Dari Tenis ke Padel Simak Tren Olahraga Paling Hits Sekarang
Zaza - Thursday, 17 September 2026 | 03:50 PM


Padel vs Tennis: Ketika Si Kakak yang Elegan Mulai Disalip Si Adik yang Hobi Nongkrong
Coba kalian jalan-jalan ke area olahraga populer di Jakarta atau kota besar lainnya di akhir pekan. Dulu, pemandangan orang pakai baju serba putih, pegang raket lebar, dan teriak-teriak ala Maria Sharapova di lapangan tenis adalah puncak dari gaya hidup sehat yang estetik. Tenis itu simbol. Ada aura prestise, disiplin, dan tentu saja, sedikit rasa "elitis" yang melekat. Tapi belakangan ini, ada pemandangan baru yang mulai menggeser dominasi si bola kuning tersebut. Namanya Padel. Dan jujur saja, Padel ini seperti anak baru di tongkrongan yang tiba-tiba jadi pusat perhatian cuma gara-gara dia lebih asyik diajak bercanda.
Banyak yang bilang tenis mulai tersingkirkan. Benar atau nggak, itu urusan data lapangan. Tapi kalau kita bicara soal vibes dan keriuhan di media sosial, Padel jelas lagi memimpin di depan. Fenomena ini menarik buat dibahas karena bukan cuma soal pindah cabang olahraga, tapi soal bagaimana cara orang urban mengonsumsi keringat di sela-sela kesibukan mereka yang katanya "burnout" itu.
Kenapa Tenis Mulai Terasa Berat?
Mari kita jujur-jujuran. Main tenis itu susah, kawan. Kalau kamu pemula dan baru pertama kali pegang raket tenis, probabilitas bola kamu nyangkut di net atau terbang melewati pagar pembatas itu sekitar 90 persen. Tenis butuh teknik yang presisi. Kamu harus belajar footwork, cara pegang grip yang benar, sampai timing yang kalau meleset dikit saja, bolanya lari ke parkiran motor. Belum lagi soal luas lapangan. Mengejar bola tenis di lapangan seluas itu sendirian (atau berdua) itu melelahkan luar biasa. Capeknya dapet, kerennya kadang nggak dapet karena bolanya nggak balik-balik.
Di sisi lain, dunia bergerak makin cepat. Orang sekarang pengen yang serba instan, termasuk urusan jago olahraga. Tenis itu butuh investasi waktu berbulan-bulan cuma buat sekadar bisa "reli" alias pukul-pukulan bola yang nggak mati-mati. Nah, di titik jenuh inilah Padel masuk menawarkan solusi yang lebih masuk akal buat kaum yang pengen sehat tapi ogah ribet.
Padel: Si Perusak Dominasi yang Ramah Pemula
Padel sering disebut sebagai perpaduan antara tenis dan squash. Lapangannya lebih kecil, dikelilingi dinding kaca, dan raketnya nggak pakai senar, melainkan bahan solid yang berlubang-lubang. Perbedaan paling mencolok? Di Padel, kalau bola lewat dari jangkauanmu tapi masih memantul ke dinding kaca, kamu masih bisa memukulnya balik. Ini adalah game changer.
Kenapa Padel bisa secepat itu menyingkirkan tenis dalam daftar pencarian "lapangan olahraga minggu ini"? Jawabannya adalah accessibility. Di Padel, orang yang baru pertama kali pegang raket pun bisa langsung merasakan serunya permainan. Nggak perlu kursus tiga bulan dulu buat bisa menikmati match. Padel itu sangat pemaaf. Kesalahan teknik nggak akan bikin permainan berhenti total. Itulah kenapa banyak orang yang tadinya merasa terintimidasi sama tenis, akhirnya malah betah "nongkrong" di lapangan Padel.
Faktor "Instagrammable" dan Komunitas
