Ceritra
Ceritra Warga

Selama Ini Kita Salah Sebut? Ternyata "Tisu" Punya Banyak Nama di Luar Negeri

Shannon - Wednesday, 17 June 2026 | 11:00 AM

Background
Selama Ini Kita Salah Sebut? Ternyata "Tisu" Punya Banyak Nama di Luar Negeri
(pngtree/)

Satu Nama untuk Sejuta Fungsi: Kenapa di Indonesia Semuanya Cuma Disebut Tisu?

Bayangkan kamu lagi makan soto ayam di pinggir jalan. Kuahnya kuning kental, uapnya mengepul, dan rasanya juara. Tapi, ada satu pemandangan yang hampir pasti selalu ada di atas meja: sebuah wadah plastik bulat, biasanya warna warni, yang di dalamnya berisi gulungan kertas putih. Kamu menarik ujung kertas itu, menyeka keringat di dahi, lalu menyeka sisa sambal di pinggir bibir, dan terakhir menggunakannya untuk membersihkan tumpahan kuah di meja. Di Indonesia, benda itu cuma punya satu nama: tisu.

Namun, cobalah kamu melakukan hal yang sama di Amerika Serikat atau Inggris. Kalau kamu menyebut gulungan kertas itu sekadar "tissue" dan memakainya untuk mengelap mulut di depan orang lokal, mereka mungkin bakal memandangmu dengan tatapan agak ngeri atau minimal bingung. Kenapa? Karena bagi mereka, benda itu punya kasta, fungsi, dan nama yang sangat spesifik. Ada paper towel, toilet paper, facial tissue, sampai napkin. Sementara kita? Kita adalah penganut aliran pragmatisme garis keras: selama bentuknya putih, tipis, dan bisa menyerap air, ya itu namanya tisu.

Kasta Tisu di Luar Negeri yang Bikin Pusing

Kalau kita main ke supermarket di luar negeri, lorong perlengkapan rumah tangga bisa jadi tempat yang sangat membingungkan. Mereka nggak cuma punya satu jenis rak untuk tisu. Pertama, ada yang namanya toilet paper atau bath tissue. Sesuai namanya, ini khusus buat urusan di kamar mandi. Teksturnya biasanya dirancang agar mudah hancur saat kena air supaya nggak menyumbat pipa pembuangan. Jadi, membayangkan toilet paper ada di atas meja makan adalah sebuah penistaan bagi budaya Barat.

Lalu ada paper towel. Ini adalah tisu yang ukurannya raksasa, tebal, dan kuat banget. Fungsinya buat di dapur, kayak buat ngeringin tangan setelah cuci piring atau menyerap minyak gorengan. Jangan harap bisa ditekuk-tekuk cantik buat ngelap kacamata, karena teksturnya kasar. Ada lagi facial tissue, ini yang paling lembut dan biasanya mengandung aloe vera atau pelembap karena memang didesain buat menyentuh kulit wajah atau buat orang yang lagi pilek. Terakhir, ada napkin atau serbet kertas yang biasanya lebih kaku dan diletakkan di samping piring saat makan formal.

Di Indonesia? Aturan-aturan ini luntur begitu saja. Kita memakai tisu toilet (yang gulungan itu) untuk segala hal. Mulai dari mengeringkan tangan, membungkus gorengan yang berminyak, sampai membersihkan kaca jendela yang berdebu. Kita nggak peduli soal kasta-kastaan itu. Yang penting praktis dan murah.

Kenapa Kita Begitu "Generalis" Soal Tisu?

Pertanyaannya, kenapa sih kita nggak seribet orang luar? Jawabannya mungkin ada pada budaya air kita. Indonesia adalah negara "penganut" cebok pakai air. Bagi mayoritas orang Indonesia, toilet paper itu sebenarnya nggak pernah benar-benar jadi fungsi utama di kamar mandi. Kita punya semprotan air (bidet) atau gayung yang jauh lebih sakti. Karena fungsi utamanya sebagai pembersih kotoran di kamar mandi sudah digantikan oleh air, maka si tisu gulung ini "menganggur" dan akhirnya mencari jati diri di tempat lain.

