Ceritra
Ceritra Olahraga

Jangan Panik Saat Otot Kaku, Pahami DOMS Pasca Olahraga

Shannon - Friday, 19 June 2026 | 11:05 AM

Background
Jangan Panik Saat Otot Kaku, Pahami DOMS Pasca Olahraga
Ilustrasi pria mengalami DOMS (Delayed Onset Muscle Soreness) (powerbody.co.uk/)

Antara Siksa dan Nikmat: Merayakan DOMS, "Oleh-oleh" Wajib Setelah Nge-gym

Pernahkah Anda bangun tidur di pagi hari, mencoba untuk sekadar duduk di pinggir kasur, tapi tiba-tiba seluruh otot paha terasa seperti ditarik paksa oleh gravitasi bumi? Atau mungkin saat ingin menyisir rambut, lengan Anda mendadak mogok kerja dan rasanya berat sekali hanya untuk diangkat setinggi bahu? Selamat, kemungkinan besar Anda sedang dikunjungi oleh tamu agung bernama DOMS atau Delayed Onset Muscle Soreness.

Di kalangan anak muda urban yang baru saja memutuskan untuk "insyaf" dan beralih ke gaya hidup sehat, DOMS adalah semacam inisiasi. Kalau belum merasakan badan remuk setelah angkat beban, rasanya belum sah disebut sebagai anak gym. Fenomena ini unik, karena meski menyakitkan, banyak orang justru merayakannya. Ada kepuasan tersendiri saat kita meringis kesakitan ketika menuruni anak tangga sehari setelah sesi latihan kaki atau leg day yang brutal.

Apa Sih Sebenarnya DOMS Itu?

Secara teknis, DOMS bukanlah cedera serius. Ia adalah respons alami tubuh terhadap tekanan fisik yang tidak biasa. Bayangkan otot Anda seperti karet yang biasanya hanya ditarik santai, tiba-tiba dipaksa meregang dan menahan beban berkilo-kilo. Terjadi robekan-robekan mikroskopis di serat otot tersebut. Nah, rasa sakit yang muncul itu sebenarnya adalah proses peradangan saat tubuh sedang sibuk melakukan reparasi agar otot Anda tumbuh lebih kuat dari sebelumnya.

Berbeda dengan rasa sakit saat cedera yang biasanya langsung terasa nyut-nyutan seketika, DOMS punya selera humor yang agak gelap. Dia tidak datang langsung setelah Anda meletakkan barbel. Dia biasanya muncul 24 hingga 48 jam kemudian. Itulah kenapa namanya "delayed" atau tertunda. Anda mungkin merasa gagah perkasa setelah keluar dari tempat gym hari ini, tapi tunggu sampai lusa saat Anda mencoba memakai kaus kaki—di situlah drama sesungguhnya dimulai.

Ritual Anak Gym: Dari Outfit Aesthetic Hingga Konten Story

Zaman sekarang, pergi ke gym bukan sekadar soal angkat beban dan berkeringat. Ada ekosistem budaya yang terbentuk di sana. Mari kita jujur, motivasi sebagian orang (termasuk saya kadang-kadang) untuk mulai nge-gym seringkali diawali oleh keinginan untuk punya foto cermin yang keren dengan latar belakang rak dumbbell. Tren "gym haul" di TikTok atau Instagram membuat belanja baju olahraga yang dry-fit dan sepatu lari terbaru terasa lebih mendesak daripada latihan itu sendiri.

Namun, gaya hidup ini punya sisi positif yang besar. Di tengah gempuran tren "generasi jompo" yang punggungnya sering bunyi kretek saat bangun tidur, antusiasme untuk mendatangi tempat fitness adalah sebuah kemajuan. Gym menjadi pelarian dari kepenatan kerja nine-to-five di depan laptop. Meskipun saat di dalam, kita harus berjuang melawan rasa malas dan tatapan intimidatif dari para "suhu" yang badannya sudah menyerupai pahlawan super Marvel.

