Ceritra
Ceritra Warga

Rahasia di Balik Label New Arrival yang Ternyata Baju Jadul

cintami - Thursday, 13 August 2026 | 03:10 PM

Background
Rahasia di Balik Label New Arrival yang Ternyata Baju Jadul
Trend Baju Jadul (Vitkac/)

Kenapa Fashion Sekarang Kayak Dejavu? Rahasia di Balik Tren yang Terus Muter

Pernah nggak sih, pas kamu lagi bongkar-bongkar lemari tua punya Ibu atau Ayah, terus nemu celana cutbray atau kemeja flanel yang warnanya udah agak pudar, tapi pas dicoba kok malah kelihatan keren banget? Terus pas kamu buka TikTok atau mampir ke mall, eh, model baju yang persis kayak gitu malah dipajang di manekin paling depan dengan label "New Arrival".

Rasanya kayak ada yang aneh, kan? Seolah-olah dunia fashion itu lagi ngalamin glitch in the matrix atau emang para desainer kelas dunia lagi kehabisan ide. Fenomena ini bikin kita bertanya-tanya: kenapa sih tren outfit itu hobi banget muter-muter kayak komidi putar? Kenapa apa yang dulu dianggap norak sama kakak kita, sekarang malah jadi barang rebutan para skena indie di Senayan?

Teori Siklus 20 Tahunan: Waktunya Nostalgia Beraksi

Dalam dunia mode, ada istilah yang namanya "The 20-Year Rule". Teori ini bilang kalau tren fashion itu bakal balik lagi setiap dua puluh tahun sekali. Kenapa dua puluh tahun? Sederhana aja, itu adalah waktu yang cukup buat satu generasi untuk tumbuh dewasa dan mulai kangen sama masa kecil atau masa mudanya.

Bayangin desainer-desainer kondang yang sekarang duduk di kursi kreatif brand besar. Mereka adalah orang-orang yang masa remajanya mungkin dihabiskan dengan dengerin lagu-lagu grunge atau nonton film-film ikonik tahun 90-an. Secara nggak sadar, memori estetika itu nempel di kepala mereka. Pas mereka punya power buat bikin karya, mereka bakal menuangkan rasa nostalgia itu ke dalam koleksi terbarunya. Hasilnya? Tren Y2K yang sekarang lagi meledak di mana-mana, dari celana low-rise yang bikin pinggang pegel sampai aksesoris serba blink-blink ala Britney Spears.

Bukan Sekadar Baju, Tapi Soal Identitas

Anak muda zaman sekarang—kita-kita ini lah ya—sering ngerasa kalau dunia modern itu terlalu "bersih", terlalu digital, dan kadang terasa hampa. Di tengah gempuran teknologi yang serba canggih, ada semacam kerinduan buat balik ke sesuatu yang terasa "nyata" dan punya sejarah. Itulah kenapa barang-barang vintage atau gaya retro punya daya tarik tersendiri.

Pake baju lungsuran bokap bukan cuma soal hemat budget, tapi ada kebanggaan tersendiri pas ditanya temen, "Eh, beli di mana?" terus kita jawab dengan santai, "Oh, ini vintage punya bokap dari tahun '88." Rasanya kayak kita punya story yang nggak bisa dibeli di toko retail biasa. Tren yang mengulang ini adalah cara kita buat terkoneksi sama masa lalu yang mungkin kita nggak sempet ngerasain secara langsung, tapi pengen kita klaim lewat gaya berpakaian.

Faktor Thrifting dan Sadar Lingkungan

Dulu, belanja baju bekas mungkin dianggap sebagai pilihan terakhir buat yang budget-nya mepet banget. Tapi sekarang? Thrifting is a lifestyle, guys! Anak-anak skena kalau belum nemu harta karun di Pasar Baru atau Gedebage kayaknya belum afdol. Pergeseran mindset ini jadi bensin yang ngebakar tren lama buat muncul lagi ke permukaan.

Selain karena pengen kelihatan beda, kesadaran soal sustainable fashion juga makin tinggi. Kita makin sadar kalau industri fast fashion itu salah satu penyumbang limbah terbesar. Daripada beli baju baru yang kualitasnya sekali cuci langsung melar, mending cari baju dari tahun 90-an yang kainnya tebel banget dan tahan banting. Karena makin banyak orang yang thrifting, otomatis gaya-gaya dari dekade sebelumnya jadi sering sliweran di jalanan lagi. Hukum pasar pun berlaku: makin banyak yang pakai, brand besar makin semangat buat memproduksi ulang gaya tersebut.

Algoritma Media Sosial yang "Ngeracun"

Kita nggak bisa cuek sama peran media sosial kayak Instagram dan TikTok. Di sana, tren itu geraknya cepet banget kayak kilat, tapi anehnya yang naik ya itu-itu lagi. Algoritma media sosial itu pinter banget. Begitu ada satu influencer pake jaket varsity, besoknya FYP kita bakal penuh sama konten serupa. Hal ini bikin tren yang sebenernya udah lama terkubur, tiba-tiba "bangkit dari kubur" dan viral cuma dalam semalam.

Apalagi sekarang ada istilah-istilah estetika yang makin spesifik. Ada old money aesthetic yang sebenernya cuma gaya orang kaya tahun 80-an, ada coquette yang nuansanya vintage banget, sampai blokecore yang sebenernya cuma gaya bapak-bapak Inggris mau nonton bola. Semua label ini bikin gaya lama jadi kerasa "baru" dan fresh buat anak muda yang baru pertama kali liat.

Kesimpulannya: Jangan Buang Baju Lama Kamu!

Tren fashion yang berulang itu sebenernya bukti kalau kreativitas manusia itu ada batasnya, tapi adaptasinya nggak terbatas. Kita selalu ngambil elemen keren dari masa lalu, terus dipoles dikit biar nyambung sama kebutuhan zaman sekarang. Ini bukan hal buruk kok. Justru ini nunjukin kalau estetika yang bagus itu bakal selalu abadi, nggak peduli berapa dekade udah lewat.

Jadi, saran saya sih satu: kalau kamu punya baju yang menurut kamu udah nggak tren, jangan buru-buru dibuang atau dikasih ke orang lain (kecuali emang udah nggak muat ya). Simpen aja baik-baik di pojokan lemari. Karena percaya deh, sepuluh atau dua puluh tahun lagi, anak atau keponakan kamu bakal dateng ke kamu sambil bilang, "Gila, baju ini keren banget, boleh aku pake nggak?"

Pada akhirnya, fashion itu kayak roda yang terus berputar. Kadang kita di atas jadi trendsetter, kadang kita di bawah cuma bisa ngikutin. Tapi yang paling penting, pakailah apa yang bikin kamu nyaman dan percaya diri. Mau itu gaya tahun 70-an yang nyentrik atau gaya minimalis masa kini, selama kamu pede, kamu nggak akan pernah ketinggalan zaman. Karena pada dasarnya, style is temporary, but class is permanent. Goks nggak tuh?

Logo Radio
🔴 Radio Live