Kita nggak bisa menutup mata kalau olahraga zaman sekarang itu 50 persen soal kesehatan, dan 50 persen lagi soal konten. Padel punya estetika yang sangat modern. Lapangan dengan dinding kaca itu terlihat sangat futuristik di kamera. Belum lagi soal kedekatan antar pemain. Karena lapangannya lebih kecil, komunikasi antar pemain jadi lebih intens. Kamu bisa sambil gosip tipis-tipis atau bercanda tanpa harus teriak-teriak dari ujung ke ujung lapangan kayak di tenis.
Padel itu sangat social-centric. Biasanya dimainkan ganda (dua lawan dua), yang secara otomatis menciptakan komunitas kecil. Di Jakarta, tren ini meledak karena para influencer dan selebriti mulai beralih ke sini. Kalau sudah masuk ranah FOMO (Fear of Missing Out), anak muda mana yang nggak pengen nyoba? Alhasil, lapangan Padel tumbuh subur bak jamur di musim hujan, sementara beberapa lapangan tenis yang sudah tua dan kurang terawat mulai sepi peminat atau malah dikonversi jadi lapangan Padel.
Apakah Tenis Akan Benar-benar Hilang?
Tentu saja tidak. Tenis itu klasik. Tenis itu seperti musik jazz atau jam tangan mekanik; dia punya nilai sejarah dan tingkat kesulitan yang justru jadi daya tariknya. Para purist tenis mungkin akan melihat Padel sebagai olahraga "main-main" atau sekadar tren sesaat. Tapi kita harus mengakui kalau Padel sudah berhasil mendemokratisasi olahraga raket. Dia membawa orang-orang yang dulunya cuma rebahan buat mau gerak lagi.
Opiniku sih simpel: Padel nggak benar-benar membunuh tenis, tapi dia memberikan tamparan keras buat pengelola lapangan tenis supaya lebih inovatif. Sekarang, kalau mau tetap relevan, tenis nggak bisa cuma jualan lapangan semen yang panas. Mereka harus mulai membangun atmosfer yang lebih santai, mungkin dengan fasilitas kafe yang oke atau program buat pemula yang nggak kaku-kaku amat.
Kesimpulan: Pilih Keringat atau Gengsi?
Pada akhirnya, mau main tenis yang elegan atau Padel yang seru-seruan, yang paling penting adalah badan gerak. Tapi kalau kamu adalah tipe orang yang gampang menyerah saat belajar hal baru yang teknis, saran saya ya Padel saja dulu. Jangan dipaksain main tenis kalau ujung-ujungnya cuma foto pakai raket terus pulang karena pusing bolanya nggak kena-kena.
Padel memang lagi di atas angin, tapi tenis punya akar yang dalam. Mungkin ke depannya kita bakal melihat kedua olahraga ini hidup berdampingan. Si kakak yang serius dan si adik yang santai. Tapi untuk saat ini, harus diakui, Padel memang lagi jadi primadona di hati para pencari keringat akhir pekan. Jadi, sudah siap pesan lapangan buat minggu depan, atau masih mau berjuang di lapangan tenis yang luasnya minta ampun itu?
Next News

Joging: Self-Reward Paling Murah untuk Atasi Masalah Hidup
4 days ago

Bukan Sekadar Debu, Ini Bahaya Nyata Abu Vulkanik bagi Tubuh
8 days ago

Olahraga & Teknologi: Ketika Fitness Tracker Mengubah Cara Warga Surabaya Berolahraga
17 days ago

Perkembangan E-sports sebagai Industri Baru di Indonesia
18 days ago

Bye-Bye Perut Buncit! Tips Praktis Buat Kamu yang Malas Gerak
a month ago

Strategi dan Kecepatan, alasan Anggar Disebut Catur Fisik
a month ago

Ini Alasan Pilates Bagus Untuk Kesehatan Tulang
a month ago

Bye Tenis? Inilah Alasan Kenapa Semua Orang Kini Main Padel
a month ago

Trik Jitu Biar Berani Nyemplung Tanpa Takut Tenggelam di Kolam
a month ago

Jalan Kaki Pakai Tongkat? Kenali Manfaat Luar Biasa Nordic Walking
a month ago