Lucunya, penderitaan akibat DOMS ini sering dijadikan konten. Kita pasti punya teman yang mengunggah foto kakinya yang gemetar setelah latihan, lengkap dengan tulisan "No Pain No Gain" atau "Leg day survived". Ini adalah bentuk validasi bahwa kita sudah bekerja keras. Rasa sakit itu menjadi bukti nyata yang bisa dirasakan (dan dipamerkan) bahwa kita tidak sekadar duduk santai di mesin gym sambil main HP.

Tipe-Tipe Manusia di Dalam Gym

Kalau Anda perhatikan, setiap tempat gym punya mikro-kosmosnya sendiri. Ada beberapa tipe manusia yang pasti Anda temui di sana:

  • Si Serius: Biasanya memakai singlet yang sudah bolong-bolong, tidak bawa HP, dan fokusnya hanya pada beban. Mereka biasanya tidak banyak bicara, tapi suara napasnya terdengar sampai ke parkiran.
  • Si Konten Kreator: Kelompok ini lebih sering sibuk mengatur tripod dan mencari lighting yang pas daripada melakukan set latihan. Bagi mereka, sudut pengambilan gambar lebih penting daripada teknik squat yang benar.
  • Si Tukang Ngobrol: Orang yang datang ke gym tapi 80 persen waktunya habis untuk berdiskusi soal protein, taktik diet, atau sekadar bergosip di dekat dispenser air. Gym bagi mereka adalah klub sosial.
  • Si Pemula yang Bingung: Biasanya berdiri diam di depan mesin yang rumit sambil membaca petunjuknya dengan wajah penuh teka-teki, sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali ke treadmill saja.

Apapun tipenya, semua orang di sana punya tujuan yang sama: menjadi versi diri yang lebih baik. Dan tentu saja, mereka semua akan berakhir di satu titik yang sama yaitu mengerang kesakitan karena DOMS di hari berikutnya.

Cara Berdamai dengan Rasa Sakit

Lalu, bagaimana cara mengatasi DOMS agar tidak terlalu menyiksa? Banyak mitos yang beredar, mulai dari mandi air es sampai minum suplemen ini-itu yang harganya menguras kantong. Namun, secara umum, cara terbaik untuk berdamai dengan rasa sakit ini adalah dengan istirahat yang cukup dan hidrasi yang maksimal. Jangan malah berhenti total. Gerakan ringan seperti jalan santai atau peregangan tipis-tipis justru membantu aliran darah membawa nutrisi ke otot yang sedang "patah hati" itu.

Pijat ringan juga bisa membantu, tapi pastikan bukan pijat urut yang terlalu keras karena bisa memperparah peradangan. Dan yang paling penting, jangan kapok. Kesalahan terbesar pemula adalah berhenti nge-gym hanya karena badan terasa sakit setelah latihan pertama. Padahal, jika rutin dilakukan, tubuh akan beradaptasi dan DOMS tidak akan separah di awal.

Kesimpulan: Sebuah Investasi Tubuh

Menjalani gaya hidup aktif di tempat gym memang menuntut komitmen yang tidak main-main. Ada biaya member yang harus dibayar, ada waktu yang dikorbankan, dan ada rasa sakit fisik yang harus dinikmati. Namun, jika dibandingkan dengan tagihan rumah sakit di masa tua atau rasa cepat lelah saat naik tangga di usia 30-an, investasi ini terasa sangat murah.

DOMS hanyalah bagian kecil dari perjalanan itu. Ia adalah pengingat bahwa tubuh kita hidup, bahwa otot kita sedang bertumbuh, dan bahwa kita memiliki kemauan untuk mendobrak batas kenyamanan diri sendiri. Jadi, besok kalau Anda merasa badan remuk setelah dari gym, tersenyumlah. Itu artinya Anda sedang berkembang. Jangan lupa posting di media sosial, siapa tahu bisa menginspirasi teman Anda yang masih rebahan untuk ikut merasakan nikmatnya siksaan DOMS ini.

Selamat berlatih, jangan lupa pemanasan, dan mari kita rayakan setiap rasa ngilu itu sebagai medali kehormatan bagi tubuh kita sendiri.

Logo Radio
🔴 Radio Live