Ceritra
Ceritra Warga

Ingat Minyak Hijau Ini? Kenali Manfaat Urang Aring untuk Rambut

Shannon - Monday, 15 June 2026 | 06:00 PM

Background
Ingat Minyak Hijau Ini? Kenali Manfaat Urang Aring untuk Rambut
(Sozo Skin/)

Urang Aring: Si Hitam Legendaris yang Nasibnya Kini Tersisih Serum Mahal

Kalau kita bicara soal perawatan rambut, ingatan kolektif kita mungkin bakal langsung terlempar ke masa kecil. Coba ingat-ingat, siapa di sini yang waktu SD rambutnya sering diolesi cairan kental berwarna hijau gelap atau hitam yang baunya khas banget? Ya, apalagi kalau bukan urang aring. Bau aromanya itu lho, antara wangi bunga yang agak berat atau bau jamu-jamuan yang bikin kita langsung tahu kalau Nenek atau Ibu habis dandan.

Zaman sekarang, rak kamar mandi kita mungkin sudah penuh dengan deretan botol estetik berisi hair serum, heat protectant, sampai tonic yang harganya bisa bikin dompet nangis. Tapi, di tengah gempuran brand skincare luar negeri yang mengklaim bisa bikin rambut berkilau dalam semalam, urang aring tetap berdiri kokoh sebagai legenda yang tak lekang oleh waktu, meski posisinya mulai agak terpinggirkan ke sudut rak paling bawah di supermarket.

Bukan Sekadar Mitos Nenek Moyang

Urang aring yang punya nama keren secara botani Eclipta prostrata ini sebenarnya adalah tanaman liar. Kalau kamu main ke pinggir sawah atau selokan yang agak bersih, tanaman ini sering tumbuh subur tanpa ada yang menyiram. Bunganya kecil-kecil warna putih, mirip bunga matahari versi mini yang kurang gizi. Siapa sangka, tanaman yang sering dianggap gulma ini adalah "raja" dalam urusan menghitamkan rambut.

Kenapa sih orang dulu fanatik banget sama urang aring? Jawabannya sederhana: standar kecantikan rambut era itu adalah "hitam legam dan berkilau". Dulu, punya rambut cokelat karena sering terpapar matahari itu dianggap kurang sehat. Nah, urang aring hadir sebagai solusi alami. Cairan dari daun yang diremas-remas ini punya pigmen alami yang bisa bikin rambut jadi gelap secara perlahan tapi pasti. Istilahnya, ini adalah semir rambut organik jauh sebelum produk kimia menyerang pasar.

Selain bikin hitam, urang aring itu punya efek mendinginkan. Kalau cuaca lagi panas-panasnya dan kulit kepala rasanya kayak mau meledak, mengoleskan minyak urang aring itu rasanya adem banget. Sensasi dinginnya bukan kayak pakai sampo menthol yang "pedas", tapi lebih ke rasa tenang yang bikin rileks. Makanya, nggak heran kalau habis dipakaikan urang aring, anak-anak kecil zaman dulu langsung tidur pulas.

Nostalgia Botol Hijau yang Ikonik

Kalau ngomongin urang aring, nggak lengkap kalau nggak bahas kemasannya. Masih ingat botol kaca mungil dengan label kertas yang desainnya seolah nggak pernah berubah sejak tahun 80-an? Ada gambar perempuan berambut panjang sepinggang yang hitamnya minta ampun. Begitu tutupnya dibuka, langsung tercium aroma yang kalau kata anak zaman sekarang "vibes-nya jadul banget".

Lucunya, urang aring ini punya semacam stigma. Pakai minyak urang aring sering diidentikkan dengan orang tua atau gaya rambut yang kaku. Padahal, kalau kita mau jujur, kandungan alami di dalamnya jauh lebih ramah buat kulit kepala sensitif dibanding produk-produk modern yang isinya penuh dengan alkohol dan pewangi buatan. Tapi ya itu, selera memang nggak bisa dipaksa. Anak muda sekarang mungkin lebih milih rambut "balayage" atau "ash grey" ketimbang rambut hitam legam ala bintang iklan tahun 90-an.

Kenapa Kita Mulai Meninggalkannya?

Jujur saja, salah satu alasan kenapa urang aring mulai ditinggalkan adalah kepraktisan. Minyak urang aring itu teksturnya berminyak banget (namanya juga minyak, ya kan?). Kalau dipakai kebanyakan, rambut bukannya terlihat sehat malah jadi lepek kayak belum keramas seminggu. Belum lagi kalau kena bantal, bisa-bisa sarung bantalmu berubah jadi kanvas seni abstrak warna hitam atau kuning kehijauan.

Di era yang serba cepat ini, kita lebih suka produk yang "cepat meresap" dan "nggak bikin lengket". Kita lebih memilih hair oil berbahan argan atau marula yang harganya ratusan ribu karena dianggap lebih prestisius dan baunya wangi parfum mahal. Padahal, kalau kita bedah kandungannya, urang aring mengandung senyawa seperti wedelolactone yang punya khasiat anti-inflamasi dan bisa merangsang pertumbuhan rambut. Jadi, sebenarnya urang aring ini adalah obat penumbuh rambut alami yang murah meriah.

Lokal Wisdom yang Perlu Dilestarikan

Sebenarnya, ada tren menarik di industri kecantikan global sekarang: kembali ke alam. Brand-brand besar mulai melirik bahan-bahan tradisional. Jangan kaget kalau suatu saat nanti ada brand dari Paris atau Seoul yang meluncurkan "Black False Daisy Hair Serum" dengan harga selangit. Padahal, itu cuma urang aring yang dikasih kemasan minimalis dan branding mewah.

Kita seringkali baru menghargai sesuatu setelah orang luar mengakuinya. Padahal, urang aring adalah bagian dari kearifan lokal (local wisdom) yang sudah teruji oleh waktu. Bukan berarti kita harus balik pakai minyak yang bikin lepek setiap hari, tapi mungkin kita perlu memberi apresiasi lebih pada tanaman-tanaman ajaib yang tumbuh di sekitar kita.

Mungkin sesekali, saat akhir pekan dan kamu nggak berencana pergi ke mana-mana, cobalah lakukan deep conditioning pakai minyak urang aring. Matikan HP, nikmati baunya yang nostaljik, dan biarkan kulit kepalamu bernapas lega tanpa gangguan bahan kimia keras. Siapa tahu, rambutmu yang sudah rontok dan kusam gara-gara keseringan di-bleaching itu justru nemu jodohnya di tanaman pinggir jalan ini.

Urang aring mungkin bukan lagi bintang utama di meja rias kita. Posisinya sudah digantikan oleh botol-botol kaca estetik yang lebih fotogenik buat masuk konten TikTok. Tapi, buat urusan ketulusan dalam merawat rambut dari akar sampai ujung, si hitam legendaris ini nggak bakal pernah kalah. Ia adalah simbol perawatan penuh kasih sayang dari Ibu atau Nenek, yang mungkin lebih ampuh dari vitamin rambut mana pun di dunia.

Logo Radio
🔴 Radio Live