Sabung Ayam hingga Topeng Monyet, Hiburan yang Dibayar dengan Derita Hewan
Shannon - Thursday, 02 July 2026 | 05:00 PM


Menakar Luka di Balik Sorak-Sorai: Refleksi Ayam Sabung dan Topeng Monyet yang Bikin Hati Teriris
Kalau kita bicara soal kenangan masa kecil di gang-gang sempit atau di sudut desa yang masih asri, pasti ada beberapa suara ikonik yang nempel di kepala. Ada suara abang tukang bakso yang mukul mangkok, suara anak-anak main bola plastik, dan tentu saja, suara gemerincing lonceng dari rombongan topeng monyet. Atau mungkin bagi sebagian orang, suara riuh rendah bapak-bapak di belakang rumah yang lagi sibuk ngerawat ayam jagonya.
Dulu, kita melihat itu semua sebagai hiburan semata. Seru aja gitu melihat monyet pakai topeng boneka sambil naik sepeda mini, atau melihat dua ekor ayam jantan yang terlihat gagah saling pamer taji. Tapi seiring bertambahnya usia dan meluasnya sudut pandang kita tentang empati, ada rasa sedih yang mendalam yang tiba-tiba muncul kalau kita melihat fenomena itu lagi hari ini. Ternyata, di balik keriuhan itu, ada sisi gelap yang seringkali kita abaikan demi label "hiburan tradisional" atau "hobi laki-laki".
Sabung Ayam: Antara Gengsi, Judi, dan Nyawa yang Dipertaruhkan
Mari kita mulai dari dunia sabung ayam. Di banyak daerah di Indonesia, sabung ayam itu bukan sekadar hewan ternak. Mereka diperlakukan seperti atlet elit. Mandinya pakai air hangat, makannya dipilihkan yang paling bergizi, bahkan ada yang dikasih jamu-jamuan rahasia biar staminanya gila-gilaan. Secara visual, ayam jago ini memang cakep banget; bulunya mengkilap, badannya tegap, dan tatapannya tajam.
Tapi, ironinya muncul pas mereka dibawa ke arena. Di sana, semua perawatan istimewa itu ujung-ujungnya cuma buat satu hal: bertaruh nyawa. Di tengah lingkaran manusia yang berteriak-teriak sambil memegang lembaran uang taruhan, dua makhluk hidup ini dipaksa saling serang sampai salah satunya lunglai atau mati. Gengsi si pemilik ayam seringkali dianggap lebih tinggi nilainya daripada nyawa ayam itu sendiri.
Sejujurnya, agak miris kalau dipikir-pikir. Kita hidup di zaman di mana teknologi sudah sangat maju, tapi hiburan yang melibatkan darah dan luka masih punya tempat di hati masyarakat. Padahal, ayam-ayam itu nggak punya pilihan. Mereka nggak minta ditarungkan. Mereka cuma menjalankan insting yang kemudian dieksploitasi oleh manusia demi ego dan isi dompet. Bau darah dan debu di arena sabung ayam itu seolah menjadi pengingat bahwa kadang manusia bisa sangat kejam demi sebuah adrenalin sesaat.
Topeng Monyet: Senyum Sarimin yang Menyimpan Tangis
Pindah ke trotoar jalanan, kita pasti nggak asing dengan seruan "Sarimin pergi ke pasar!" yang diikuti oleh aksi si monyet membawa keranjang kecil. Dulu, pas masih kecil, kita mungkin bakal lari keluar rumah sambil bawa koin lima ratusan buat nonton aksi si monyet. Tapi sekarang? Melihat monyet yang lehernya diikat rantai besi tipis, dipaksa berdiri tegak dengan dua kaki yang sebenarnya bukan posisi alami mereka, rasanya hati ini kayak diremas-remas.
Proses latihan topeng monyet itu jauh dari kata manusiawi. Supaya bisa berdiri tegak dan melakukan trik, monyet-monyet malang ini seringkali disiksa selama berbulan-bulan. Mereka digantung dengan tangan terikat ke atas supaya otot kakinya terbiasa menahan beban. Belum lagi lingkungan tempat mereka tinggal yang biasanya kumuh dan jauh dari kata layak. Mereka adalah primata yang seharusnya bergelantungan di pohon, bukan malah pakai baju barongsai di bawah terik matahari demi beberapa keping uang receh.