Karena harganya yang paling murah dibanding jenis tisu lainnya, produsen dan pemilik warung makan melihat celah ini. Tisu gulung yang harusnya ada di toilet malah naik kasta ke meja makan. Ini adalah bentuk efisiensi ekonomi yang luar biasa. Kenapa harus beli tisu wajah yang mahal kalau tisu gulung sepuluh ribu dapet tiga sudah bisa melakukan tugas yang sama? Istilahnya, kalau ada yang murah dan multifungsi, kenapa harus beli yang mahal dan ribet?

Selain itu, bahasa Indonesia memang cenderung menyederhanakan sesuatu yang dianggap tidak terlalu krusial perbedaannya dalam kehidupan sehari-hari. Kita menyebut semua jenis kendaraan roda dua sebagai "motor", entah itu skuter matik, motor bebek, atau motor sport. Begitu juga dengan tisu. Selama fungsinya adalah menyerap cairan dan sekali buang, otak kita otomatis melabelinya sebagai "tisu".

Benturan Budaya yang Kadang Lucu

Fenomena "tisu satu untuk semua" ini sering banget bikin momen-momen kocak kalau kita lagi berinteraksi sama orang luar negeri. Ada cerita dari teman saya yang kuliah di Australia. Dia dengan santainya membawa satu rol tisu dari kamarnya ke ruang tengah buat nonton bareng sambil ngemil. Teman bulenya langsung nanya, "Lho, kamu mau ke kamar mandi ya?". Si teman saya bingung, "Enggak, mau buat lap tangan habis makan keripik." Si bule langsung kaget dan bilang, "Itu kan buat pantat!".

Sebaliknya, orang asing yang pertama kali ke Indonesia pasti bakal kena culture shock pas masuk ke warung tenda atau depot ayam penyet. Mereka bakal melihat benda yang seharusnya eksklusif di toilet, malah nangkring dengan gagahnya di samping sambal terasi. Ini adalah salah satu bukti kalau standar kesopanan dan kegunaan benda itu memang sangat tergantung pada lokasi geografis dan kebiasaan komunal.

Antara Efisiensi dan Gengsi

Meski begitu, perlahan-lahan pola konsumsi tisu di Indonesia juga mulai berubah, terutama di kota-kota besar. Di mall-mall mewah atau restoran fine dining, kamu nggak akan lagi nemu tisu gulung di atas meja. Mereka sudah mulai memisahkan mana tisu wajah, mana tisu makan, dan mana tisu toilet. Strategi pemasaran dari brand-brand besar juga mulai masuk, mengedukasi masyarakat kalau pakai tisu toilet buat wajah itu nggak bagus karena partikelnya kasar dan bisa bikin iritasi.

Tapi jujur saja, sekeras apapun edukasi itu masuk, budaya "tisu serbaguna" kayaknya bakal susah hilang dari DNA kita. Ada rasa puas tersendiri saat kita bisa membersihkan semuanya hanya dengan satu jenis benda. Lagipula, di tengah ekonomi yang lagi naik turun begini, memikirkan apakah tisu ini "layak" untuk mulut atau cuma untuk meja adalah sebuah kemewahan yang nggak semua orang mau ambil pusing.

Jadi, kalau nanti kamu lagi makan di warung dan melihat tisu gulung itu, jangan merasa bersalah. Gunakan saja sesukamu. Karena di Indonesia, tisu bukan sekadar kertas pembersih, dia adalah simbol adaptasi budaya yang luar biasa fleksibel. Kita nggak butuh empat jenis nama kalau satu kata "tisu" sudah bisa menyelesaikan semua urusan hidup di meja makan. Setuju?

Logo Radio
🔴 Radio Live