Ceritra
Ceritra Olahraga

Olahraga & Teknologi: Ketika Fitness Tracker Mengubah Cara Warga Surabaya Berolahraga

Fildzah - Tuesday, 01 September 2026 | 12:00 PM

Background
Olahraga & Teknologi: Ketika Fitness Tracker Mengubah Cara Warga Surabaya Berolahraga
Fitness tracker (magnific.com/magnific.com)

Olahraga dan Validasi: Ketika Fitness Tracker Mengubah Cara Arek-Arek Suroboyo Berkeringat

Coba deh, sekali-sekali luangkan waktu buat nongkrong di pinggiran Taman Bungkul atau sepanjang Jalan Darmo pas hari Minggu pagi. Di tengah kepulan uap dari gerobak bubur ayam dan aroma sate kelapa yang menggoda, ada pemandangan yang kontras: ribuan orang dengan setelan jersey ketat, sepatu lari seharga cicilan motor, dan yang paling mencolok adalah sebuah benda kecil melingkar di pergelangan tangan mereka. Jam tangan pintar atau fitness tracker kini bukan lagi sekadar aksesori penanda waktu, melainkan "kitab suci" yang menentukan apakah olahraga pagi itu sah atau tidak.

Dulu, olahraga itu urusan sunyi. Kita lari ya lari saja, paling banter keringat bercucuran dan napas ngos-ngosan jadi tandanya. Tapi sekarang? Olahraga telah bertransformasi menjadi sebuah paket data yang siap dikonsumsi. Begitu tombol "Stop" ditekan di layar Garmin atau Apple Watch, saat itulah ritual sesungguhnya dimulai: sinkronisasi data ke Strava, cek pace rata-rata, lalu membagikannya ke media sosial lengkap dengan caption yang sedikit rendah hati tapi sebenarnya sedang pamer pencapaian. Di Surabaya, fenomena ini meledak. Olahraga bukan lagi sekadar gerak badan demi jantung sehat, tapi sudah jadi konten dan mata uang sosial yang sangat berharga.

Dari Alat Ukur Menjadi Arena Adu Gengsi

Awalnya, benda-benda ini diciptakan untuk alasan yang sangat fungsional. Menghitung langkah, memantau detak jantung, atau sekadar tahu berapa kalori yang terbakar setelah sepiring rawon yang kita makan semalam. Namun, seiring berjalannya waktu, teknologi wearable ini berevolusi menjadi platform sosial yang sangat adiktif. Munculnya aplikasi seperti Strava telah mengubah jalanan di Surabaya—mulai dari kawasan Citraland yang menanjak sampai aspal mulus di Frontage Ahmad Yani—menjadi lintasan balap virtual.

Sekarang, orang tidak lagi lari sendirian meski secara fisik mereka hanya satu orang di atas aspal. Di balik layar, mereka sedang berkompetisi di "leaderboard" mingguan. Ada rasa puas yang sulit dijelaskan saat kita melihat nama kita merayap naik di peringkat komunitas lari atau sepeda. Mendapatkan "Kudos" (jempol virtual di Strava) dari teman atau bahkan orang asing di belahan bumi lain bisa memberikan dopamin yang lebih instan ketimbang rasa segar setelah mandi. Efeknya? Olahraga jadi lebih terukur, ya. Tapi di sisi lain, ia jadi jauh lebih kompetitif. Kita nggak lagi bersaing dengan lemak di perut sendiri, tapi bersaing dengan kecepatan lari tetangga sebelah yang mungkin sebenarnya atlet semiprofessional.

Sisi Lain: Antara Motivasi atau Malah Jadi Tekanan?

Tak bisa dimungkiri, kehadiran teknologi ini memang manjur buat memicu motivasi. Buat kaum rebahan yang butuh dorongan ekstra, melihat progres angka di layar bisa jadi alasan buat bangun jam 5 pagi saat udara Surabaya lagi "anget-angetnya". Badge pencapaian, tantangan 100 kilometer sebulan, sampai visualisasi rute lari yang membentuk gambar lucu di peta (GPS art) adalah pemacu semangat yang nyata. Namun, di balik itu semua, ada sudut gelap yang mulai mengintai: tekanan untuk selalu tampil aktif dan sempurna.

Muncul sebuah adagium di kalangan pelari dan pesepeda masa kini: "If it's not on Strava, it didn't happen." Kalau nggak terekam, berarti nggak olahraga. Ini bisa jadi racun psikologis. Banyak orang mulai merasa cemas kalau lupa mengecas jam tangannya, atau merasa "sayang" buat olahraga kalau alat pelacaknya ketinggalan. Fokusnya bergeser; bukan lagi tentang bagaimana paru-paru kita bekerja lebih efisien, tapi tentang bagaimana statistik kita terlihat di mata orang lain. Kita terjebak dalam gaya hidup sehat yang performatif. Kadang, ada orang yang memaksakan diri lari saat cedera hanya karena takut grafik mingguannya turun atau takut kehilangan validasi berupa like dan komentar di media sosial.

Secara psikologis, ini adalah fenomena performative wellness. Teknologi yang harusnya membantu kita konsisten, perlahan malah memicu burnout atau kecemasan performa. Kita jadi gampang membandingkan diri. "Kok dia pace-nya bisa 5 menit per kilometer, sementara aku 8 menit aja udah mau pingsan?" Perbandingan-perbandingan kecil inilah yang pelan-pelan mengikis kegembiraan murni dari berolahraga itu sendiri.

Kembali ke Esensi: Sehat Itu untuk Siapa?

Pada akhirnya, teknologi adalah alat, bukan tuan. Memakai fitness tracker tercanggih sekalipun tidak akan membuat kita otomatis sehat kalau esensinya hilang. Memang menyenangkan melihat angka-angka itu berkembang, melihat rute lari kita berkelok-kelok di peta digital Surabaya yang padat. Tapi, kita perlu sesekali menarik napas panjang dan melepaskan ketergantungan pada layar mungil itu.

Teknologi wearable memang sudah mengubah olahraga dari aktivitas privat menjadi pengalaman sosial yang masif dan terukur. Itu adalah kemajuan yang patut dirayakan. Namun, keseimbangan tetaplah kunci. Kita perlu belajar untuk tetap merasa puas meskipun lari pagi kita tidak mendapatkan satu pun "Kudos", atau meskipun rute jalan santai kita tidak diunggah ke Instagram Story.

Jadi, sebelum kamu menekan tombol "Start" di pergelangan tanganmu besok pagi di CFD Darmo, coba tanyakan pada dirimu sendiri: Apakah aku berkeringat hari ini demi kebugaran jantungku, atau hanya demi angka yang akan muncul di layar? Karena sejatinya, kesehatan yang paling hakiki adalah saat pikiranmu tenang, tubuhmu bugar, dan kamu tidak merasa perlu membuktikan apa pun kepada algoritma internet.

Logo Radio
🔴 Radio Live