Ceritra
Ceritra Warga

Misteri Earworm: Kenapa Lagu yang Kita Benci Malah Susah Hilang?

Shannon - Friday, 19 June 2026 | 02:35 PM

Background
Misteri Earworm: Kenapa Lagu yang Kita Benci Malah Susah Hilang?
Ilustrasi telinga mendengarkan lagu (work2bewell.org/)

Kenapa Lagu Bisa Nyangkut di Kepala Kayak Mantan yang Susah Move On? Mengenal Fenomena Earworm

Bayangkan situasinya begini, lo lagi asyik-asyiknya fokus ngerjain deadline yang tinggal hitungan jam, atau mungkin lagi khusyuk boker di pagi hari yang tenang. Tiba-tiba, entah dari mana asalnya, ada potongan lirik lagu yang muncul tanpa diundang. "Cekat-cekut... cekat-cekut..." atau mungkin potongan lagu TikTok yang sebenernya lo benci banget tapi entah kenapa malah "mukim" di otak lo. Lo coba buat dengerin lagu lain, tapi begitu musik berhenti, si lagu "setan" itu balik lagi. Selamat, lo baru saja diserang oleh makhluk tak kasat mata bernama earworm.

Dalam bahasa yang lebih keren dan ilmiah, fenomena ini disebut Involuntary Musical Imagery atau INMI. Tapi ya, kita lebih akrab nyebutnya "ngiang-ngiang". Masalahnya, earworm ini seringkali nggak tahu diri. Dia nggak bakal milih lagu yang lo suka doang. Seringkali, justru lagu-lagu receh, jingle iklan makanan kucing, atau lagu anak-anak yang nadanya repetitif banget yang malah betah nongkrong di sirkuit otak lo berhari-hari.

Kenapa Otak Kita "Hobi" Ngulang Lagu?

Secara sains, otak manusia itu punya yang namanya phonological loop. Gampangnya, ini tuh semacam "tape recorder" internal di lobus temporal otak kita. Fungsinya sebenernya buat bantu kita mengingat informasi pendek, kayak nomor telepon atau alamat. Tapi ya gitu, sistem ini kadang-kadang nge-glitch. Saat kita dengerin lagu yang punya pola nada sederhana, repetitif, dan punya interval yang unik, otak kita bakal otomatis nyimpen itu di memori jangka pendek dan terus-terusan muter baliknya kayak kaset kusut.

Ada juga teori yang namanya Zeigarnik Effect. Teori ini bilang kalau otak manusia itu cenderung nggak tenang kalau ada sesuatu yang belum tuntas. Nah, biasanya earworm itu cuma potongan lagu, bukan satu lagu utuh dari awal sampai konser selesai. Karena otak lo cuma inget bagian reff-nya doang, dia bakal terus muterin bagian itu sebagai usaha buat "nyelesain" teka-teki musik tersebut. Ironis banget, kan? Niatnya mau beresin masalah, malah bikin kita stres sendiri.

Siapa Saja Korban Favorit Si Earworm?

Percaya nggak percaya, hampir 98 persen populasi manusia di bumi ini pernah ngalamin earworm. Tapi, ada beberapa orang yang emang lebih rentan. Orang-orang yang berkecimpung di dunia musik atau mereka yang punya sifat neurotik (sering cemas atau perfeksionis) biasanya lebih sering kena serangan ini. Kenapa? Karena otak mereka emang udah terlatih buat dengerin detail nada atau emang dasarnya "berisik" aja pikirannya.

Selain itu, pemicunya juga receh banget. Lo nggak harus dengerin lagunya secara langsung buat kena earworm. Kadang, cuma gara-gara lo liat kata tertentu yang ada di lirik lagu, atau lo lagi ngerasa emosi yang sama pas dengerin lagu itu sebulan yang lalu, si earworm bisa langsung aktif. Misalnya, lo lagi ngerasa sedih, tiba-tiba otak lo muter lagu galau zaman SMA yang padahal udah lama lo hapus dari playlist Spotify lo. Memang, otak kita tuh kadang se-toxic itu.

Gimana Cara Ngusir "Setan" Musik Ini?

Kalau lo udah mulai merasa terganggu, jangan khawatir. Ada beberapa cara yang bisa lo lakuin biar hidup lo balik tenang lagi tanpa gangguan lagu "Baby Shark" versi koplo. Berikut beberapa tipsnya:

  • Dengerin Lagunya Sampai Habis: Inget tadi soal Zeigarnik Effect? Cara paling ampuh buat bikin otak lo berhenti muterin potongan lagu adalah dengan dengerin lagu itu secara utuh. Dari intro sampai outro. Dengan begitu, otak lo bakal ngerasa tugasnya udah "selesai".
  • Cari Pengalihan yang Mikir: Earworm itu biasanya menyerang pas otak lo lagi di mode autopilot, kayak pas lagi nyapu atau mandi. Coba kasih otak lo tugas yang lebih berat, kayak main puzzle, ngerjain soal matematika (kalau lo sanggup), atau baca artikel panjang (kayak yang lagi lo lakuin sekarang).
  • Kunyah Permen Karet: Ini cara yang kedengerannya aneh tapi efektif secara ilmiah. Gerakan rahang saat mengunyah bisa "mengganggu" jalur motorik yang dipakai otak buat ngebayangin vokal atau lirik lagu. Intinya, mulut lo sibuk ngunyah, otak lo jadi lupa cara "nyanyi" di dalem hati.
  • Dengerin "Cure Song": Beberapa orang punya lagu penawar. Lagu yang stabil, nggak terlalu catchy tapi enak didengar, yang bisa "menghapus" jejak earworm sebelumnya. Tapi ya hati-hati, jangan sampai si lagu penawar ini malah jadi earworm baru. Itu namanya keluar dari lubang buaya masuk ke lubang dangdut.

Earworm Jadi Gangguan atau Hiburan Gratis?

Meski kadang bikin emosi, sebenernya earworm itu tanda kalau otak kita sehat dan berfungsi normal dalam memproses informasi auditif. Di tengah dunia yang makin bising sama konten audio-visual pendek kayak Reels atau TikTok, earworm jadi makin sering muncul. Durasi video yang cuma 15-30 detik itu emang didesain buat nyangkut di kepala kita. Itu strategi marketing, kawan!

Opini jujur gue sih, kadang earworm ini bisa jadi temen kalau kita lagi bosen. Pas lagi nunggu antrean panjang di puskesmas atau terjebak macet di jalur Puncak, dengerin "konser internal" di kepala bisa jadi hiburan gratis. Yang penting, jangan sampai lo keceplosan nyanyi kenceng-kenceng di tempat umum, apalagi kalau lagunya lagu yang membagongkan. Bisa-bisa lo disangka lagi dapet bisikan gaib.

Jadi, lagu apa yang lagi nyangkut di kepala lo sekarang? Kalau gue sih, dari tadi nulis ini malah kepikiran lagu jingle iklan obat masuk angin. Nasib, oh, nasib. Emang bener kata orang, musuh terbesar kita itu bukan orang lain, melainkan isi kepala kita sendiri yang suka muterin lagu random pas kita lagi mau serius.

Logo Radio
🔴 Radio Live