Ceritra
Ceritra Olahraga

Mengupas Beban Berat di Pundak Mohamed Salah untuk Mesir

Shannon - Monday, 22 June 2026 | 02:05 PM

Background
Mengupas Beban Berat di Pundak Mohamed Salah untuk Mesir
Mo Salah (Getty Image/)

Mo Salah, Kutukan Piala Dunia, dan Malam Bersejarah yang Bikin Merinding

Kalau kita bicara soal Mohamed Salah, imajinasi kita pasti langsung terbang ke Anfield. Kita membayangkan dia lari zig-zag ngelewatin bek lawan, lalu nendang bola melengkung ke pojok gawang yang bikin kiper cuma bisa bengong. Tapi jujur aja, buat urusan Tim Nasional Mesir, ceritanya seringkali nggak seindah itu. Ada semacam beban berat yang nemplok di pundak pemain berjuluk The Egyptian King ini setiap kali dia pakai jersey merah kebanggaan negaranya di panggung dunia.

Tapi, malam itu di edisi Piala Dunia kali ini, narasinya berubah total. Kutukan itu resmi pecah. Mesir akhirnya mencatatkan kemenangan perdana mereka sepanjang sejarah partisipasi di Piala Dunia setelah mengandaskan perlawanan Selandia Baru dengan skor meyakinkan 3-1. Dan tebak siapa sutradaranya? Siapa lagi kalau bukan pria berambut ikal bernomor punggung 10 itu.

Sempat Bikin Jantungan di Awal Laga

Pertandingan lawan Selandia Baru awalnya nggak berjalan sesuai rencana. Penonton di stadion dan mungkin jutaan orang di Kairo yang nonton bareng di kafe-kafe sambil ngopi—sempat dibuat jantungan. Selandia Baru, yang statusnya bukan tim unggulan, malah curi gol duluan. Shock therapy banget, sih. Bayangin aja, ekspektasi lagi tinggi-tingginya, eh malah kebobolan duluan.

Salah sendiri awalnya kelihatan agak "dingin". Penampilannya di babak pertama mirip-mirip waktu laga pembuka lawan Belgia; kurang greget, sering kehilangan bola, dan kayak terisolasi sendirian di depan. Kita sempat mikir, "Waduh, apa mimpi buruk 2018 bakal terulang lagi?". Ingat kan, waktu di Rusia dulu, Salah main sambil nahan sakit bahu dan Mesir pulang tanpa poin? Terus empat tahun kemudian di Qatar, mereka malah nggak lolos sama sekali. Nyeseknya tuh double-double.

Tapi pemain kelas dunia emang beda. Mereka punya tombol "on" yang bisa dipencet di saat-saat krusial. Memasuki babak kedua, aura Salah berubah. Dia nggak cuma sekadar lari, tapi dia bener-bener mendikte permainan. Di umur yang udah nyentuh 34 tahun, dia membuktikan kalau kelas itu permanen, sedangkan performa yang naik-turun itu cuma bumbu musiman.

Momen Magis Menit ke-67

Gebrakan itu datang di menit ke-67. Lewat skema serangan yang rapi, Salah berhasil nyelipin bola ke gawang lawan. Gol! Stadion pecah. Itu bukan cuma sekadar gol penyeimbang atau penambah skor, tapi itu adalah gol yang ngeruntuhin tembok mental yang selama ini ngehambat Mesir di Piala Dunia. Setelah gol itu, Mesir mainnya jadi lebih cair, nggak ada lagi beban berat yang bikin kaki mereka kaku.

Nggak cukup sampai di situ, Salah pamer visi bermainnya. Lewat tendangan sudut yang presisinya kayak pake GPS, dia ngirim umpan matang yang langsung disundul Trezeguet. Boom! Gol ketiga tercipta dan kemenangan 3-1 pun terkunci rapat. Di momen itu, kita semua sadar kalau Salah akhirnya bergabung dengan jajaran superstar kayak Lionel Messi, Kylian Mbappe, Erling Haaland, dan Harry Kane yang emang udah ditakdirkan buat bikin panggung Piala Dunia kali ini jadi milik mereka.

Bukan Sekadar Menang, Tapi Soal Warisan

Kemenangan ini emang bersejarah banget. Mesir butuh sembilan kali percobaan buat bisa ngerasain gimana rasanya menang di kompetisi paling bergengsi sejagat raya ini. Buat Salah pribadi, ini adalah pembuktian kalau dia bukan cuma hebat di level klub. Dia pengen ninggalin warisan buat anak cucu di Mesir kalau "Si Raja" pernah membawa negaranya terbang tinggi.

Salah sendiri nggak mau jemawa. Pas diwawancara setelah pertandingan, dia kelihatan emosional tapi tetep humble. Dia bilang kalau ini adalah pencapaian buat semua pemain dan vibe di ruang ganti lagi asik-asiknya. Tapi, dia juga ngingetin kalau tugas belum selesai. "Pertandingan berikutnya sangat penting," katanya dengan tatapan yang fokus banget.

Sekarang, skenarionya simpel tapi tetep bikin deg-degan. Mesir cuma butuh satu poin aja pas lawan Iran buat mastiin diri lolos ke babak 32 besar. Malah, kalau hasil pertandingan lain berpihak ke mereka, Mesir bisa lolos tanpa harus keluar keringat lebih. Tapi ya namanya bola, apapun bisa terjadi. Cuma kalau ngelihat gimana Salah main kemarin, rasanya fans The Pharaohs bisa tidur agak nyenyak sekarang.

Opini Receh: Apa Mesir Bisa Jadi Kuda Hitam?

Jujur aja, kalau Mesir mainnya konsisten kayak babak kedua lawan Selandia Baru, mereka bisa jadi tim yang nyebelin buat lawan-lawan besar. Tim-tim dari Afrika itu kalau udah dapet momentum dan kepercayaan diri, biasanya mainnya jadi "nggak masuk akal" semangatnya. Ditambah lagi faktor Salah yang kayaknya lagi pengen banget nutup karier internasionalnya dengan sesuatu yang monumental.

Kita sering denger orang bilang kalau Piala Dunia tanpa pemain bintang itu hambar. Nah, bayangin betapa hambarnya kalau pemain selevel Salah harus pulang gasik (awal) lagi. Untungnya, takdir berkata lain. Si King akhirnya bener-bener bertahta. Mari kita nikmati sisa perjalanan Salah di turnamen ini, karena pemain dengan bakat dan karisma kayak dia nggak bakal lahir tiap sepuluh tahun sekali.

Selamat buat Mesir, selamat buat Salah. Kutukan sudah berakhir, dan sekarang waktunya buat bikin sejarah yang lebih gila lagi. Kita tunggu aksi mereka lawan Iran nanti. Apakah Salah bakal kembali naruh sihirnya di lapangan hijau? Mari kita siapkan kopi dan cemilan, karena perjalanan ini baru saja dimulai!

Logo Radio
🔴 Radio Live