Jangan Salah Sangka! Remaja Senyum Depan HP Gak Selalu Lagi PDKT
cintami - Wednesday, 12 August 2026 | 03:10 PM
Lebih Suka Baca AU daripada Pacaran: Fenomena Generasi yang Hobi Halu Tapi Takut Komitmen
Coba deh, sesekali kamu intip layar HP teman tongkronganmu yang lagi asyik sendiri. Kalau bukan lagi scrolling TikTok, kemungkinan besar mereka lagi tenggelam dalam utas panjang di Twitter—eh, maksudnya X—yang isinya cerita Alternative Universe (AU). Atau mungkin, mereka lagi marathon drama Korea sampai matanya berkantung tebal, sambil senyum-senyum sendiri menatap layar. Fenomena ini unik: banyak anak muda zaman sekarang yang baper (bawa perasaan) maksimal sama karakter fiksi, tapi kalau diajak janjian kencan beneran sama manusia nyata, alasannya seribu satu. Mulai dari mager, nggak ada outfit, sampai alasan klasik: lagi pengen sendiri dulu.
Selamat datang di era di mana "halu" adalah jalan ninja menuju kebahagiaan. Memang terdengar agak ironis. Kita hidup di zaman yang aplikasi kencannya bertebaran, dari yang geser kanan-kiri sampai yang pakai algoritma hobi, tapi tingkat kesepian justru makin tinggi. Namun, bagi sebagian besar remaja dan dewasa muda, jatuh cinta pada karakter fiksi atau sekadar mengonsumsi cerita romansa jauh lebih menarik dan "aman" daripada harus terjun langsung ke medan perang asmara yang penuh dengan ketidakpastian.
Kenapa Fiksi Lebih Menarik daripada Realita?
Mari kita jujur-jujuran. Karakter di novel atau drama itu didesain untuk jadi sempurna, atau setidaknya, cacat mereka itu "aesthetic". Ada cowok cuek tapi ternyata perhatiannya luar biasa, atau CEO muda yang hanya luluh sama satu perempuan. Di dunia nyata? Yang ada adalah cowok yang balas chat-nya tiga jam sekali dengan alasan ketiduran, atau gebetan yang hobinya tiba-tiba menghilang alias ghosting tanpa kabar berita. Perbandingannya terlalu jauh, kawan.
Membaca cerita romansa memberikan dopamin instan tanpa risiko patah hati yang berdarah-darah. Kalau ceritanya sedih, kita tinggal tutup bukunya atau ganti judul lain. Kita punya kendali penuh. Beda ceritanya kalau kita pacaran beneran. Ada ego yang harus dijaga, ada jadwal yang harus disesuaikan, dan yang paling horor: ada risiko ditolak atau diselingkuhi. Bagi generasi yang sudah cukup pusing dengan tekanan tugas kuliah, kerjaan yang nggak habis-habis, dan krisis eksistensial, menambah beban pikiran dengan drama percintaan nyata rasanya seperti mencari penyakit secara sukarela.
Standar Tinggi Gara-Gara "Green Flag" Fiksi
Istilah "Green Flag" sekarang jadi standar emas dalam mencari pasangan. Masalahnya, standar ini sering kali dipatok dari karakter fiksi yang standar moralnya setinggi langit. Kita pengen pasangan yang peka tanpa harus dikasih tahu, yang selalu ada 24 jam, dan yang kalau ngomong kayak pujangga. Padahal, manusia nyata itu tempatnya salah dan lupa. Manusia nyata itu bisa keringatan, bisa bau matahari, dan bisa emosian kalau lagi lapar.
Ketertarikan berlebih pada cerita romansa ini akhirnya menciptakan semacam "bubble" atau gelembung pelindung. Remaja sekarang sering merasa bahwa hubungan di dunia nyata itu terlalu ribet atau "low effort" dibanding apa yang mereka baca. "Kenapa gue harus capek-capek dandan dan keluar uang buat kencan yang belum tentu asyik, kalau gue bisa rebahan sambil baca cerita tentang cowok yang rela ngelakuin apa aja demi pasangannya?" Pikiran seperti ini sering kali terlintas, bukan?
Aspek Finansial dan Energi yang Terkuras
