Bukan Sekadar Hobi, Kini Naik Gunung Jadi Gaya Hidup Estetik
Zaza - Tuesday, 11 August 2026 | 11:50 AM


Dari Mall ke Puncak: Kenapa Mendaki Jadi Ritual Healing Lintas Generasi?
Beberapa tahun lalu, kalau ada orang bilang mau naik gunung, bayangan kita pasti sosok aktivis kampus berambut gondrong, pakai celana kargo banyak saku yang baunya sudah seperti keringat tahun lalu, dan tas carrier segede kulkas dua pintu. Tapi coba lihat sekarang. Di basecamp pendakian, pemandangannya sudah beda total. Ada anak Gen Z yang sibuk setting tripod buat konten TikTok, ada bapak-bapak usia 50-an dengan perlengkapan ultralight yang harganya bikin dompet kering, sampai rombongan kantoran yang sengaja ambil cuti demi merasakan apa yang mereka sebut sebagai healing.
Fenomena ini bukan cuma soal olahraga atau hobi musiman. Mendaki gunung sudah bertransformasi menjadi pelarian masal. Entah sejak kapan, hutan belantara dan tanjakan terjal jadi lebih menarik daripada scrolling media sosial atau nongkrong di mall ber-AC. Istilah healing yang dulunya identik dengan ke salon atau staycation di hotel berbintang, kini bergeser ke arah yang lebih berkeringat: muncak.
Gen Z dan Estetika Gorpcore
Bagi anak-anak muda, khususnya Gen Z, naik gunung itu paket lengkap. Selain buat menjernihkan pikiran dari tumpukan tugas kuliah atau tekanan quarter-life crisis, gunung adalah panggung gaya hidup baru. Muncul istilah "Gorpcore", di mana jaket outdoor mahal dan sepatu trekking jadi fashion statement. Mereka nggak cuma cari pemandangan, tapi juga cari vibe.
Namun, jangan salah sangka dulu. Meski sering dicap cuma buat konten, banyak dari mereka yang memang benar-benar butuh "putus koneksi". Bayangin aja, seharian terpapar layar gadget dan notifikasi yang nggak ada habisnya, gunung menawarkan satu hal yang makin langka di kota: keheningan. Di atas sana, sinyal susah, dan satu-satunya yang perlu dipikirkan cuma "kapan sampai di pos selanjutnya" atau "siapa yang masak mi instan nanti malam". Kesederhanaan inilah yang bikin Gen Z jatuh cinta sama jalur pendakian.
Boomers dan Nostalgia yang Kembali Bersemi
Lalu, apa kabar dengan para Boomers dan Gen X? Mereka ini kelompok yang unik. Banyak dari mereka yang sebenarnya adalah "pendaki lama" yang sempat pensiun karena sibuk berkarier atau mengurus anak. Begitu anak-anak sudah besar dan finansial sudah stabil, jiwa petualang mereka bangkit lagi. Bedanya, kalau dulu naik gunung pakai tas karung goni atau sepatu bot seadanya, sekarang mereka adalah raja-raja perlengkapan bermerek.
Bagi generasi senior ini, mendaki adalah cara membuktikan bahwa "tua-tua keladi" itu nyata. Ada kebanggaan tersendiri saat mereka bisa menyalip anak muda yang ngos-ngosan di tanjakan setan. Selain itu, gunung jadi ajang reuni. Jangan kaget kalau melihat rombongan bapak-bapak atau ibu-ibu berseragam kaos yang sama, ketawa ketiwi sambil masak kopi di depan tenda. Bagi mereka, ini adalah cara merayakan hidup setelah puluhan tahun terjebak dalam rutinitas kerja yang monoton.
Dusta Paling Manis: "Lima Menit Lagi Sampai"
Ada satu hal yang menyatukan semua generasi ini di gunung: budaya berbohong secara sopan. Kita semua tahu kalimat legendaris, "Semangat, Kak! Di depan jalannya sudah landai," atau "Tenang, lima menit lagi sampai puncak." Padahal, kenyataannya puncak masih dua jam lagi dan tanjakan setelah itu malah makin tegak lurus.
Tapi anehnya, kebohongan-kebohongan kecil ini justru yang bikin suasana jadi hangat. Ada interaksi antar-pendaki yang nggak bakal kita temukan di trotoar Sudirman. Di gunung, semua orang jadi teman. Orang asing bisa tiba-tiba menawarkan cokelat atau sekadar menyapa "Mari, Mas" dengan tulus. Di tengah dunia yang makin individualis, keramahan di jalur pendakian ini jadi obat yang sangat mujarab buat jiwa yang kering.
Healing atau Malah Pening?
Tentu saja, nggak semuanya indah-indah saja. Membludaknya pendaki dari berbagai generasi ini membawa tantangan baru. Masalah sampah plastik masih jadi isu sensitif. Kadang miris melihat botol air mineral atau bungkus logistik berserakan di jalur pendakian. Belum lagi fenomena "pendaki dadakan" yang kurang persiapan fisik dan peralatan, yang akhirnya malah merepotkan tim SAR atau sesama pendaki lainnya.
Mendaki itu seharusnya menjadi cara kita menghargai alam, bukan sekadar menjadikannya latar belakang foto. Healing sejati itu ada pada prosesnya: rasa lelahnya, udara dingin yang menusuk tulang, sampai bau tanah basah setelah hujan. Kalau tujuannya cuma biar dibilang keren tapi nggak peduli sama kelestarian gunung, ya itu namanya bukan healing, tapi pindah tempat nyampah saja.
Kesimpulan: Gunung Sebagai Penyeimbang
Pada akhirnya, tren mendaki gunung yang digandrungi dari Gen Z sampai Boomers ini menunjukkan satu hal: kita semua butuh jeda. Kehidupan modern terlalu berisik dan cepat. Kita butuh tempat di mana waktu seolah berhenti, di mana masalah kantor terasa sangat kecil dibandingkan megahnya ciptaan Tuhan.
Mau kamu pakai outfit jutaan rupiah atau kaos oblong partai, selama kamu mendaki dengan hati dan tetap menjaga etika, gunung akan selalu memberikan hadiah yang sama: rasa damai. Jadi, kapan rencana muncak lagi? Jangan lupa, persiapkan fisik, bawa turun sampahmu, dan ingat, "lima menit lagi" itu biasanya bohong, tapi perjalanan menuju ke sana selalu sepadan.
Next News

Jalan Kaki Pakai Tongkat? Kenali Manfaat Luar Biasa Nordic Walking
in 32 minutes

Berkah Turnamen Sepak Bola bagi Para Pejuang Ekonomi Kecil
14 hours ago

Kenali Jenis Sepeda Sebelum Beli: Mana yang Cocok Buat Healing?
a month ago

Sering Tertukar! Ini Perbedaan Hiking dan Trekking yang Wajib Tahu
a month ago

Haus Usai Olahraga? Simak Beda Air Biasa dan Minuman Elektrolit
a month ago

Siap-Siap Mandi Keringat! Ini Alasan Kenapa Hyrox Menjadi Populer
a month ago

Jangan Paksa Lari Saat Lapar! Simak Tips Sarapan Simpel
a month ago

Haaland Menggila di New Jersey, Norwegia Amankan Tiket 32 Besar
2 months ago

Mengupas Beban Berat di Pundak Mohamed Salah untuk Mesir
2 months ago

Jangan Panik Saat Otot Kaku, Pahami DOMS Pasca Olahraga
2 months ago






