Ceritra
Ceritra Warga

Generation Gap: Kenapa Kita Nggak Paham Humor Anak Zaman Sekarang?

Shannon - Monday, 15 June 2026 | 07:00 PM

Background
Generation Gap: Kenapa Kita Nggak Paham Humor Anak Zaman Sekarang?
(Adobe Stock/)

Seni Menertawakan Hal yang Sama di Jaman yang Berbeda: Kenapa Joke Kita Sering Gak Nyambung?

Pernah nggak sih kamu lagi kumpul keluarga besar, terus sepupu kamu yang masih SD tiba-tiba ketawa ngakak sendirian sambil ngeliatin layar HP-nya? Pas kamu tanya, "Lagi liat apa sih?", dia malah nunjukin video singkat yang isinya cuma gambar kepala keluar dari toilet sambil nyanyi lagu nggak jelas. Reaksi kamu? Cuma melongo, garuk-garuk kepala, dan dalem hati ngebatin, "Ini lucunya di sebelah mana, ya?"

Selamat, kamu baru saja mengalami apa yang disebut dengan humor gap atau kesenjangan selera komedi antar generasi. Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru, tapi belakangan ini rasanya makin jadi-jadi. Dulu, jarak antara humor bapak kita sama humor kita mungkin cuma sebatas beda referensi politik atau komedian favorit. Sekarang? Humor itu rasanya kayak bahasa asing yang butuh kamus tebal buat memahaminya.

Evolusi Ketawa: Dari Slapstick ke Absurditas Hakiki

Kalau kita mau tarik garis ke belakang, selera humor itu emang berevolusi bareng teknologi dan kecepatan informasi. Jamannya kakek-nenek kita, humor itu sifatnya komunal dan fisik. Kita kenal Srimulat atau Warkop DKI yang mainannya slapstick, plesetan kata, atau karakter yang kuat banget. Kita semua ketawa di depan TV yang sama, di jam yang sama. Semua orang paham kenapa Dono yang jadi kodok itu lucu.

Masuk ke era milenial awal, humor mulai bergeser ke arah sindiran sosial dan stand-up comedy. Kita mulai suka komedi yang cerdas, yang ada setup dan punchline rapi. Tapi begitu masuk ke era Gen Z dan sekarang mulai merembet ke Gen Alpha, aturan mainnya berubah total. Humor jaman sekarang itu nggak butuh struktur. Semakin absurd, semakin nggak nyambung, dan semakin random, justru semakin dianggap "pecah".

Istilah "brainrot" sekarang lagi naik daun buat nggambarin konten-konten yang sebenernya nggak ada maknanya sama sekali, tapi entah kenapa bikin nagih buat ditonton. Buat mereka yang usianya udah kepala tiga ke atas, ngeliat meme "Skibidi Toilet" mungkin rasanya kayak ngeliat kiamat selera seni. Tapi buat anak-anak jaman sekarang, itu adalah puncak kreativitas yang bisa bikin mereka terpingkal-pingkal sampai nangis.

Kenapa Selera Kita Bisa Jauh Banget?

Ada beberapa alasan kenapa age gap ini bikin selera humor kita jadi kayak bumi dan langit. Pertama, masalah durasi perhatian atau attention span. Anak jaman sekarang tumbuh besar dengan algoritma TikTok yang ngasih stimulasi tiap 15 detik. Mereka nggak punya kesabaran buat nungguin komedian bangun cerita selama 5 menit cuma buat satu ledakan tawa di akhir. Mereka butuh yang instan, yang visualnya aneh, dan audionya ikonik.

Kedua, soal referensi. Humor itu sangat bergantung pada konteks. Humor "bapack-bapack" di WhatsApp grup biasanya muter-muter di sekitar kehidupan rumah tangga, politik receh, atau keluhan soal pinggang encok. Itu relate banget buat mereka karena itu realitanya. Sementara itu, Gen Z hidup di dunia digital yang penuh ironi. Mereka sering pake humor sebagai mekanisme pertahanan (coping mechanism) buat ngadepin dunia yang makin kacau. Makanya muncul yang namanya dark jokes atau humor yang ngetawain diri sendiri secara brutal.

Ketiga, masalah "Cringe". Ini kata sakti yang sering jadi pembatas antar jaman. Apa yang menurut generasi lama itu sopan dan lucu, bisa jadi dianggap cringe (menjijikkan atau memalukan) sama anak muda. Sebaliknya, apa yang dianggap keren sama anak muda, sering kali dianggap nggak sopan atau "nggak jelas" sama orang tua.

Menjembatani Jurang "Garing"

Terus, apa kita harus pasrah kalau udah nggak bisa ketawa bareng lagi? Ya nggak juga, sih. Sebenernya, humor itu jembatan paling gampang buat nembus sekat usia, asalkan kita mau sedikit nurunin ego. Kita nggak perlu maksa paham kenapa gambar kucing pakai topi koboi itu lucu. Cukup hargain aja kalau setiap jaman punya caranya sendiri buat bahagia.

Ada satu hal yang tetep sama dari dulu sampai sekarang: keinginan manusia buat merasa terhubung. Kadang, anak muda sebenernya suka kok sama "joke bapack-bapack" yang saking garingnya malah jadi lucu lagi. Istilahnya so bad it's good. Sebaliknya, orang tua juga bisa mulai belajar kalau dunia komedi nggak cuma soal Srimulat, tapi juga soal ekspresi kebebasan berpikir yang kadang emang nggak perlu ada logikanya.

Lucu itu subjektif, tapi saling menghargai selera itu mutlak. Kalau kamu ngerasa becandaan kamu nggak ditangkep sama lingkungan yang lebih muda (atau lebih tua), ya udah, nggak usah baper. Mungkin frekuensinya emang lagi nggak ketemu aja. Anggap aja lagi dengerin radio luar negeri; kamu nggak paham bahasanya, tapi kamu tau mereka lagi seneng-seneng di sana.

Kesimpulan: Ketawa Aja Dulu, Pahamnya Belakangan

Dunia ini udah cukup berat buat dijalani tanpa tawa. Jadi, mau kamu tim yang ketawa gara-gara pelesetan "nasi goreng apa yang bikin kangen" atau tim yang ketawa gara-gara liat video editan distorted yang nggak jelas juntrungannya, itu sah-sah aja. Perbedaan jaman emang bakal terus bikin selera kita bergeser, tapi esensinya tetep satu: kita cuma butuh sedikit hiburan biar nggak gila-gila banget ngadepin hidup.

Jadi, besok-besok kalau sepupu kamu ketawa sendiri liat HP, jangan langsung diceramahin soal selera rendah. Coba aja ikut senyum dikit, siapa tau aura bahagianya nular, biarpun otak kamu masih nanya-nanya: "Itu toilet kenapa bisa nyanyi, ya?"

Logo Radio
🔴 Radio Live