Untungnya, di beberapa kota besar seperti Jakarta, topeng monyet sudah dilarang total. Tapi di daerah-daerah lain, praktik ini masih sering kita jumpai. Ada semacam kontradiksi yang aneh; kita tertawa melihat tingkah mereka, sementara si monyet mungkin sedang merasakan sakit luar biasa di lehernya akibat tarikan rantai yang tiba-tiba. Hiburan ini adalah bukti nyata bagaimana kemiskinan dan kurangnya edukasi membuat manusia tega menindas makhluk lain yang lebih lemah.
Kenapa Kita Harus Peduli?
Mungkin ada yang bilang, "Ah, itu kan cuma hewan, jangan baper deh." Tapi masalahnya bukan cuma soal hewan, ini soal kemanusiaan kita. Bagaimana kita memperlakukan makhluk yang tidak berdaya adalah cerminan dari seberapa beradabnya kita sebagai manusia. Kalau kita terbiasa melihat kekerasan terhadap hewan sebagai sesuatu yang lumrah, lama-lama empati kita terhadap sesama manusia pun bisa tumpul.
Rasa sedih yang muncul saat melihat ayam sabung yang bersimbah darah atau monyet yang ditarik rantainya adalah tanda bahwa nurani kita masih berfungsi. Kita nggak boleh menormalisasi penderitaan makhluk lain hanya karena alasan "tradisi". Tradisi itu seharusnya melestarikan nilai-nilai baik, bukan malah melestarikan kekejaman.
Zaman sudah berubah, dan definisi hiburan kita pun harus ikut berubah. Kita punya ribuan cara lain buat bersenang-senang tanpa harus menyakiti mahluk bernyawa. Menonton film, main game, atau sekadar nongkrong di kafe jauh lebih keren daripada berdiri di pinggir jalan menonton monyet yang sedang dieksploitasi habis-habisan.
Kesimpulan: Saatnya Move On dari Hiburan yang Menyakitkan
Pada akhirnya, fenomena ayam sabung dan topeng monyet adalah potret buram dari sisi lain masyarakat kita yang perlu terus diedukasi. Kita nggak perlu merasa sok suci, tapi kita perlu menyadari bahwa setiap mahluk hidup punya hak untuk hidup bebas dari rasa sakit dan ketakutan. Nostalgia masa kecil memang manis, tapi nggak semua yang ada di masa lalu itu layak untuk dipertahankan di masa sekarang.
Mari kita mulai dengan hal-hal kecil. Jangan lagi menonton atau memberi uang pada atraksi topeng monyet. Jangan jadikan sabung ayam sebagai ajang kumpul-kumpul yang dianggap wajar. Kalau kita berhenti menjadi penonton, industrinya perlahan-lahan bakal mati sendiri. Mari kita ciptakan lingkungan yang lebih ramah buat semua mahluk, supaya nggak ada lagi rasa sedih yang menyelinap di balik tawa dan sorak-sorai hiburan jalanan kita. Sudah saatnya kita lebih bijak dalam memilih apa yang layak disebut sebagai hiburan.
Next News

Dari Ornamen ke Minimalis, Apa yang Mengubah Tren Desain?
in an hour

Filosofi Tangga: Lebih dari Sekadar Penghubung Lantai
in 9 minutes

Bosan Menu Dada Ayam? Intip Variasi Protein Sehat Lainnya
6 hours ago

Panduan Lengkap Perawatan Rambut: Mana yang Wajib Kamu Punya?
8 hours ago

10 Barang Wajib di Kotak P3K Rumah Biar Darurat Gak Jadi Bencana
a day ago

Ubah Niat Jadi Aksi: Cara Berhenti Bergantung pada Orang Lain
a day ago

Cara Hadapi Notifikasi Kantor yang Muncul Sebelum Jam Kerja
a day ago

Masih Pakai Helm Karena Takut Razia, Yuk Simak Fakta Keamanannya
a day ago

Bosan Dengar Podcast? Lakukan Ini Saat Terjebak Macet Parah
a day ago

Beban Ekspektasi Orang Lain Bikin Capek? Ini Cara Menghadapinya
2 days ago






