo sudah sampai di level mengganggu kualitas hidup, mungkin itu saatnya buat konsultasi ke ahli, bukan cuma sekadar nyalahin kopi yang lo minum tadi sore.

Mitos Rezeki dan Etika Sosial

Di Indonesia, kebiasaan goyang kaki ini punya beban sosial tersendiri. Pasti banyak dari kita yang sering ditegur orang tua: "Jangan goyang-goyang kaki, nanti rezekinya ilang!" atau "Nggak sopan kalau lagi bicara sama orang tua kakinya goyang gitu."

Secara logis, tentu nggak ada hubungannya antara gerakan kaki dengan saldo di rekening bank lo. Tapi kalau dilihat dari kacamata etika, emang ada benernya sih. Menggerakkan kaki secara konstan bisa dianggap sebagai tanda kalau kita lagi nggak tenang, nggak sabaran, atau bahkan nggak menghargai lawan bicara. Plus, kalau lo duduk di meja yang sama dengan orang lain, getaran dari 'mesin jahit' lo itu bisa bikin orang lain merasa keganggu, mirip kayak ada gempa lokal skala kecil yang nggak kelar-kelar.

Ada Manfaatnya Juga, Lho!

Terlepas dari omelan orang tua atau gangguan buat orang sekitar, ternyata menggerakkan kaki punya sisi positif buat kesehatan fisik. Sebuah penelitian menunjukkan kalau fidgeting dengan kaki bisa membantu meningkatkan aliran darah di kaki yang terhambat karena duduk terlalu lama.

Duduk berjam-jam itu sebenarnya buruk banget buat pembuluh darah kita. Dengan menggoyangkan kaki, otot-otot kecil tetap bekerja dan membantu memompa darah kembali ke jantung. Bahkan, ada studi yang bilang kalau gerakan kecil ini bisa membakar kalori ekstra. Ya, nggak bakal bikin lo langsung six-pack sih, tapi lumayanlah daripada diem doang kayak patung.

Biarkan Dia Menari (Asal Tahu Tempat)

Jadi, pada akhirnya, menggerakkan kaki saat duduk itu adalah hal yang sangat manusiawi. Itu adalah cara tubuh kita berkomunikasi bahwa otak butuh stimulus, energi perlu dibuang, atau sekadar refleks supaya peredaran darah nggak macet. Kita bukan robot yang bisa diam sempurna dalam waktu lama.

Selama itu nggak sampai bikin meja goyang dan numpahin kopi orang di sebelah lo, atau nggak bikin sensasi nyeri yang aneh, ya nikmati saja 'tarian' kaki lo itu. Tapi ya tetep, kalau lagi di acara formal atau lagi ngobrol serius sama gebetan, coba deh buat lebih sadar diri. Jangan sampai gebetan lo ngerasa lagi duduk di atas kursi pijat yang rusak gara-gara kaki lo nggak bisa diem. Intinya, fidgeting itu normal, tapi jadi warga sosial yang peka itu jauh lebih penting.

Logo Radio
🔴 Radio Live