Jangan lupakan faktor ekonomi. Pacaran itu mahal, bestie! Bayangkan, sekali jalan minimal keluar uang buat bensin atau ojol, makan, nonton, atau sekadar kopi susu kekinian. Buat remaja yang uang jajannya masih pas-pasan atau budak korporat yang gajinya cuma mampir lewat, pengeluaran buat kencan itu investasi yang berisiko tinggi. Sementara itu, langganan aplikasi streaming atau baca cerita di platform gratisan jauh lebih ramah di kantong.
Selain itu, ada masalah "social energy". Hidup di era media sosial membuat kita terus-menerus terhubung secara digital, yang lucunya, malah bikin energi sosial kita cepat habis (social battery low). Saat sampai di rumah, rasanya lebih nikmat mengonsumsi cerita cinta orang lain sambil pakai daster atau celana kolor, daripada harus pasang muka manis dan ngobrol basa-basi sama orang baru di kafe yang berisik.
Lari dari Trauma dan Rasa Takut
Nggak bisa dipungkiri, paparan terhadap berita perselingkuhan yang viral setiap hari atau melihat hubungan toxic di lingkungan sekitar bikin banyak remaja jadi skeptis. Cerita romansa jadi pelarian (escapism) yang paling nyaman. Di dalam cerita, konflik biasanya selesai dengan happy ending. Di dunia nyata, konflik seringkali berakhir di pengadilan agama atau sekadar blok-blokan di Instagram.
Ada semacam ketakutan akan kerentanan (vulnerability). Menjalin hubungan berarti membiarkan orang lain melihat sisi terburuk kita. Bagi generasi yang terbiasa menampilkan sisi terbaik di feed Instagram, menjadi "telanjang" secara emosional di depan orang lain itu menakutkan. Lebih mudah mencintai bayangan daripada menghadapi kenyataan bahwa diri kita—dan pasangan kita—adalah manusia biasa yang penuh kekurangan.
Jadi, Apakah Ini Salah?
Sebenarnya nggak ada yang salah dengan hobi baca cerita romansa. Itu hobi yang valid dan seru. Masalah baru muncul kalau kita mulai menutup diri sepenuhnya dari interaksi manusia hanya karena menunggu sosok yang "setampan karakter manhwa" atau "sebaik karakter AU". Dunia nyata memang nggak seindah filter Instagram atau deskripsi penulis novel, tapi dunia nyata punya satu hal yang nggak dimiliki fiksi: sentuhan fisik dan kehadiran yang nyata.
Mungkin kita memang butuh keseimbangan. Boleh banget halu maksimal sama bias atau karakter fiksi buat hiburan setelah hari yang berat. Tapi jangan lupa, sesekali keluar dari zona nyaman itu perlu. Siapa tahu, di antara keribetan dan ketidaksempurnaan hubungan manusia, ada cerita romansa versi kamu sendiri yang—meskipun nggak seindah di Wattpad—tetap layak untuk dijalani. Toh, pada akhirnya, rasa sakit karena patah hati itu tetap lebih "hidup" daripada rasa kosong karena cuma jadi penonton kebahagiaan orang lain, kan?
Jadi, habis baca artikel ini, kamu mau lanjut baca bab selanjutnya di ponselmu, atau coba balas chat si dia yang sudah "P" dari tadi pagi? Pilihannya ada di tanganmu, tapi jangan kelamaan mikir, nanti keburu diambil orang, eh, maksudnya keburu ceritanya tamat!
Next News

Cara Musik Indie Bikin Kamu Serasa Jadi Pemeran Utama Film
in 6 hours

Bahaya Grooming Saat Si Ceria Berubah Menjadi Sangat Pendiam
in 5 hours

Kenapa Fokus Kita Sekarang Lebih Pendek dari Ekor Kelinci?
in 5 hours

Budaya Kekerasan Remaja yang Terus Berulang di Berbagai Kota Indonesia
in an hour

Looksmaxxing Masuk Indonesia: Antara Budaya Kecantikan Lokal dan Standar Global
in an hour

Dukcapil Sebut Aquarius Paling Langka di Indonesia, Jumlahnya Cuma 20 Juta Orang
15 hours ago

Bukan Disney, Inilah Lagu Mocca yang Viral di Sekolah Luar Negeri
18 hours ago

Bukan Sekadar Tren, Ini Alasan Anak Muda Hobi Kerja di Kafe
16 hours ago

Target 5.000, Tercapai 10.000 dalam 7 Jam, Kisah Viral di Balik Gerakan Wenanam Jerhemy Owen
21 hours ago

Kenapa Lagu-lagu Galau Selalu Laris Manis? Psikologi di Balik Musik Patah Hati
a day ago






