Ceritra
Ceritra Olahraga

Berkah Turnamen Sepak Bola bagi Para Pejuang Ekonomi Kecil

Fildzah - Tuesday, 11 August 2026 | 12:00 AM

Background
Berkah Turnamen Sepak Bola bagi Para Pejuang Ekonomi Kecil
Kemenangan Persebaya meraih juara piala presiden (persebaya.id/persebaya.id)

Bukan Cuma Soal Gol, Turnamen Bal-Balan Kali Ini Adalah Pesta Pora Cuan UMKM Surabaya

Kalau kita bicara soal turnamen sepak bola, biasanya yang langsung nyangkut di kepala adalah siapa yang cetak gol salto, siapa kiper yang tangannya kayak punya magnet, atau tim mana yang akhirnya angkat trofi di podium. Tapi, mari kita sejenak geser pandangan dari rumput hijau ke arah kepulan asap soto dan deretan gantungan kaos di pinggir stadion. Di balik keriuhan suporter yang suaranya sampai bikin telinga berdenging, ada pahlawan lain yang senyumnya nggak kalah lebar dari sang juara: para pedagang kecil.

Turnamen kali ini bukan cuma soal adu taktik di lapangan, tapi juga soal perputaran nasib di dompet para pelaku UMKM. Bayangkan saja, total perputaran ekonomi dari sektor UMKM selama gelaran ini menembus angka Rp1,5 miliar. Angka ini melonjak tajam sekitar 27 persen dibanding edisi sebelumnya. Ada sekitar 165 UMKM yang dilibatkan di tiga kota besar: Bandung, Surabaya, dan Bali. Namun, kalau mau bicara soal militansi dan kegigihan "ngais rezeki", Surabaya punya cerita yang luar biasa unik.

Cak Hari dan Kuah Soto yang Tak Pernah Dingin

Di sekitaran area fan zone di Surabaya, kita bakal ketemu sama sosok seperti Cak Hari. Beliau adalah salah satu dari sekian banyak pedagang soto ayam yang ketiban durian runtuh. Biasanya, dalam sehari Cak Hari cuma habis sekitar 40 sampai 50 porsi. Itu pun sudah harus keliling kampung sampai betis pegal. Tapi selama turnamen? Jangan ditanya. Belum juga matahari tegak lurus, 150 porsi sudah ludes berpindah ke perut para suporter yang lapar setelah teriak-teriak mendukung tim kebanggaan.

"Waduh Mas, ini mah bukan lagi jualan, tapi kayak lagi balapan. Tangan saya sampai gemetar saking cepatnya nuang kuah," seloroh Cak Hari sambil terkekeh. Bagi orang seperti Cak Hari, turnamen sepak bola adalah berkah yang nyata. Omzetnya melonjak drastis. Kalau biasanya dia cuma bisa bawa pulang uang buat makan harian, sekarang dia bisa nabung buat bayar kontrakan atau sekadar membelikan sepatu baru buat anaknya. Inilah sisi kemanusiaan dari sebuah industri olahraga yang seringkali hanya kita lihat dari sisi glamornya saja.

Kaos dan Aksesoris: Menjual Kebanggaan dalam Bentuk Kain

Beralih sedikit dari urusan perut, ada Mbak Yuli yang lapaknya penuh sesak dengan jersey, syal, dan aksesoris serba bola. Di Surabaya, sepak bola itu sudah kayak agama kedua. Orang rela nggak makan demi beli tiket, dan mereka merasa ada yang kurang kalau masuk stadion nggak pakai atribut. Fenomena inilah yang ditangkap Mbak Yuli. Selama turnamen, dagangannya laku keras. Kaos-kaos suporter dengan desain lokal yang harganya ramah di kantong menjadi primadona.

Mbak Yuli bercerita bahwa kenaikan omzetnya mencapai tiga kali lipat dari hari biasa. "Suporter itu kalau sudah senang, nggak bakal perhitungan. Yang penting ada logo tim di dada, bungkus!" ujarnya. Menariknya, Mbak Yuli nggak cuma jualan barang jadi, dia juga memberdayakan penjahit tetangga di kampungnya untuk mengejar stok. Jadi, efek dominonya berasa banget sampai ke gang-gang sempit di Surabaya. Inilah yang kita sebut dengan ekonomi kerakyatan yang sebenarnya; dari rakyat, oleh rakyat, dan cuannya balik lagi ke rakyat.

Angka 27 Persen yang Bukan Sekadar Statistik

Melihat pertumbuhan 27 persen dalam perputaran ekonomi UMKM mungkin bagi pengamat ekonomi cuma deretan angka di atas kertas. Tapi bagi 165 UMKM yang terlibat di Bandung, Surabaya, dan Bali, angka itu adalah napas lega. Melibatkan UMKM dalam event olahraga skala besar adalah langkah yang sangat cerdas. Alih-alih membiarkan franchise besar menguasai lahan, memberi ruang bagi pedagang lokal justru menciptakan atmosfer yang lebih otentik dan hangat.

Surabaya, dengan segala karakter Bonek-nya yang militan, memang menjadi magnet ekonomi yang luar biasa. Di Bali dan Bandung pun polanya hampir sama, tapi Surabaya punya "rasa" yang beda. Ada semacam simbiosis mutualisme antara suporter dan pedagang. Suporter butuh makan dan atribut, pedagang butuh pembeli. Semuanya senang, semuanya kenyang.

Opini: Mengapa Ini Penting?

Jujur saja, kita seringkali terlalu fokus pada hal-hal besar seperti infrastruktur stadion atau biaya hak siar yang triliunan. Kita lupa bahwa tulang punggung ekonomi kita sebenarnya ada di tangan bapak-bapak penjual soto dan ibu-ibu penjual kaos ini. Turnamen seperti ini membuktikan bahwa sepak bola punya kekuatan magis untuk menggerakkan roda ekonomi bawah tanpa perlu birokrasi yang ribet. Cukup kasih mereka lapak, kasih akses yang mudah bagi pembeli, maka ekonomi bakal jalan sendiri.

Harapannya, model pelibatan UMKM seperti ini nggak cuma dilakukan saat ada turnamen besar saja. Event-event olahraga lokal atau liga reguler juga harusnya bisa dikelola dengan semangat yang sama. Jangan sampai pedagang kecil cuma jadi penonton di pinggir jalan sementara di dalam stadion uang berputar di lingkaran itu-itu saja.

Penutup: Kemenangan Sejati di Luar Lapangan

Pada akhirnya, ketika wasit meniup peluit panjang dan lampu stadion perlahan padam, kemenangan sejati bukan cuma milik tim yang angkat piala. Kemenangan itu juga milik Cak Hari yang pulang dengan termos kosong dan kantong penuh, serta Mbak Yuli yang stok bajunya habis tak bersisa. Ekonomi UMKM yang berdenyut di balik gemuruh suporter adalah bukti bahwa sepak bola adalah milik semua orang, termasuk mereka yang mencari sesuap nasi di balik gerbang stadion.

Jadi, lain kali kalau kalian ke stadion, jangan lupa jajan di pedagang kecil. Karena satu mangkok soto atau satu buah syal yang kalian beli, mungkin adalah alasan bagi seorang anak pedagang kecil untuk bisa terus sekolah. Dan itulah gol paling indah yang pernah tercipta dalam sejarah sepak bola kita.

Logo Radio
🔴 Radio Live